Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Antologi puisi: Tiga Bicara Hujan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

3 Desember, Stasiun Palmerah

4 Desember 2022   19:54 Diperbarui: 4 Desember 2022   20:04 221
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Salah satu sudut Stasiun Palmerah/ Tribunnews.com

Aku menyeret usiaku lewat hp usang. Mengetuk pintu berharap bertemu sahabat

Bawa ini power bank, anakku memberi pesan. "Untuk nyawa cadangan," katanya. Ah, teknologi semakin asing. Tak punya tempat untuk orang yang gemetar di saat senja

Kota cepat sekali berubah. Jalan tol yang aneh: semakin diperlebar semakin macet. Lalu kota diletakkan dalam sekeping kartu, ke mana pun. Tempel kartu di sini!

Baca juga: Membaca Desember

Orang-orang, tidak ada yang kukenal. Wajah-wajah yang tertutup masker. Ditenggelamkan layar hp

Di kereta Commuter Line. Penumpang berdiri, penumpang duduk. Suara: Utamakan penyandang disabilitas, orang tua, dan wanita hamil

Bapak mau ke mana, bertanya seorang gadis di sampingku

Stasiun Palmerah!

***

Lebakwana, Desember 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun