Mohon tunggu...
Arjuna H T M
Arjuna H T M Mohon Tunggu... Jurnalis - Mahasiswa

"Merasa sakit ketika masa perjuangan itu hanya sementara. Ketika memutuskan untuk menyerah, rasa sakit itu akan terasa selamanya"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Penusukan Wiranto: Antara Fakta, Opini, dan Narasi

12 Oktober 2019   13:11 Diperbarui: 12 Oktober 2019   13:49 329
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Oleh : Nasrudin Joha

Peristiwa penusukan Wiranto itu merupakan satu fakta, pelaku dikaitkan dengan ISIS dan JAD itu opini, sementara Jokowi mengajak segenap elemen anak bangsa untuk memerangi radikalisme dan terorisme itu narasi. Saya ingin mengajak pembaca, mencoba berfikir 'agak nakal' agar sajian berita yang diunggah media, dapat kita pilah-pilah rasanya.

Untuk itu, kita akan memulainya dengan membahas aspek fakta, kemudian opini, dilanjutkan dengan mengkritik narasi yang disuguhkan.

Secara fakta, peristiwa penusukan Wiranto di Pandeglang merupakan realitas yang nyata, peristiwa itu benar-benar ada, bukan hoax, bukan khayalan. Namun, dalam aspek fakta saja, peristiwa penusukan Wiranto ini terdapat banyak kontroversi.

Karenanya, yang perlu ditelisik lebih jauh adalah apakah fakta penusukan Wiranto itu sebuah fakta insiden, atau fakta yang didesain. Dua model fakta ini, umum terjadi dalam sebuah peristiwa.

Seseorang merayakan ulang tahun, itu fakta. Namun ini terkategori fakta yang didesain, direncanakan, sudah diketahui sejak awal kapan tanggal ulang tahun, dan bisa dipersiapkan sejak dini. Adapun peristiwa kecelakaan maut di Jagorawi, itu juga fakta namun murni insiden. Tanpa rencana, tanpa rekayasa.

Mari membahas fakta penusukan Wiranto. Dari sisi waktu, kronologi dari berbagai sumber itu menyebut peristiwa terjadi antara pukul 11.40 sampai pukul 12.00. Sekitar itulah.

Namun setelah dilakukan pengecekan berita online, rata-rata berita baru muncul diatas pukul 13.00. Ada yang mengunggah berita tentang Wiranto pertama kali pukul 13.14, 13.15, dan seterusnya. Tak ada laman berita yang menampilkan berita kejadian sebelum pukul 13.00 atau apalagi pukul 12.20 an.

Padahal, untuk sekelas pejabat Kemenkopolhukam itu bukan saja pengawal yang melekat. Namun unsur wartawan juga melekat. Apalagi, dari kronologi yang beredar, Wiranto melakukan banyak kegiatan sebelum akhirnya ditusuk.

Jika wartawan melekat ini hadir, tentu berita penusukan Wiranto ini sangat seksi. Wartawan bisa melakukan wawancara langsung, atau setidaknya bisa mengunggah berita di kanal beritanya paling lama 15 menit setelah kejadian.

Idealnya, pukul 12.15 (paling lama) berita tentang penusukan Wiranto ini sudah tayang dan viral. Tentu saja, keterlambatan tayang itu bisa saja terjadi, namun untuk berita seksi seperti ini sangat aneh jika jeda penayangan berita butuh waktu lama, padahal berita online itu secara teknis bisa saja real time. Berbeda dengan koran yang menunggu cetak dulu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun