Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Antologi puisi: Tiga Bicara Hujan

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Titik Tiga Netra Petrikor

14 Agustus 2022   06:27 Diperbarui: 14 Agustus 2022   07:00 222 47 13
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi. Foto Ri_Ya (Ri Burtov)/ Pixabay 

Ini mengenai puisi.

Bagaimana membaca, menyelami,  juga menafsirkan kedalaman diksi-diksi yang ditulis para penyair. Saya hanya ingin memposisikan sebagai penikmat puisi. Karena saya menyadari, bagaimana cara menulis puisi yang baik masih terbata-bata.

Pertama, titik tiga.

Baca juga: Tiga Bicara Hujan

Saya lihat pada puisi-puisi yang ditulis penyair pemula. Tak jarang dilakukan juga oleh yang terbiasa menulis puisi. Yang saya maksud adalah meletakkan titik tiga (elipsis) di akhir larik puisi. Bahkan ada puisi di akhir lariknya selalu ada titik tiga (...).

Misal:

Senja telah lesap ...
Impian pun padam menggelap ...

Apa maksudnya?

Diberi titik tiga atau tidak, akan sama saja artinya. Kalau dalam cerpen atau novel memang pengarang sering menggunakan elipsis itu. Biasanya dalam dialog, untuk menandakan kalimat itu  menggantung, ada kata yang "hilang".                              

Untuk puisi saya rasa tak perlu. Biar pembaca saja yang menginterpretasikan sesuai imajinasi yang ia pahami. Perlu diingat, puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang bebas. Ia sering  tak terikat aturan-aturan bahasa

Makanya pada puisi-puisi terkini tak ditemukan tanda berhenti (titik) di akhir kalimat. Bahkan ada puisi tak menyematkan tanda tanya (?) atau tanda seru (!), meskipun kalimatnya  mengisyaratkan tanya atau sebuah kalimat perintah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan