Andiko Setyo
Andiko Setyo

primates, hominidae, homo, homo sapiens, sapiens andiko, sapiens sapiens pembebasan.\r\n\r\n-supermarketkata.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Jalan Jalan Artikel Utama

Desa Dayak Pasir Panjang (Bertahan di Arus Masyarakat Transmigran)

5 Januari 2012   09:26 Diperbarui: 25 Juni 2015   21:18 1989 0 0
Desa Dayak Pasir Panjang (Bertahan di Arus Masyarakat Transmigran)
13257536931121918148

[caption id="attachment_153519" align="aligncenter" width="300" caption="Rumah Betang (rumah adat dayak), material 100% kayu ulin doc : pribadi"][/caption]

Dingin oksigen dari naungan pohon-pohon khas hutan Kalimantan akan langsung kita resapi, lalu sesekali berpapasan dengan beberapa ekor anjing tanpa tali kekang yang berlarian di badan jalan akan kita jumpai ketika mulai masuk Desa Pasir Panjang. Desa yang masih memegang tradisi adat suku dayak yang mulai terhimpit oleh arus transmigran di kota Pangkalan Bun, Kotawringin Barat, Kalimantan Tengah. Tidak sulit untuk menuju lokasi Desa Pasir Panjang. Karena memang posisi letak desa ini masih berada di wilayah kota, kira-kira hanya 5 Km dari pusat kota Pangkalan Bun. Pangkalan Bun, kota yang secara administratif dalam lingkup Kab. Kotawaringin barat terletak di sisi paling ujung selatan propinsi Kalimantan Tengah dan terus bergeliat sejak 10 tahun belakangan ini. Hal yang menarik dari kota ini adalah komposisi penduduknya yang mayoritas dari suku Jawa. Keberadaan banyak penduduk yang berasal dari suku Jawa sebagian dari program Transmigrasi di jaman Orde Baru yang diawali pada tahun 1977. Hingga sekarang terdapat banyak perkampungan transmigrasi dari pulau Jawa yang masih meneruskan bahasa "ibu" ke generasi berikutnya. Sebagian lagi berasal dari para perantau yang berjuang untuk membuka peluang usaha ataupun bekerja disini. Era perantau ini mulai pesat ketika masa Ilegal logging telah lewat di akhir tahun 90-an. Dan dimulainya masa "invasi" industri perkebunan sawit. Jadilah Pangkalan Bun ini menjadi sebuah kota kecil yang dikepung ribuan hektar perkebunan sawit. Sisa komposisi penduduk di kota ini adalah suku Melayu, Dayak, dan sebagian kecil dari suku Banjar dan Sunda. Desa Pasir Panjang sendiri adalah sebuah desa dengan penduduk suku Dayak yang masih bertahan di arus penduduk transmigran. Masih memegang tradisi yang dilakukan leluhur sebelumnya. Seperti bahasa dan aksen bicara yang khas. Terdengar jelas khas aksennya di kata-kata yang mempunyai vocal "e" berubah menjadi vocal "o". Contohnya kata benar menjadi bonar, kata deras menjadi doras, dll. Aksen khas tersebut juga diikuti dengan intonasi suara yang khas pula. Ke-eksotisan Desa Pasir Panjang juga dapat kita lihat dari pohon-pohon besar yang berdiri tegak memenuhi disela-sela wilayah desa yang berpenduduk tidak terlalu banyak ini. Jika kita berkunjung ke desa ini saat musim buah hutan. Kita akan menemukan macam-macam buah khas belantara hutan Kalimantan yang jarang sekali kita jumpai di daerah lain. Macam-macam buah tersebuta antara lain ada (dalam bahasa lokal) : buah mentawa, buah kekali, buah pompaan, buah idur, buah jihui, dan masih banyak lagi. Dimana warna, bentuk, aroma, dan rasanya memang memikat hati dan lidah. Mungkin setelah ini saya akan mem-posting buah-buah tersebut lengkap dengan foto-foto dan deskripsinya yang lebih detil.

[caption id="attachment_153525" align="alignnone" width="656" caption="Penjaja buah khas Kalimantan. Saat musim buah hutan di bulan Nopember lalu, lebih variasi lagi jenis buah yang dijajakan. doc :pribadi"]

1325754984165451005
1325754984165451005
[/caption]

Ada hal lagi yang membuat Desa Pasir Panjang ini menarik. Yaitu hampir separuh dari warga desa bekerja di OCCQ (Orangutan Care Center and Quarantine) milik sebuah yayasan benaman OFI (Orangutan Foundation International). Bagi yang belum mengenal, OCCQ adalah sebuah pusat perawatan dan introduksi orangutan sebelum siap dilepasliarkan. Nah, jika dengan orangutan saja warga disini sayang dan peduli apalagi dengan orang beneran. Pasti lebih menghargai.. Desa Pasir Panjang dan Kapital Tanah Karena memang warga desa ini penduduk asli suku dayak, maka dulu luas kepemilikan tanah tiap warga desa tidaklah tanggung-tanggung. Satu orang warga memiliki luas tanah hingga ratusan hektar. Namun seiiring derasnya arus transmigran, para kapitalpun ikut bermain. Mencoba menggoda warga desa untuk menjual tanah-tanah mereka dengan harga murah, bahkan ada cerita ada warga yang melepas dengan harga dibawah 2 juta per hektarnya. Kenapa bisa demikian? Penjelasannya sederhana. Memang harga tersebut sangatlah murah, namun jika dikalikan ratusan hektar. Warga akan dipameri uang ratusan juta dan itu sangatlah menggoda untuk menyetujui menjual tanahnya. Kapital tanah itupun ikut pula membuat satu ironi baru. Yaitu membiarkan tanah ratusan hektar yang dibelinya tersebut dibiarkan begitu saja setelah dtebas pohon-pohon perintisnya. Dengan dibiarkan lapang, kapital tanah akan bermaksud menjual kembali seiring waktu dan perkembangan kota menjadi haraga yang berkali-kali lipat. Ataupun jika dimanfaatkan paling-paling digunakan untuk ikut-ikutan heboh membukanya menjadi perkebunan sawit. Sekiranya semuapun sudah paham negatifnya sawit untuk lingkungan dan ekosistem. Ironis sekali.. Ajaran manis itu bernama toleransi

[caption id="attachment_153526" align="alignnone" width="656" caption="Di desa ini rumah ibadah gereja dan masjid berdiri bersandingan. doc : pribadi"]

1325755470299390848
1325755470299390848
[/caption]

Seperti yang ditunjukan pada foto diatas dimana bangunan ibadah gereja dan masjid berdiri bersandingan. Gambaran itu pula yang kita rasakan tentang harmonisnya kehidupan beragama di desa ini. Jika ada warga yang beragama islam tidaklah kemudian ditunjukan dengan simbol berpakaian memakai songkok ataupun baju koko. Mereka berpakian seperti adanya, biasa saja. Karena bagi warga disini agama bukanlah simbol yang harus ditunjukan dengan berpakaian yang menunjukan kesholehan. Bahkan beberapa warga desa yang masih memegang adat mereka, bertato di badan juga menunaikan ibadahnya. Nah, bayangkan dan bandingkan kejadian yang menggunakan kedok agama di beberapa kota di Indonesia belakangan ini. Hal, yang sangat kontradiktif bukan? Di perkotaan mereka yang mengaku berpendidikan namun melakukan perilaku yang kampungan. Dan di desa ini, di pinggiran kota kecil Kalimantan Tengah. Mampu memperlihatkan keharmonisan dalam beragam. Itulah sepenggal cerita dari sebuah desa dayak yang bernama Pasir Panjang diantara hal lain menarik lainnya yang tidak saya ungkapkan banyak. Jika anda berkunjung ke Kalimantan Tengah khususnya wilayah Kotawaringin Barat tidak hanya aktraksi orangutan saja yang harus anda tuju, namun sesekali mampir di desa dayak adalah juga pengalaman menarik. Khususnya belajar hidup harmonis, selaras dengan alam dan sesama. Wisata sosial budaya kenapa tidak?