Mohon tunggu...
Andre Yusuf
Andre Yusuf Mohon Tunggu... Mahasiswa - Salah satu Mahasiswa di Institut Pesantren Mathali'ul Falah

Mahasiswa Aktif Institut Perguruan Mathali'ul Falah. Dan Warga Negara Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Hobby

Perjalanan ke Bandung

4 April 2022   15:22 Diperbarui: 4 April 2022   15:25 148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hobi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

H-1 sebelum berangkat, pada hari Sabtu 26 maret. Saya bercerita tentang rencana akan pergi ke Bandung dengan naik montor. Lalu temanku bilang kalau saya terlalu nekat, Bandung itu jauh jika harus ditempuh dengan pakai montor. Pas saya searching di google map, lama jarak tempuhnya hampir 9 jam. Lumayan juga, tapi itu sudah menjadi niat.

Dan sebenarnya sudah dari tahun kemarin saya punya rencana untuk pergi ke Bandung, hanya saja terkendala soal budget dan waktu. Maka rencana tersebut belum terjadi. Mungkin sekarang ini adalah waktu yang tepat, karena kebetulan saya juga sedang ada pekerjaan Survei terkait Sosial Kemasyarakatan dan Elektabilitas Demokrasi di Brebes. Kemudian saya putuskan untuk sekalian saja langsung ke Bandung.

Karim, salah satu teman di pondok dulu, yang sekarang kuliah di UIN Bandung juga sedang main ke Pati. Ketika saya kabari mau ke Bandung, dia bilang mau ikut 'nebeng' balik bareng. Kita pun berangkat berdua.

Di bulan maret seperti ini biasanya masih sering tiba-tiba hujan. Meskipun ketika berangkat dari Pati cuaca terlihat cerah, tapi untuk jaga-jaga saya sudah membawa jas hujan. Kita berangkat dari Pati jam 2, dan rencananya akan ke Semarang dulu untuk mengikuti workshop. Kemudian sekitar jam 8 malam setelah selesai workshop, kita melanjutkan perjalanan menuju Pekalongan. Tapi na'as, musibah yang dikhawatirkan saat di perjalanan terjadi, ban montor kita pecah waktu memasuki Alas Roban. Dan bukan menjadi rahasia lagi, kalau Alas Roban terkenal gawat kelewat-lewat, suasana yang gelap karena tidak ada penerangan semakin menambah kuat kesan mistis. Akhirnya montor harus kita geladak sampai dapat tambal ban. Sementara mencari tambal ban, Karim saya tinggalkan di Pom bensin. Sekitar 1 kilometer dari pom ternyata ada tukang tambal ban, dan tanpa basa-basi tukang tambal langsung memperbaiki ban saya yang bocor. Di saat saya menunggu ban motor diperbaiki, ada hal yang agak lucu sebenarnya. Tiba-tiba datang seorang perempuan kira-kira umurnya 38 tahun yang duduk di sampingku. Saya masih fokus mengamati tukang tambal memperbaiki ban montor, sambil sesekali ikut menghitung jumlah kebocorannya. Ibu-ibu yang duduk di samping tadi memberi isyarat dengan suara 'shuut-shuutt'. Saya pun menoleh sambil bertanya "ada apa buk.?" Masnya daripada nunggu kelamaan, mending di tunggu di kamar saja mas, mari saya antar. Saya sadar maksudnya, tapi pura-pura nggak tahu saja. Kemudian sambil menggesek-gesekkan tangannya Si ibu tadi berkata, kita puk-puk aja dulu mas di kamar. Dan hampir saja saya kelepasan ketawa pas waktu dengar ibu-ibunya bilang puk-puk. Cuma rasanya kurang sopan dan sungkan di depan ibu tadi, maka saya tahan sebisa mungkin untuk tidak ketawa. Dan dengan wajah yang saya buat-buat 'sok polos', saya menjawab kalau sekarang ini sedang ditunggu orang tua dirumah, tadi disuruh untuk beli pembalut dan cepat-cepat disuruh pulang. Alasan ini saya gunakan supaya tidak terus di goda sama ibu-ibunya. Memang banyak hal-hal aneh ketika berpetualang, dan mungkin itulah justru yang membuat menarik.

Setelah masalah ban bocor beres, kita lanjut perjalanan menuju Pekalongan. Sampai di Pekalongan antara jam 2 dini hari. Kemudian kita numpang tidur di rumah teman yang sebelumnya sudah kita kabari kalau mau transit di Pekalongan.

Keesokan paginya setelah sarapan nasi megono yang menjadi khas Pekalongan, ada agenda dadakan. Kita diajak untuk mandi di sungai, dan tanpa banyak mikir kita kompak bilang 'gass'. Kalau tidak salah ingat, sungainya itu berada di daerah Linggoasri. Dan kebetulan ada satu lagi teman waktu di pondok yang rumahnya dekat dari situ, namanya Saepul. Kita mampir dan ngobrol-ngobrol dulu sebelum ke sungai. Biasanya teman yang lama tidak bertemu, awal-awal akan bertanya tentang kesibukan sekarang ini. Kemudian setelah itu obrolan akan mengalir begitu saja, mungkin beberapa ada yang berbagi tentang gagasannya terkait isu-isu tertentu. Seperti halnya kemarin kita ngobrol terkait 'perempuan'. Kenapa jika terjadi pelecehan seksual atau pemerkosaan yang menjadi objek pembahasannya cenderung pada perempuannya saja? Sekali kali laki2nya kan bisa. Tanya seorang teman.

Dan akhir-akhir ini banyak aktivis feminisme yang mempertanyakan bagaimana pandangan masyarakat secara umum melihat kasus pelecehan seksual itu sendiri. Dalam hal ini saya kira harus dilihat secara seimbang, baik laki-laki maupun perempuan. Stereotip masyarakat tentang perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual hanya kepada mereka yang mengumbar auratnya masih sangat kuat. Padahal tidak menutup kemungkinan pelecehan seksual ini bisa terjadi pada siapapun, baik perempuan yang memakai hijab ataupun yang tidak memakainya. Kalau itu sih bisa saja laki-lakinya yang nggak bener, sedikit-sedikit bawaannya nafsu-an. Tukas Saepul menyimpulkan.

Atau bisa juga kita menggunakan pertanyaan semacam ini untuk memperjelas permasalahannya "jika perempuan harus menutup aurat supaya tidak di perkosa, maka laki-laki harus menutup apanya supaya tidak memperkosa?", Spontan semuanya pun tertawa waktu dengar pertanyaan tersebut, hal-hal semacam ini keluar begitu saja ketika ngobrol bersama teman-teman. Dan obrolan-obrolan yang paling banyak adalah nostalgia tentang kejadian-kejadian disekolah dulu.

Karena asyik ngobrol, akhirnya kita berangkat ke sungai setelah adzan ashar. Dua kilometer jauhnya dari rumah Saepul. Pas waktu main di sungai, ada kejadian saya hampir celaka karena hanyut terbawa arus sungai yang deras. Saya sempat terseret arus sejauh 16 meter. Meskipun bisa berenang, arus sungai yang deras dan bebatuan yang licin membuat saya sulit menjaga keseimbangan. Beruntung saya bisa selamat karena pegangan pada salah satu batu besar. Beberapa teman sempat panik pas lihat saya hanyut, kemudian mereka menyarankan untuk mandi di sungai yang alirannya tidak begitu deras supaya tidak hanyut lagi. Kejadian ini bukan pengalaman berbahaya yang pertama kalinya. Di gunung Slamet dulu juga saya pernah hampir mati.

Melanjutkan Perjalanan Menuju Brebes dan Bandung.

Sehabis dari sungai kita beristirahat sebentar dirumah Saepul. Disana udaranya sejuk dan terasa menyegarkan, pohon-pohon masih terjaga dengan baik di alam. Perjalanan kita lanjutkan lagi sesudah adzan isya' , dari Pekalongan kita melawati Pemalang, Tegal, kemudian sampai di Brebes. Karena tidak ada tempat transit lagi untuk menginap, kita memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dan bermalam disana. Tidak ada tempat tidur dimanapun jadi. Prinsip kita dalam perjalanan harus dibuat mudah dan sesenang mungkin. Menginap di rumah sakit kita cukup bayar 2.000 saja, itu juga bayar parkir montor.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun