Mohon tunggu...
Aulia Gurdi
Aulia Gurdi Mohon Tunggu...

spread wisdom through writing...

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Kasus Kecelakaan Anak di Rumah, Tanggung Jawab Siapa?

7 Januari 2012   16:45 Diperbarui: 25 Juni 2015   21:12 1608 4 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kasus Kecelakaan Anak di Rumah, Tanggung Jawab Siapa?
1325951497388166149

[caption id="attachment_162101" align="aligncenter" width="480" caption="rialeephotography.com"][/caption]

.

Mengasuh dan menjaga balita dirumah bukanlah persoalan ringan. Banyak kasus kecelakaan terjadi dalam  rumah sebagian besar  dialami anak. Kasus-kasus cedera ringan sampai cedera berat, bahkan yang  berujung kematian bagaikan fenomena gunung es. Sebagian besar terlaporkan sebagian lainnya menghilang dan menguap begitu saja tanpa adanya kejelasan penyelesaian.

Pada kenyataannya karena satu dan lain hal, sebagian kita dibenturkan pada dilema tak bisa mengurus dan menjaga sendiri buah hati kita. Sebagian besar benturan itu karena faktor pekerjaanatau karir sang ibu yang harus memback-up suami secara  finansial. Maka asisten rumah tangga adalah solusi.  Mereka bisa  datang dari keluarga  terdekat seperti ibu, nenek,  saudara kandung,  atau pilihan terakhir  adalah mencari pengasuh seperti baby sitter.

Namun kecelakaan anak dirumah bisa saja terjadi pada siapapun orang dewasa yang mengasuh. Entah itu ibu, kakak, adik, ataupun pengasuh. Umumnya muaranya adalah faktor kelalaian.

Banyak orang tua tidak  sadar kelalaian yang  mengakibatkan kematian ini dapat membawa sesorang diseret ke ranah hukum. Namun budaya pemakluman masih sangat kental di Indonesia.Hingga kasus-kasus seperti ini sering diselesaikan secara kekeluargaan saja.

Padahal di Amerika, orang tua yang karena kelalaiannya menyebabkan anak-anak cedera, cacat atau  bahkan meninggal dunia karena kecelakaan didalam rumah, akan dituntut District Attorney atau jaksa penuntut umum. Tentu saja dengan pasal kelalaian orang tua yang menyebabkan anaknya cedera  atau  meninggal dunia.

Seperti yang terjadi pada sahabat ibu saya, beberapa tahun silam. Sebut saja ibu Sari. Ia kehilangan anaknya yang berusia 8 bulan akibat tercebur kedalam kolam lele dirumahnya, yang berkedalaman kurang lebih 1.5 meter. Saat itu sang ibu bekerja dan ia dijaga oleh pengasuhnya. Keruhnya air kolam lele,  menyebabkan jasad bayi tak  cepat  terlihat.  Dan tak menunggu lama sibayipun meregang nyawa. Tragis. Hingga membuat sang ibu shock dan depresi berkepanjangan sampai harus menjadi pelanggan psikater.

Kasus kedua terjadi pada anak sepupu saya, 14 tahun silam, Sebut saja namanya Doni. Doni kini menjadi seorang  anak yang cacat mental dan tuna rungu.  Kejadian bermula saat  ia bermain bersama temannya yang kebetulan sangat hiperaktif .  Mereka bermain dirumah atas penjagaan ibu Doni. Saat lengah, si anak hiperaktif bercanda keras dengan memukulkan stik kayu kearah kepala Doni. Saat itu kepalanya bocor dan dibawa ke  rumah sakit  terdekat. Siapa sangka setelah itu kemampuan motorik dan kecerdasannya menjadi sangat lambat  bahkan menurun. Kini diusia 14  tahun kemampuan berpikir Doni mundur 3 tahun dari usianya. Awalnya ia masih dimasukkan ke sekolah SLB. Belakangan ia tak mampu lagi mengikuti pelajaran sekolah karena keterbatasan pemahamannya. Akhirnya kini ia tak lagi bersekolah. Doni cacat seumur hidupnya akibat brain damage yang dialaminya.

Kasus ketiga terjadi pada kakak seorang sahabat saya. Sebut saja Andi. Diusia setahun ia terjatuh dari gendongan pengasuhnya. Hingga menyebabkan kerusakan pada syarafnya. Seperti Doni, proses tumbuh kembang Andipun melambat bahkan sangat mundur. Ia hanya mampu tersenyum tanpa mampu berucap dan sangat sulit menggerakan anggota badannya. Iapun sering mengalami kejang demam (step). Hingga membuat kondisi fisiknya menurun drastis. Diusia 4 tahun,  akhirnya Andi meninggal dunia. Seperti ibu yang lainnya. Rasa bersalah  dan depresi dialami ibu Andi. Apalagi bila ia terus mengingat kematian anaknya. Meski kematian adalah takdir.

Kasus terakhir menimpa pasangan suami istri yang merupakan teman sahabat saya. Mereka kehilangan anak perempuan mereka sebut saja Angel. Pada usia kurang lebih 3 tahun, orangtua Angel mengadakan pesta dirumah besar mereka yang difasilitasi kolam renang. Suasana dan kesibukan orang tua menerima tamu-tamu membuat mereka lalai memperhatikan Angel.  Angelpun tercebur kedalam kolam renang milik mereka. Dan nyawanya tak tertolong.  Ironisnya saling menyalahkan terjadi antara suami dan istri, hingga menyisakan konflik berkepanjangan. Akhirnya pasutri  itupun bercerai.

Semua kejadian diatas cukuplah menjadi pelajaran bagi siapapun. Bahwa merawat balita adalah wajib siaga setiap  saat. Kebanyakan orang tak menyadari bayi bisa bergerak sangat cepat. Rasa ingin tahu mereka membuat mereka menjelajah kemanapun yang mereka inginkan tanpa mengerti efek bahaya sama sekali. Hingga lengah sebentar saja akan fatal akibatnya.

Sangat tidak fair menyalahkan salah satu pihak saja. Karena sesungguhnya anak adalah tanggung jawab  bersama suami istri. Meski harus  memutuskan mengestafetkan pengawasan pada  pengasuh. Tetap saja kendali tanggung jawab  ada pada ayah dan ibu.

Adalah bijak sekalipun harus diawasi pengasuh, ibu tetap mengontrol kerja pengasuh melalui telpon. Kecanggihan teknologi sangat memungkinkan itu semua. Bahkan bagi yang berkelebihan rizki,  bisa memasang CCTV yang terhubung online ke perangkat komputer  kita. Semua untuk memastikan anak kita  dijaga dengan  baik.  Setidaknya kita bisa meminimalisir hal buruk terjadi.

. Semoga anda waspada selalu . .

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x