Mohon tunggu...
Adjat R. Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Mohon Tunggu... Penulis

Orang biasa. Tinggal di desa. Masih sedang belajar mengeja aksara.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Segelas Kopi, Sebungkus Rokok, dan Sebuah Tulisan

20 November 2012   01:58 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:02 869 0 0 Mohon Tunggu...

UNTUK menghasilkan sebuah tulisan, artikel atau cerpen, bagi temanku yang satu ini mestilah tersedia sebungkus rokok kretek kesukaannya, plus segelas kopi hitam yang kental. Malahan akunya sudah menjadi sesuatu yang wajib tersedia hukumnya. Dan itu sudah merupakan suatu kewajiban bagi istrinya untuk menyediakan yang dibutuhkan temanku itu.

‘Kalau tidak ada rokok dan kopi, berarti kamu tidak bisa menulis?” tanyaku suatu ketika.

“Ya. Tidak ada segelas kopi dan sebungkus rokok memang tidak akan ada tulisan yang dapat kubuat,” sahutnya.

“Bagaimana seandainya hanya ada sebungkus rokok saja, dan kopinya tidak ada. Karena persediaan di rumah sudah habis misalnya?”

“Satu dari dua kebutuhanku itu tidak ada, tetap saja kegiatanku untuk menulis tidak bakalan jalan. Jadi keduanya tetap harus tersedia kalau mau menghasilkan sebuah tulisan.”

“Jadi kalau dalam sehari kamu dapat menghasilkan sepuluh tulisan, itu artinya harus tersedia sepuluh bungkus rokok dan sepuluh gelas kopi?”

“Begitulah...” sahutnya sambil tertawa memperlihatkan giginya yang kehitam-hitaman.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawabannya itu. Satu hari dia menghabiskan 12 batang rokok  kali 10 bungkus, ditambah sepuluh gelas kopi. Gila.  Benar-benar gila temanku ini.

“Tapi sampai sekarang aku belum pernah sampai menghasilkan tulisan sebanyak itu, dalam tempo satu hari paling banyak hanya tiga naskah saja,”katanya seperti tahu yang sedang kupikirkan saat itu.

“Apa kamu tahu akibat dari terlalu banyak merokok dan minum kopi dengan kesehatanmu?”

“Seperti yang tertulis di bungkusnya itu?” dia malah balik bertanya.

“Ya. Bukankah merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin?” sahutku mengutip tulisan yang biasa tertera di bungkus rokok.

Dia membisu. Matanya menerawang ke atas langit-langit kamar kerjanya. Selang beberapa saat kemudian,

“Aku sadar. Memang betul merokok tidak baik untuk kesehatan. Ketika aku sedang menulis, aku sering terganggu dengan batuk-batuk. Juga sering buang air kecil. Malahan belakangan ini kalau sudah banyak merokok, aku sering merasa dadaku sakit. Seperti ditindih beban yang berat. Sehingga sulit untuk bernafas,” katanya terengah-engah.

“Tuh ‘kan?!”

“Iya. Tapi kalau merokok dan mimum kopi aku hentikan, artinya aku tidak dapat menafkahi keluarga...”

“Maksudmu kamu tidak akan dapat menulis kalau tanpa rokok dan kopi?”

Dia mengangguk.

“Rasanya terlalu naif kreatifitas yang begitu tinggi hanya bergantung pada rokok dan kopi. Sebetulnya ketergantungan terhadap hal yang justru malah merusak tubuhmu, kebiasaan buruk itu, dapat dihilangkan asal ada niat dan kemauan yang kuat saja untuk menghilangkan.”

“Coba pikirkan olehmu. Kebiasaan buruk itu lambat-laun akan merusak kesehatan tubuhmu. Tidak menutup kemungkinan, belum lagi kamu jadi seorang penulis hebat, tiba-tiba karena sakit-sakitan ahirnya kamu mati. Sedangkan anak dan istrimu masih membutuhkanmu. Apalagi anak-anakmu masih kecil-kecil...”

Dia kembali terdiam. Wajahnya menengadah ke atas langit-langit kamar.

“Jadi aku harus bagaimana?”

“Ya, itu tadi. Menghentikan kebiasaan buruk itu. Total. Enyahkan. Coba ganti kebiasaan itu dengan yang lain. Kopi diganti dengan segelas air putih, misalnya. Dan rokok diganti dengan camilan...”

“Kira-kira bisa atau tidak ya?”

“Pasti bisa! Aku percaya, kamu pasti bisa. Karena kamu masih mencintai istri dan anakmu...” sahutku mantap. ***

Gegerbeas, 20/11/2012

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x