Mohon tunggu...
Aulia Dwi R
Aulia Dwi R Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Almost is never enough.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Ibuku Kembali

22 Agustus 2020   16:56 Diperbarui: 22 Agustus 2020   16:52 150
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Orang-orang bilang, virus itu tidak pernah ada. Tapi sejak Maret, aku hanya bisa bertemu ibuku sekali dalam satu bulan. Pun itu hanya dalam jarak pandang yang terbatas; aku tak bisa merengkuhnya, aku tak bisa menyentuh pipinya, aku tak bisa memeluknya dan dia mengecup keningku. Semua yang terjadi di antara kami terbatas antara alat pelindung kesehatan yang dia kenakan dan batas-batas di ruang isolasi.

Tapi, mereka sibuk berkoar-koar. Seolah tahu, seolah yang paling paham; seolah mereka tidak akan pernah kehilangan siapa-siapa, atau tidak takut kehilangan siapa-siapa, seperti aku takut kehilangan ibuku setiap hari. Karena ibuku selalu bilang, "virus ini bersembunyi di baju berlapis yang dikenakan Ibu. Kamu harus bersiap kehilangan ibu kapan saja."

Dan, mana bisa, orang-orang itu berkata; virus itu tidak ada?

Di televisi, pasien-pasien positif dikabarkan setiap hari---tapi aku tidak pernah tahu, kenapa media tidak menjelaskan seperti yang dijelaskan ibuku? Media memberikan berita yang diinginkan masyarakat, tapi tidak yang dibutuhkan masyarakat. Karenanya aku muak menonton televisi, tiap sore aku hanya menunggu ibuku kembali; walau aku tahu aku hanya akan terlelap dan bangun keesokan harinya, dengan keadaan sendiri.

Di sosial media, orang-orang sibuk berdebat tentang bagaimana harusnya virus itu disikapi. Jaga jarak, tidak berkerumun, dan tidak-tidak yang lainnya. Tapi, satu orang dengan pengaruh, memberikan informasi palsu---memberikan rekayasa pemahaman, bahwa virus ini tidak semembahayakan yang ditakutkan orang-orang. Bahwa kita tidak perlu panik, bahwa kita tidak perlu memakai masker, bahwa kita tidak perlu menganggap wabah ini masalah yang serius. Tapi mereka tidak mengerti betapa pengap ibuku hidup setiap hari dibalik lapisan-lapisan baju dan masker yang selalu lebih dari satu. Mereka ringan dengan ketikan sementara ibuku bisa saja mati setiap harinya untuk menyelamatkan banyak kehidupan.

Sementara aku, masih menunggu ibuku kembali---di depan rumahku setiap hari---saat orang lain mulai beraktivitas seolah-olah virus itu tidak akan membuat mereka mati. Tak ada masker karena mereka takut wajah cantiknya tertutup, tak ada jaga jarak karena mereka merindukan teman maupun keluarga mereka. Dan aku, hanya bisa menunggu sambil mematuhi ibuku.

"Ibu pasti pulang," bulan lalu, begitu kata ibuku. Jadi aku tenang sebab ibu sendiri yang berjanji bahwa dia akan kembali.

Pernah saat warga internet sibuk mendebatkan konspirasi corona dan meragukan keberadaannya, ibu meneleponku dengan suara serak seperti habis menangis. Ibu hanya sesenggukan dalam panggilan itu dalam dua menit pertama panggilannya kuangkat.

Saat aku berbisik, "Bu?"

Aku bisa mendengar hela napasnya yang berat. Aku tahu ibuku lelah, tapi saat ini rasanya dia dua juta kali lebih lelah dari biasanya.

"Ada apa, Ibu?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun