Lihat ke Halaman Asli

NewK Oewien

Sapa-sapa Maya

Anda Pilih Apa sebagai Penghuni Republik Maya?

Diperbarui: 18 September 2017   16:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: http://rubik.okezone.com/read/24269/kebebasan-yang-bijak-dalam-dunia-maya

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, dunia maya sudah menjadi dunia kedua. Dengan semakin 'kekiniannya' kemajuan teknologi, dunia kedua itu melahirkan kemudahan luar biasa mudah. Membuat beraktivitas di dunia maya menjadi candu berlevel kronis. Mudah sih.

Terlepas dari kebaikannya yang berlimpah, kehidupan dunia maya juga mencipta pelaku sosial yang tak kalah buruk (menurut kita, tapi tidak bagi mereka).

Seperti halnya kehidupan republik ini (dunia nyata), di kehidupan maya juga terdapat lakon yang nyaris serupa, kecuali kontak fisik, maka kalau boleh saya menyebutnya "Republik maya" (saolnya pemerintah juga aktip bermedsos, hehe).

Semua ada. Mulai dari transaksi jual beli, didik-mendidik, basa-basi, drama percintaan, kampanye politik, hujat-menghujat, jatuh-menjatuhkan, sesat-menyesatkan dll, yang terakhir baru saya sadari ada juga yang menghina diri.

Untuk urusan jual beli (online shop) kita sudah sama-sama tau, bahkan anda yang lebih tau, mungkin juga sudah sukses sebagai pelaku, sebagai penjual atau pembeli. Sebagai penjual saya juga pernah, sebelum akhirnya mengibarkan bendera kalah, gak laku soalnya. Hehe.

Walaupun banyak tersebar berita tipu-menipu, tapi kita sudah sepakat, kelak online shop akan merajai dunia dagang. Wong investasinya ada yang sudah miliaran dollar kok.

Begitu pula dalam hal didik-mendidik. Selain karena bisa belajar secara autodidak dengan cara menyelami sebaran ilmu yang disebar guru (penayang), juga kuliah online baru-baru ini telah digenjot. Setuju sekali kalau dunia maya dimanfaatkan untuk ini.

Untuk kegiatan basa-basi di dunia maya, ya, memang sudah tempatnya kan? Saya dan anda pelakunya. Maka, saya tidak memperpanjang.

Drama percintaan yang dimulai dari dunia maya sudah lumrah didramakan. Meskipun, selanjutnya yang berniat untuk mengeja tangga yang lebih serius, membawanya ke dunia nyata, kebanyakan dari pelaku memunculkan epilog yang sama sekali tidak enak. Tapi ya tetap saja masih eksis, seolah tidak mau belajar dari gambar yang sudah ditunjukkan kaca. Mungkin alasannya: pertama mudah berkenalan dan kedua meski jarang, ada yang sukses ceria.

Untuk yang kedua, mungkin terinsfirasi dari film republik twitter. Sukmo (Abimana Aryasatya) pada mulanya menelan pil pahit untuk menyatakan hubungan maya dengan Hanum (Laura Basuki). Tapi karena Sukmo punya semangat juang berhasil mengecoh lebah, untuk kemudian memetik madu. Akhir kisah Sukmo dan Hanum yang serupa madu, manis. Yang perlu tidak dilupakan, kisah itu hanya fiktif belaka (walaupun mungkin insfirasinya dari kehidupan nyata).

Film yang disutradari Kuntz Agus itu berhasil membuat saya menontonnya berulang-ulang (tidak di Bioskop). Selain karena hati saya tergugah masalah asmaranya, kisah lain dari film yang dirilis tahun 2012 itu cukup membuat saya tercengang. Pasalnya dari situ saya pertama kali sadar kalau dunia maya telah terinfeksi urusan politik. Saat itu saya belum sepenuhnya yakin, dan menyayangkan kalau itu nyata terjadi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline