Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Nganu. Masih belajar

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Kembang Cinta untuk Dinni

26 Maret 2020   21:43 Diperbarui: 26 Maret 2020   21:49 225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi. Sumber: Pixabay.com.

Warkasa? Kurang ajar benar cowok satu ini. Cowok gondrong, anak teater ini, belakangan sering mengirim puisi ke Dinni. 

"Sebel!" ungkap Dinni. 

Aku cemburu. Cara Dinni mengungkapkan kata 'sebel'' itu, tak kelihatan pada wajahnya. Ia terlihat gembira. 

Ini tak dapat dibiarkan. Sekecil apa pun kemungkinannya ada cowok yang dekat dengan Dinni harus dicegah. Maka aku pun ikut-ikutan menulis puisi untuk Dinni, "... Kalau sampai waktuku, kumau tak seorang pun merayu..!" 

Dinni ngakak. "Ini kan puisinya Chairil Anwar? Udah, deh, kamu nggak usah nulis puisi. Nih lihat, puisi-puisi Warkasa. Puitis!" 

Hm, Warkasa! Hatiku panas. 

Akhirnya aku minta saran dengan Budi Susilo, playboy kawakan di kampus. 

"Cewek itu," kata Budi, "Biar kata dia cinta setengah mati dengan kita, tetap dia pengen cowok dulu yang mengungkapkannya,"  lanjut Budi lagi. 

Benar juga. Nggak salah kalau cewek-cewek di kampus banyak yang takluk dengan dia. 

Aku harus bergerak cepat. Jangan sampai cowok lain mendahuluinya. 

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun