Mohon tunggu...
Abahna Gibran
Abahna Gibran Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis dan Pembaca

Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis (Mahbub Djunaedi Quotes)

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Menyoal Illegal Fishing yang Marak Kembali, Jokowi Dituntut Evaluasi Menteri

30 Desember 2019   22:05 Diperbarui: 30 Desember 2019   22:09 344
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kapal asing pencuri ikan (Sumber: Kompas.com)

Sepertinya Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, bukanlah tipe pekerja di lapangan. Selama ini yang bersangkutan lebih banyak mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial. Sehingga hanya mengundang polemik, dan resikonya tak henti mendapat kritikan dari publik.

Tempo hari, Edhy melemparkan wacana ekspor bibit lobster. Karena bakal mendatangkan keuntungan besar, ketimbang membiarkan praktik penyeludupan yang selama ini justru merugikan. Begitu argumentasinya politisi partai Gerindra yang ditabalkan Presiden Jokowi sebagai pengganti SusiPudjiastuti.

Sontak Susi pun menolak. Argumentasinya pun begitu tepat. Selain karena lingkungan tempat berkembang biak habitat lobster akan terancam rusak, tidak menutup kemungkinan ke depannya posisi Indonesia sebagai pengekspor akan berbalik seratus delapan puluh derajat. Indonesia malah akan mengimpor lobster dari Vietnam. Karena kalau dieksploitasi tiada henti, tidak menutup kemungkinan lobster di perairan Indonesia akan menghilang.

Awalnya Edhy keukeuh dengan sikapnya. Hanya saja setelah yang bersangkutan pergi meninjau ke lokasi pembenihan lobster di Nusa Tenggara Barat, tampaknya muncul keraguan dengan yang semula akan dijadikan program unggulannya itu.

Maka publik pun mulai mengendus kinerja Edhy yang sesungguhnya. Lebih banyak merangkai kata-kata di belakang meja, daripada bekerja secara nyata sebagaimana Menteri Kelautan dan Perikanan yang digantikannya.

Demikian juga halnya dengan kembali maraknya pencurian ikan di perairan Natuna baru-baru ini. Sikap Edhy bukannya langsung terjun ke lapangan untuk melakukan inspeksi, dan langsung berkoordinasi dengan pihak aparat.

Memang Edhy, sebagaimana diakuinya, sudah berkoodinasi, bahkan sudah lama melakukan "operasi senyap" dengan masalah tersebut. Tapi hal itu dianggap publik sekedar basa-basi belaka. Selain bicaranya cukup hanya di Jakarta saja, publik juga tidak melihat di lapangan ada buktinya sama sekali. Dengan menangkapi kapal-kapal pencuri ikan itu tentunya.

Oleh karena itu sudah sewajarnya Edhy harus menerima banyak kritikan dari publik. Lantaran kalau hanya banyak merangkai kata-kata, sampai kapan pun tak akan bisa menyelesaikan persoalannya.

Argumentasi Edhy terkait "operasi senyap" dianggap sesuatu yang tidak masuk akal. Karena publik pun menganggap pencurian ikan tidaklah sama dengan penyelundupan narkoba misalnya.

Pencurian ikan itu dilakukan dengan kasat mata disaksikan banyak nelayan setempat. Viralnya video pencurian ikan di jagat maya, merupakan bukti yang sulit untuk disangkal. Sehingga sudah seharusnya pihak Kemeterian terjun langsung bersama seluruh aparat untuk mengamankannya.

Padahal, Edhy sendiri di awal bekerja sebagai menteri, sudah brjanji akan menindak tegas pelaku illegal fishing tersebut. Tapi buktinya janji Edhy hanyalah tinggal janji. Pencurian ikan di perairan Indonesia tidak hanya terjadi di laut Bangka saja. Sekarang ini pun, pencurian ikan yang terjadi di perairan Natuna tidak ada realisasi dari janjinya itu sama sekali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun