Lihat ke Halaman Asli

Choirul Huda

TERVERIFIKASI

Kompasianer sejak 2010

Pelukis Yayak Yatmaka kembali Gelar Pameran Tunggal di TIM

Diperbarui: 23 Juni 2015   22:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

13991387161039389990

[caption id="attachment_305923" align="aligncenter" width="491" caption="Galeri lukisan Yayak Yatmaka (foto koleksi pribadi: www.kompasiana.com/roelly87)"][/caption]

Pelukis Yayak Yatmaka kembali menggelar pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Pameran tunggal di TIM itu merupakan yang kedua kalinya setelah 2013 dan 2004. Menjadi menarik, mengingat pria kelahiran Yogyakarta, 1956 ini sempat "dicekal"  karena dinilai nakal. Tidak hanya oleh pemerintah, bahkan oleh sesama seniman pun.

Itu diakui Yayak kepada saya saat menghadiri pamerannya di Galeri Cipta III TIM, Sabtu (3/5). Sebagai penikmat seni, kehadiran karya dari pelukis yang dikenal nyentrik ini tentu tidak bisa dilewatkan. Kebetulan, kemarin merupakan hari libur, yang bisa digunakan sambil berkeliling menikmati suguhan 120 lukisan bertema "Anak dan Perempuan Perkasa".

Awalnya, sempat kaget juga ketika mendengar kabar Yayak benar-benar bisa mengadakan pameran tunggal di TIM. Apalagi setelah mengetahui bahwa saat pembukaan dihadiri Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Agum Gumelar pada hari sebelumnya (2/5). Maklum, Maret lalu ramai diberitakan  pihak TIM menolak keinginan Yayak untuk kembali mengadakan pameran tunggal.

Alasannya jelas, lukisan karya Yayak dikenal sangat kritis dan terlalu memprovokasi masyarakat. Namun, berkat kegigihannya melobi sana-sini, baik itu Komisi Hak Asasi Manusia (HAM), DPR, Kementerian Pendidikan Nasional, dan juga Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama. Akhirnya, pihak TIM setuju dan memberi kesempatan bagi Yayak untuk menggelar pameran pada 2-13 Mei.

"Ya, mau gimana lagi mas. Yang penting, kita berusaha untuk terus berkarya dan memperlihatkannya kepada masyarakat umum," kata Yayak ketika berbincang dengan saya di lantai dasar Galeri Cipta III TIM, kemarin.

Sambil menerangkan riwayat beberapa lukisan yang memiliki nilai historis saat pembuatannya, termasuk yang berjudul "Anak Bangsa Perkasa Itu Bernama Marsinah, Munir, dan Thukul", Yayak melanjutkan, "Saya sudah sejak 1990 menggelar pameran tunggal. Awalnya memang di Eropa, yaitu di beberapa kota Prancis. Hingga, 2005 lalu saya kembali ke Jakarta. Ini merupakan pameran tunggal saya yang ketiga di TIM setelah 2004 dan 2013."

Sebagaimana lazimnya seniman lainnya, Yayak tidak terlalu peduli dengan persepsi "nakal" yang kerap ditujukan padanya. Yang terpenting, bagi dirinya adalah dapat berkarya dan bisa dipertanggung jawabkan saat memamerkannya kepada masyarakat umum. Itu dikatakan sosok yang juga aktif di dunia blogger mengenai rencana menggelar pameran selanjutnya.

"Untuk pameran, saya biasanya bekerja sama dengan sponsor. Soal harga yang ditawarkan terhadap suatu lukisan itu bervariasi nominalnya," tutur pria yang menjiwai karya seni yang bersinggungan langsung dengan masyarakat umum. Itu bisa dilihat dari karya berjudul "Awas Ada Amerika, Ha Ha Ha". Lukisan yang dibuat pada 2009 itu menyoroti perilaku konsumtif rakyat Indonesia yang gemar memakai sesuatu dari Amerika Serikat (AS). Mulai dari sandang, papan, hingga pangan dalam denyut kehidupan sehari-hari.

"Banyak yang menilai saya sebagai pelukis nakal. Padahal, bagi saya, lukisan adalah media yang tepat untuk mengungkapkan ekspresi. Bisa jujur dan apa adanya karena memang realistis di kehidupan sehari-hari. Apalagi, karya ini hanya selang sehari  dari peringatan Hari Buruh, 1 Mei kemarin," ucap Yayak yang pada era orde baru pernah menetap di Jerman akibat beberapa karyanya dianggap sangat menyinggung pemerintah saat itu. Termasuk, lukisan yang fenomenal seperti "Tanah Untuk Rakyat".

Hampir dua jam saya menjelajahi hasil karya Yayak di dua lantai gedung Galeri Cipta III TIM. Jika dilihat sekilas, lukisan-lukisan itu tampak biasa. Namun, jika diteliti lebih dalam lukisan Yayak itu seperti memiliki kisah tersendiri karena cerminan dari rakyat Indonesia. Mungkin menjadi ironi karena melalui media kanvas dan kuas, Yayak seperti "menyihir" orang yang melihatnya. Setidaknya, bagi saya yang masih merasa kagum dan terbayang akan arti dari lukisan itu sendiri meski sudah beberapa jam meninggalkan TIM.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline