Mohon tunggu...
Asmuddin
Asmuddin Mohon Tunggu... lainnya -

www.asmuddin.blogspot.com Belajar Menulis "Jika tidak bisa turun ke jalan, melawanlah dengan TULISAN"

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Dugaan Subversif dalam Sebatang Cabai

13 Desember 2016   12:37 Diperbarui: 13 Desember 2016   12:58 705
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Cabai tiba-tiba kembali menjadi pusat pemberitaan media, bukan karena harganya yang akan semakin naik menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, atau rasa pedasnya yang sudah mulai memudar. Kasus penemuan 5.000 tanaman cabai berbakteri di hamparan seuas 4.000 meter persegi yang dilakukan oleh warga negara asing dari China adalah pemicunya. Bersama tanaman tersebut, juga diamankan benih cabai serta tanaman hortikultura lainnya yang kesemuanya mengandung bakteri berbahaya dan didatangkan secara ilegal. Selain benihnya yang ilegal, para WNA asal China tersebut juga melakukan kegiatan usaha tani secara ilegal pula.

Kasus penemuan WNA yang bertanam cabai ini menjadi perhatian tidak hanya oleh pihak imigrasi dan Kementerian Pertanian. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah memilih kata "Perang Biokimia" untuk merespon kejadian ini  yang tentunya akan sangat membahayakan kedaulatan negara. 

"Harus ada investigasi, sebab akan menjadi perang biokimia. Ini sangat berbahaya, penyelundupan barang-barang pertanian. Pusat karantina harus membuat laporan dan juga Kementan, ini kasus seperti apa, sengaja atau tidak sengaja," ujar Fahri Hamzah di gedung parlemen, Jakarta, Kamis (8/12/2016). ... Karena ini bisa diduga mengarah perang biokimia pihak Kementrian Pertahanan juga harus terlibat karena dapat membahayakan jiwa rakyat (Sumber : Suara News). 

Berdasarkan penjelasan Kepala Pusat Balai Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati, kasus temuan cabai berbakteri yang ditanam secara ilegal oleh petani ilegal memang bisa sangat membahayakan, bakteri erwina chrysanthemi yang terdapat pada cabai tersebut adalah jenis bakteri baru yang belum pernah ada di Indonesia dan belum bisa diberikan perlakuan apapun terhadap tanaman yang terindikasi.

Meskipun merupakan golongan bakteri baru di Indonesia, tapi kerusakan yang ditimbulkan oleh bakteri erwina chrysanthemi sudah dapat diprediksi, bakteri ini dapat menimbulkan kerusakan atau kegagalan panen cabai sekitar 70%. Dapat dibayangkan, ketika bakteri ini menginfeksi tanaman cabai secara luas diseluruh Indonesia, maka dapat dipastikan bahwa kita akan diperhadapkan pada persoalan pangan, khususnya masalah kelangkaan komoditas cabai. 

Di sisi yang lain, cabai sudah menjadi komoditi strategis, dan merupakan  kebutuhan  yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sekitar 200 an juta masyarakat Indonesia. Jika dihitung dari aspek potensi kerugian negara, mengacu pada data BPS, 2014, produksi cabai nasional sebesar 1,075 juta ton dan estimasi harga cabai hari ini Rp60.000, jadi potensi kerugian ekonomi produksi cabai dapat mencapai Rp45,1 triliun (sumber : Bahaya Cabai Berbakteri). Belum lagi dampak lanjutan yang bisa ditimbulkan jika bakteri ini menular ke tanaman hortikultura lainnya seperti kentang, bawang, tomat, kubis, sawi, dan lainnya.

Persoalan cabai berbakteri ini menjadi lebih seru dan "ngeri-ngeri sedap" ketika dikaitkan dengan isu yang sangat sensitif yaitu "Subversif". Adalah  Prof. Yusril Ihza Mahendra yang mengemukakan tesis tersebut. Kasus WNA ilegal yang bertani cabai secara ilegal tidak bisa dilihat dari sudut pandang persoalan administrasi semata. Dalam kaca mata pakar hukum tata negara ini, aktifitas usaha tani warga negara China tersebut sudah masuk kegiatan yang bertujuan untuk meruntuhkan ekonomi suatu negara, ini dapat mengancam kedaulatan pangan nasional. Dalam bahasa politik, kegiatan dapat dilakukan sebagai sebuah infiltrasi atau subversi untuk meruntuhkan ekonomi sebuah negara (sumber : WNA China tanam cabai).

Tesis "Subversif" meskipun tentunya baru sebatas dugaan, tapi layak untuk dikedepankan dan  harus tetap diselidiki apa motif yang menjadi latar belakang kehadiran dan aktifitas WNA China. Ketika kita hanya melihatnya secara sederhana dari aspek aktiftas yang mereka lakukan, sebagian orang awam akan menyimpulkan bahwa "tidak ada persoalan" di dalamnya. 

Namun jika ditelisik lebih jauh, termasuk meneropong secara mendalam background kehadiran para WNI  yang melakukan aktifitas secara ilegal, kemudian membaca aktifitas usaha taninya secara lebih jauh (menanam komoditas yang mengandung barang berbahaya), seperti yang disampaikan Prof. Yusril : "ini pasti bukan petani biasa", jika melihat polanya, dugaan bahwa mereka telah dipersiapkan secara rapi untuk melakukan penyusupan bisa jadi benar adanya. Apalagi kasus ini tidak bisa dibaca secara terpisah dengan kejadian-kejadian sebelumnya yang juga melibatkan WNA dengan asal negara yang sama dengan para petani cabai ilegal tersebut. Misalnya : serbuan para TKA ilegal dari China, maraknya penyelendupan Narkoba yang juga kebanyakan berasal dari China. Jadi dugaan "subversif" layak untuk dijadikan sebagai dugaan pintu masuk menyelidiki kasus ini secara mendalam.

Ini adalah "perang pangan" yang bertujuan untuk melemahkan ketahanan pangan nasional, awalnya memang cabai, yang kemudian akan menjalar pada komoditas lainnya. Secara jangka panjang tentunya akan berdampak pada melemahnya "kedaulatan pangan" dan akibat terburuknya adalah melemahnya "kedaulatan negara". 

Sejarah pergantian kekuasaan di Indonesia (tahun 1965 dan 1998) juga tidak terlepas dari persoalan pangan, bahkan jauh sebelumnya, perebutan kekuasaan raja-raja di Nusantara juga terkadang menjadikan pemutusan distribusi pangan sebagai strategi. Belanda dan Jepang pun menjadikan pangan (terkait ketersediaanya) sebagai instrumen untuk melanggengkan kekuasaannya di bumi Nusantara. Sekali lagi tesis "subversif" seperti tesis Prof. Yusril tidak bisa diabaikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun