Mohon tunggu...
Anis Contess
Anis Contess Mohon Tunggu... Guru - Penulis, guru

aniesday18@gmail.com. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Di Balik Cerpen "Ditembak Bujang Dam Licin"

31 Agustus 2021   08:06 Diperbarui: 31 Agustus 2021   09:43 491
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Konsultan wisata Ojin, melatih Kades Body Rafting (Dok. Pribadi)

Komunikasi dengan kades tersendat, saya hanya didukung kalau datang sebagai relawan lingkungan, -passion lain saya- misal membuat bank sampah dan berkegiatan untuk itu. 

Dimuat koran (Dok. Pribadi)
Dimuat koran (Dok. Pribadi)
Mengedukasi nasabah bank sampah mendayagunakan sampah. Baik menjual atau mengolah sampah agar tak dibuang begitu saja oleh warga. Seperti memanfaatkan pampers menjadi media tanam yang sempat menarik Radar Bromo Jawa Pos untuk meliput

Support diberikan penuh ruang gerak, fasilitas mobil angkut disediakan. Namun kalau saya membicarakan pengelolaan dam licin, dia speachless, diam seribu bahasa.

Terseok langkah membangkitkan kembali. Warga selalu menuntut biaya, padahal kalau kucuran awal kemarin sudah direalisasikan saya yakin pengunjung tidak keberatan ditarik parkir lagi. Bisa menjadi modal awal mengumpulkan biaya membuat sesuatu.

1 bulan lebih saya isoman, hanya chat grup yang menghubungkan dengan Dam Licin, lalu beberapa hari lalu saya datang berkunjung. Terbiar, nyata tak ada perawatan, ini menggerimiskan miris. Pantas salah seorang menulis di FB,

"Mbak, Dam Licin Jelek, kotor, tidak bersih dan indah seperti yang mbak Daya liput kemarin."

Semangat pudar rupanya, sehingga tempat itu jauh dari sentuhan. Aksi modalnya hanya semangat, kalau redup ya begini ini.

Hanya Shodiq pemuda yang masih peduli, dia ingin ada lagi Dam Licin, yang lebih tua RW, Kasun, Pak Misdar mendukung asal tenaga yang notabene pemuda siap sedia. Chattingan di grup ramai oleh obrolan saya dan dia, yang lain menonton, sesekali bersorak. Canda mewarnai hingga saya terbersit terinspirasi menulis dalam cerita tayang.

Saya memilih fiksi cerpen karena membebaskan imajinasi. Mengikuti trending berita wanita tua dinikahi perjaka. Judul yang menghentak bakal diperhatikan "Ditembak Bujang Dam Licin" memicu banyak komentar. Dam Licin dan tentu kisah Shodik dan saya menjadi perhatian orang. Konfrontasi, konfirmasi saya terima.

"Kalau mau tahu sosok Shodiq ya silahkan datang ke Dam Licin, minta dia memandu, pasti senang hati melakukan," cetus saya pada salah seorang yang kepo dengan lawan main saya di cerpen itu.

Mereka menggoda, tergelak dengan cerpen saya. Biarin, ini bagus membuat nama Dam Licin diingat lagi. Tujuan utama satu, mengingatkan orang akan Dam Licin lewat cerpen. Kalau tulisan reportase sudah biasa, kalau cerpen ini belum pernah. Pasti akan menarik.

Buktinya, berhasil membuat beberapa orang terpantik konfirmasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun