Mohon tunggu...
Ariya Ibnu Paula
Ariya Ibnu Paula Mohon Tunggu... Penulis - Penulis adalah story maker kurator sastra dan kolomnis (creative writer).

Alumni IISIP Jakarta, pernah bekerja di Tabloid Paron, Power, Gossip majalah sportif dan PT Virgo Putra Film sebagai desainer grafis dan artistik serta menjadi jurnalis untuk Harian Dialog, Tabloid Jihad dan majalah Birokrasi. Saat ini aktif sebagai Koordinator sentra literasi dan publikasi Yayasan Cahaya Kuntum Bangsa (YCKB)

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Penangguhan Waktu

29 April 2022   17:44 Diperbarui: 29 April 2022   17:46 60 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Gumam takbir terucap pelan dari satu per satu  jama'ah di surau.

Padahal sang imam masih belum selesai zikir ba'da isya.

Ruang pun segera khusyu menggemuruhkan  kebesaran Illahi Rabbi.

Sendu mata berkaca  dari jama'ah yang tersisa.

Merapal sang imam memimpin takbir kemenangan.

Ruang pun syahdu dipenuhi gemuruh pujian penghambaan.

Namun,

yang ku dapati jauh dari kemenangan.

Sesal dan serapah mengutuki diri,

yang lalai dan terlena kepada obsesi duniawi.

Hampa dan nelangsa buah penyesalan diri,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan