Mohon tunggu...
anonymAR
anonymAR Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Teknologi

Mengatasi Fobia Laba-laba dengan Terapi "Fobia Augmented Reality"

1 November 2018   11:23 Diperbarui: 1 November 2018   11:46 147 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengatasi Fobia Laba-laba dengan Terapi "Fobia Augmented Reality"
1-november-2018-1-5bda7f9612ae9456dc34e374.jpg

Arachnofobia adalah istilah teknis untuk rasa takut kepada laba-laba. Sekitar 3,5 hingga 6,1 persen penduduk menderita phobia ini. Terapi pemaparan adalah bentuk perawatan yang paling umum. 

Namun, 60 hingga 80 persen arakhnofobia tidak menerima terapi apa pun karena kurangnya layanan yang tersedia, sementara banyak orang yang tidak bisa menahan rasa takut ketika bertemu dengan laba-laba nyata. Bersama dengan mitra, para peneliti Fraunhofer mengembangkan sistem terapi fobia digital yang dirancang untuk memfasilitasi perawatan fobia laba-laba di lingkungan rumah dan memberikan rasa keamanan yang lebih baik kepada pasien. 

Sistem ini akan dipamerkan di pameran dagang MEDICA di Dsseldorf mulai 12 hingga 15 November (Hall 10, Booth G05 / H04).

Di Indonesia, tidak ada laba-laba liar yang mengancam manusia, walau begitu banyak orang yang panik saat melihatnya. Tubuh mereka bereaksi dengan palpitasi jantung, menggigil, pusing, berkeringat, dan sesak napas. Kadang-kadang tekanan psikologis begitu besar, ketakutan yang begitu luar biasa, sehingga penderita fobia harus menjalani terapi fobia. 

Pendekatan terapi perilaku telah terbukti paling berhasil dalam mengobati arachnofobia. Terapi pemaparan, yang melibatkan menghadapi pasien dengan satu atau lebih laba-laba nyata, dianggap sangat efektif. 

Namun, penderita fobia sering tidak memanfaatkan perawatan seperti itu, baik karena paparan makhluk berkaki delapan ini terlalu menakutkan untuk dihadapi, atau karena kurangnya pilihan terapi fobia yang tersedia di tempat mereka tinggal.

Dalam proyek "DigiPhobie", para peneliti di Institut Fraunhofer untuk Teknik Biomedis IBMT bekerja untuk memperbaiki masalah ini, bekerja sama dengan Promosi Perangkat Lunak GmbH, Saarland University dan Saarland University Medical Center. 

Mereka mengembangkan sistem terapi digital jenis baru yang dirancang untuk memungkinkan terapi pemaparan di lingkungan rumah tangga. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa dengan menghadapi objek yang ditakuti dalam virtual reality atau augmented reality, pasien akan merasa lebih mudah untuk menghadapi ketakutan mereka. Sistem ini terdiri dari lingkungan terapi digital, sensor yang bisa dipakai dan kacamata augmented reality (AR).

Terapi Fobia Dalam Virtual Reality

"Kami mentransfer terapi paparan nyata ke sistem permainan digital yang berjalan pada kacamata data. Semua tugas terapi fobia disimulasikan secara digital. 

Penderita fobia dapat melakukan berbagai tantangan - seperti menangkap laba-laba dengan gelas dan kartu pos atau menyentuhnya dengan jari mereka - dalam virtual reality," kata Dr Frank Ihmig, ilmuwan di Fraunhofer IBMT, menggambarkan pendekatan terapeutik. Ihmig dan timnya membuat perangkat lunak untuk manajemen terapi dan sistem kontrol biofeedback, yang terdiri dari sensor yang dapat dipakai yang mengukur parameter vital pasien selama sesi, seperti variabilitas detak jantung, konduktansi kulit, dan laju pernapasan.

Menghitung Respon Ketakutan Fisiologis Dengan Algoritma Machine Learning

Dari parameter yang diukur, dimungkinkan untuk mengekstraksi fitur yang menunjukkan tekanan emosional. Menggunakan fitur stres ini, para peneliti melatih algoritma pembelajaran mesin. "Dengan algoritma pembelajaran, kami mendapatkan respon ketakutan fisiologis pasien dan mencoba dengan cara ini untuk menentukan intensitas ketakutan mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x