Mohon tunggu...
Muhammad Azry Zulfiqar
Muhammad Azry Zulfiqar Mohon Tunggu... Independent Writer

Coffee, Fee, Fee muhammadazry34@gmail.com Blog: https://horotero.wordpress.com/ Bekerja dan mencuri waktu berselingkuh dengan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Seandainya Perpisahan Bisa Dideteksi dari Awal

30 November 2020   13:32 Diperbarui: 30 November 2020   13:35 35 6 0 Mohon Tunggu...

Minggu kemarin, secara tiba-tiba seseorang menghilang. Bukan penculikan, tetapi lebih kepada "penghilangan" diri. Nomor teleponnya aktif dan tak ada jawaban chat atau apapun respon yang meyakinkan. Tentu sangat shock seakan bingung, heran dan kesal mengapa ini terjadi tiba-tiba? Tapi tak cukup waktu dan sempat menjawab pertanyaan diri sendiri itu. Hati dan akal bekerja sama untuk membuat panik hari itu.

Dihari Sabtu yang seharusnya menyenangkan namun sebaliknya. Di pagi hari, tidak ada seruput kopi, jogging, makan makanan kesukaan dan rutinitas seakan tidak dikenal. Entah tak bernafsu atau karena suasana memuakkan yang menyerang hari itu. Semalam terakhir berkomunikasi karena masih terlihat normal dan masalah seperti tak kasat mata. Sehingga malam itu badanku tidur nyenyak sekali sampai pagi muncul menyapa semua penduduk. Hari ini nampak tidak normal seperti biasanya. Banyak tawa dirumah, saat bersama teman namun hanya kubalas dengan respon bahagia palsu yang sebenarnya tidak baik. 

Kenapa? Jelas diri ini terpaksa membohongi situasi dan lingkungan sekitar. Hanya ingin terlihat baik, bukan baik karena memang diri ini sangat pintar untuk menyembunyikan kemurungan, kesedihan dan ketidakbiasaan. Ekspresi wajah siap dipasang namun jiwa dan raga tak akan bisa. Bukan ingin sok baik-baik saja tetapi hanya ingin tidak merepotkan semuanya dan sedang tidak ingin di gali sampai kedalam. Karena jiwa ini sedang tidak berdasar alias bolong yang sangat parah.

Berkali-kali jari ini menekan layar ponsel berharap suara dan susunan kalimat menyambut dari sana. Beginilah sulitnya LDR yang sangat bergantung kepada teknologi. Resiko terganggu dan terlalu bergantung pada alat komunikasi memang pasti tidak sesempurna interaksi secara langsung. Tertawa bersama secara langsung pasti lebih baik daripada ketikan kalimat "Hahaha" bukan? Jika sedang berkonflik lebih bagus diselesaikan dengan berbicara tatap muka daripada hanya sekedar suara dari balik speaker telepon bukan? bahkan merapikan gulungan headsetnya juga sangat menyusahkan.

Ketika kekhawatiran tumbuh diatas rata-rata karena faktor lokasi maka tidak hanya rasa  khawatir saja yang mencekik, namun rasa buruk sangka juga siap mencekik leher ini. Setelah satu hari tercekik berbagai rasa, lanjut kepada hari kedua dan semakin berlanjut ke hari ke tiga dan sampailah pada hari keempat, tulisannnya muncul di layar ponsel. Sebuah pesan chat yang diketik rapi sesuai alur dan panjang bernafaskan perasaan.

Inti dari pesan yang datang tiba-tiba itu pun mempunyai beberapa poin kesimpulan. Namun kesimpulannya Ia memilih pergi dan berpisah! sungguh bagaikan ditampar kata-kata darinya. Di kala diri ini sedang mencari, tiba-tiba Ia menunjukkan diri dan pergi begitu saja. Sungguh hal yang aneh bahkan tidak pernah terfikir. Dari sini, terbukti sudah bahwa semua orang bisa berubah dan kalimat "ada pertemuan ada perpisahan" itu benar-benar ada. Hanya saja perpisahan yang sebenarnya adalah kematian.

Ia menceritakan betapa sudah tidak bisa melanjutkan cerita ini. Ia juga mengatakan bahwa ada hal yang mungkin kurang disukai. Namun bukankah memberi kesempatan orang untuk berubah itu harusnya manusiawi? lagipula tak ada pengkhianatan dan kesalahan yang sangat besar. Entahlah, mungkin semua orang memang tidak ditakdirkan bersama dan setidaknya Ia juga mendoakan yang terbaik. Bagaimana dengan perasaan? halo hati? apa kabar? sepertinya sedang tidak baik-baik saja bukan? jelas! karena diriku bisa merasakan denyutnya dan suramnya. Bagaimana pohon yang sedang tumbuh tercabut dengan paksa yang otomatis Ia akan dalam bentuk yang hancur dan patah. Namun setidaknya, batang-batang dan tunas baru akan tumbuh walaupun menyisakan patahan.

Kenapa perpisahan tidak bisa terdeteksi? Jika begini sia-sia bukan? Ia menjawab tidak akan sia-sia dan meminta diri ini untuk menjadikannya pelajaran. Tapi seharusnya Dia yang juga butuh belajar memberikan kesempatan. Baik, semua orang harus masing-masing belajar dalam memaknai perpisahan. Andai waktu bisa dimundurkan 2 tahun yang lalu mungkin Aku memilih dirinya untuk menjadi teman saja tanpa harus ada perpisahan yang membuat situasi ini berubah. Aku dan Dia sekarang dalam posisi yang canggung nan bingung. Wajahnya masih menghiasi galeri ponsel serta media sosial. Mungkin perpisahan memberikan Kita sedikit luka tetapi memberikan Kita juga banyak pelajaran.

Seandainya perpisahan bisa terlihat seperti lampu indikator maka kesedihan tak akan sebanyak ini. Diri ini tidak menyalahkan perpisahan dan menyesal namun tetap saja pada dasarnya semua orang menangis, sedih, marah, kesal dan trauma dengan perpisahan. Satu kata yang mungkin tidak akan terucap pada masa-masa bersama adalah perpisahan. Tetapi setelah mengalaminya, kata perpisahan mengeroyok jiwa yang sedang lemah ii ketika sedang dalam masa penyembuhan dan membuat kisah kembali.

Ketika sudah bersama orang lain dan menjalani cerita baru, Kita pasti berjanji "jangan ada perpisahan ya" seperti itu kira-kira. Karena diri ini tidak ingin kenal bahkan mendengar satu kata tersebut. Setidaknya, jika tidak yakin maka cerita dan ungkapkan perpisahan dari awal, bukan ditengah-tengah sewaktu Kita sedang membangun cerita karena sulit menghancurkan cerita dan menatanya lagi. Benarkah? Ya, karena Aku mengalaminya. Cinta benar-benar tidak semuanya baik untuk Kita semua.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x