ANUGERAH OS
ANUGERAH OS profesional

Selama kata masih merangkai kalimat Selama itu pula pena kan tetap berjaya Selama badan masih mengandung hayat Selama itu pula diri kan tetap berkarya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dongeng | Takluknya Si Raja Pembohong

11 Oktober 2018   08:08 Diperbarui: 11 Oktober 2018   08:11 495 1 0
Dongeng | Takluknya Si Raja Pembohong
Sumber Gambar :syaharbanu.blogspot.com

Alkisah...

Tersebutlah sebuah kerajaan yang dikenal dengan nama Kerajaan BBM atau kerajaan "Bohong-bohong Melulu". Kerajaan ini diperintah oleh seorang Raja perkasa, bernama Raja Bobohong. Raja Bobohong adalah seorang lelaki gagah berani, pantang mundur dari kebohongan. Sang Raja yang piawai dalam berbohong itu, kemudian diberi gelar BOBOHOAX I.

Selama diperintah oleh Raja Bobohong, masyarakat di kerajaan BBM hidup rukun damai, berkecukupan dan makmur sentosa. Hal ini dikarenakan Raja Bobohong adalah seorang Raja yang baik hati meskipun sering bohong sini bohong sana. Dalam praktik kehidupan di kerajaan itu, hampir tidak ditemukan kejujuran di sana, selain segumpal hati dari orang-orang yang sebenarnya tidak setuju dan menolak cara hidup seperti itu. Tetapi, begitulah yang terjadi, ala bisa karena biasa, bohong-bohong sudah seperti bagian hidup yang tak bisa dipisahkan dari keseharian mereka. Orang tua menjadikannya alat tawar menawar jual beli atau sebagai bahan lelucon di kedai-kedai minum. Permainan anak-anak menjadi kurang seru tanpa disertai saling berbohong, Sehingga jadilah sebuah ujar-ujar di kerajaan itu, TIADA KESAN TANPA KEBOHONGANMU.

Tetapi semakmur-makmurnya dan serukun-rukunnya keadaan rakyatnya, di sana, di istana Kerajaan, ternyata ada juga yang mengganggu kehidupan Sang Raja. Sedamai apapun kondisi yang tampak di luar istana, kontras dengan suasana hati Baginda, ada hal yang mengganjal jauh di kedalaman jiwanya. Kekurangan yang telah mendera batinnya selama bertahun-tahun, PUTRA MAHKOTA.

Yah, tidak lagi menjadi sebuah rahasia. Raja Bobohong tidak mempunyai penerus tahta kerajaan yang bakal jadi pengganti dirinya sebagai pemerintah di Kerajaan BBM. Suatu keadaan hati yang tidak mungkin dibohongi oleh raja pembohong itu, bahwa dirinya mendambakan seorang anak laki-laki sebagai pewaris mahkotanya nanti. Hari berganti hari, usia sang raja semakin senja, tiga orang isterinya tidak satu pun yang memberinya anak laki-laki. Tiga belas orang anaknya, kesemuanya putri.  Sungguh membuatnya gelisah, sebab pantang kerajaan diperintah seorang putri.      

Kegelisahan hati Sang Raja telah sampai pada puncaknya. Rasa besar penguasa tunggal di kerajaan BBM itu sudah mencapai batasnya. Penyebabnya, adalah tersiarnya kabar di negeri tetangga yang sudah menobatkan seorang raja baru sebagai pengganti penguasa yang lama. Raja Bobohong menjadi gelisah galau merana dibuatnya, uring-uringan terserang rasa gerah dan cemburu yang teramat sangat setelah mendengar kabar berita tak mengenakkan itu. Maka segeralah dikumpulkan pembesar-pembesar kerajaan untuk melaksanakan pertemuan nan maha penting.

Sidang pun digelar, seluruh pejabat istana diundang untuk menghadiri pertemuan dadakan itu. Pada akhirnya diputuskanlah melalui sabda Sang Raja tanpa meminta persetujuan seluruh hadirin peserta rapat, akan diadakan sayembara berbohong lebih cepat dari jadwal biasanya. Perhelatan yang sebelum ini diselenggarakan di setiap penghujung tahun, kali ini dipercepat sesuai perintah Sang Raja yang merasa panas karena mengingat usia yang semakin hari semakin bertambah tua... dan semakin panas setelah tersiar kabar, negeri tetangga sudah menobatkan seorang raja baru.

***

Sudah menjadi tradisi di kerajaan BBM setiap tahunnya, menghadirkan putra-putra pembohong terbaik negeri unjuk kebolehan berbohong menantang sang raja pada sebuah pagelaran sayembara berbohong.  Sayembara yang sudah dirintis sejak sepuluh tahun terakhir ini, memperebutkan hadiah utama, Mahkota Sang Raja. Tujuannya tak lain tak bukan adalah untuk mencari putra mahkota yang dapat menggantikan Raja Bobohong yang sudah mulai menua itu. Bertahun-tahun sayembara berbohong diadakan, namun sampai hari ini belum jua didapatkan seorang pembohong ulung yang dapat didaulat menjadi pengganti Raja. Sayembara tahun ini akan menjadi yang ke-11 kalinya di Kerajaan BBM, Raja Bobohong menantang laki-laki di negerinya ataupun dari negeri tetangga dengan janji hadiah diangkat menjadi putra mahkota dan diperkenankan mempersunting salah seorang putrinya.

Raja Bobohong memang sudah lama mendambakan seorang putra di istananya.  Kerajaan yang dibangunnya dengan berlandaskan kebohongan ini terancam runtuh, sebab belum lagi ada seorang tangguh yang bisa mengalahkan ilmu bohongnya.

***

Kabar sayembara ini telah tertiup angin sampai jauh ke pelosok hutan. Di sana, di sebuah gubuk kayu berpenghuni seorang ibu setengah baya, terlihat serius dengan anaknya. Anaknya seorang pemuda berpenampilan kekar, dengan otot-otot yang menyembul mencuat seperti hendak menembus kulitnya.

"Anakku Dumbaglet... sudahkah engkau pikirkan matang-matang niatmu ikut sayembara itu? Tidakkah engkau mengetahui bagaimana kesaktian Raja Bobohong, bukankah sudah bertahun-tahun belum ada yang bisa menandinginya?"

"Izinkan ananda ikut mengadu nasib di sayembara itu, Bu! Lihatlah anakmu yang sudah tidak lagi kanak-kanak, sudah saatnya ananda membahagiakan Ibu, ananda yakin inilah waktu yang tepat..."  

***

Dipukulnya gong di alun-alun kerajaan, menjadi pembuka sayembara berbohong di Kerajaan BBM. Para peserta dari berbagai penjuru kerajaan, maupun yang hadir dari negeri tetangga berkumpul berbaris teratur di hadapan singgasana Raja Bobohong. Di belakang para peserta, terlihat tentara kerajaan bersenjata lengkap siaga mengawal jalannya sayembara sebentar. Kemudian tampak dari sisi kanan singgasana Raja, pada deretan kursi para pembesar kerajaan, Perdana Menteri berdiri dan memberi hormat, di tangannya ia membawa daftar nama peserta sayembara.  Setelah beberapa saat menyampaikan aturan main, Raja memberi isyarat kepada Perdana Menteri untuk segera memanggil peserta.  Peserta pertama yang dipanggil bernama Surman.

Lelaki yang bernama Surman itu maju ke depan Raja dan memberi hormat dengan membungkukkan badannya.  

Raja berdiri dan mendekat ke arah Surman, "silahkan Mansur... mulai," perintahnya.

"Surman, Paduka..."

"Oh iya, Surman, lanjutkan!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4