Mohon tunggu...
Andri Faisal
Andri Faisal Mohon Tunggu... Dosen - Dosen

Seorang dosen manajemen keuangan dan Statistik. Peminat Sastra dan suka menulis fiksi. Suka Menulis tentang keuangan dan unggas (ayam dan burung) http://uangdoku.blogspot.com http://backyardpen.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

[Novel] Ismail the Forgotten Arab Bagian ke Limabelas

4 Juli 2017   07:28 Diperbarui: 4 Juli 2017   08:37 487
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Aku ingin bicara denganmu"

Perasaanku aku membutuhkannya dengan sesopan-sopan yang aku bisa bila aku merendahkan suara aku khawatir suaraku tidak akan terdengar olehnya namun bila suaraku keras hal itu akan membuatnya tersinggung.

Tetapi yang di hadapanku adalah wajah yang sangat tidak bersahabat. Apakah ia tidak mengakui bahwa pangkatku lebih tinggi dan aku bisa saja membuatnya. Aih, kesombongan pangkat Korporal mulai menghantuiki.

"Perosalan ini pribadi aku pikir lebih baik kita saja berdua yang tahu"

"Kopral. kalau bisa saja bilang apa saja di depan orang-orang ini tidak ada rahasia denganku"

Orang ini ternyata pembangkang juga sama dengan Jengis pikirku. Aku sebagai pimpinan tidak perlu untuk negosiasi.

Aku membicarakan semua hal itu.

"Aku yakin hidup ini singkat. Terlebih lagi di Medan perang ini. Kita harus bekerja sama suatu saat kita tidak akan lagi bertemu dalam kesempatan yang sangat langka ini. Aku harap kau bisa  bekerja sama untuk itu.”

Aku pun berlalu meninggalkan ketiga orang tersebut dan aku hendak bertemu lagi dengan Mulazim.

Motivasi

Ternyata orang yang terkencing-kencing itu orang Turki. Aku sedikit benci dengan kelakukan Mereka semuanya adalah relawan tempur dan seharusnya mereka bisa untuk mengatasi hal itu. Aku mencoba mendekati orang tersebut.  Teman-teman membully karena ia tidak berani bahkan untuk menyembulkan kepala dari parit dan celananya membentuk pulau yang basah akibat kencingnya. Aku memperingatkan mereka agar tidak mencela karena akan menganggunya dan sama sekali tidak membantu. Tampaknya mereka tidak peduli dengan ucapanku namun aku kira aku tidak perlu mendapat penghormatan dari mereka. Yang terpenting mereka mau bertempur saja sudah syukur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun