Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Kitab Ibu

19 Juli 2020   21:48 Diperbarui: 19 Juli 2020   21:43 79 39 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kitab Ibu
Ilustrasi. Foto oleh Mohan Reddy Atalu/ Pexels. 

Terserah engkau akan membuka di halaman berapa, selalu ada doa ibu untuk anak-anaknya, pada setiap bab, di sepanjang kalimat, dan terselip di lipatan kata, menderas, seperti mata air yang memancar di lekuk gunung di sela-sela batu cadas

Sebagaimana matahari yang tak pernah ingkar, begitu pula doa seorang  ibu selalu menguar, membaluri tubuh anak-anaknya hingga ujung usia, dengan harap, dengan cemas, diiringi ratap, diwarnai was-was

Rengkuh peluk yang menghangatkan, ketika anak menggigil demam menjalar ke seluruh badan 

Doa-doa itu juga yang menuntun keberanian, saat awal langkah di gerbang sekolah 

Menunjukkan arah, bagaimana agar tak tersesat jalan ke Barat, merenung tafakur saat duduk di Timur, menegakkan kepala ketika jatuh di Utara, dan penuh harapan berdiam di Selatan 

Juga mengajarkan cara memandang puncak ketinggian, yang selalu dimulai anak tangga terbawah, kadang tersandung di tengah, atau meluncur kembali ke awal langkah, dan hanya sedikit yang bisa menggapai langit impian 

Dan doa ibu tetap bergema pada kamar-kamar yang kosong, walau anak-anaknya sering lupa, asyik sendiri  dengan dunianya

Seribu kitab ibu tak kan pernah tamat, karena seorang ibu tetap menunggu dengan doa-doanya, walau ajal semakin dekat 

***

Cilegon, Juli 2020 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x