Mohon tunggu...
A. Anindita
A. Anindita Mohon Tunggu... Bankir - Karyawan Swasta

Perempuan dua puluhan, menulis secara amatiran

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Lapang Dada

16 Mei 2015   19:02 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:55 46
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Patuhilah semua yang kau rasa benar

Aku menjejalkan jemariku sendiri ke dalam air

Suatu hari saat kanak,

aku percaya apapun yang masuk ke dalam air akan larut

Aku melihat matahari suram pulang ke peraduan

Ada rusa berlari menghindar singa


Tersengal-sengal membawa seekor burung mati dalam mulutnya

Aku sendiri mati yang segan

Melukis bunga daisy dengan cat air

Aku melukis di banyak kertas

Seumur hidup aku bermimpi dicintai dandelion

Karena rhododendron terkesan murahan

Aku melihatmu diantara bintang-bintang

Aku suka kenyataannya, nampak mustahil

Kelinci bernama Aaron sedang minum teh,

menunggu kita untuk bercerita sore

Aku kira tanah tetaplah tanah

Apa yang kita pijak membawa jalan yang berbeda

Aku melarikan seorang lelaki,

dan sekarang aku tertangkap tangan

Apa yang menyedihkan adalah,

aku memilih perahu yang bagus tetapi berlubang

Tak ada sakit saat darah mulai mewarnai air

Darah toh air! Larut bersama dendam yang tak terbalas

-

A. Anindita

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun