Mohon tunggu...
Amos Ursia
Amos Ursia Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Cantik Itu Luka" dan Lemari Sastra Kita

4 Desember 2018   22:20 Diperbarui: 7 Oktober 2021   07:25 319
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Toko buku yang memajang novel Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan. (kompas.com)

Dalam novel "Cantik Itu Luka" ada beberapa hal menarik. Salah satu yang menarik adalah bentuk sastra surealis yang dilatari sejarah kolonial Hindia Belanda. 

Pemakaian perspektif yang jarang dikaji dalam historiografi Indonesia merupakan hal yang menyegarkan.

Perspektif seorang pelacur golongan Indo, perspektif seorang preman kebal peluru yang akhirnya dikarungi dalam operasi militer pembasmi kriminal, sampai kisah cinta pemuda pribumi dengan gadis Belanda yang berakhir dengan tragis.

Dewi Ayu sebagai tokoh utama adalah gadis Indo yang akhirnya dieksploitasi menjadi jugunianfu (budak seks) oleh tentara Jepang, sampai akhirnya memilih jalan hidupnya sebagai pelacur. 

Ini bukan hal sederhana, dalam sejarah kontemporer Indonesia, pelacuran dalam konteks kolonial sedang serius dikaji, bagaimana motif para gadis ini melacur dan sejauh apa dampak politisnya. 

Belum lagi kajian sejarah soal jugunianfu, rumah bordil, dan rasialisme pelacuran. Lalu, narasi narasi tentang komunisme yang akhirnya mencapai bentrok besar tahun 1965. 

Rekonstruksi kepribadian Kamerad Kliwon sebagai ketua Partai Komunis Indonesia di Halimunda. Intinya, banyak sekali kompleksitas konteks dalam "Cantik Itu Luka", jika saya bahas satu persatu akan sangat panjang dan harus dipisahkan bahasan bahasannya dalam tulisan lain, secara detail.

Intinya begini, lemari buku sastra di Indonesia selain dipenuhi pop remaja, terselip juga karya karya luar biasa, yang bukan hanya memanjakan pembaca dengan kisah, tetapi dengan konteks historis dan realitas sosial yang bangsa kita alami, baik prestasi maupun tragedi. 

Pada akhirnya, kualitas pun hadir dalam lemari buku Indonesia. Sebuah hal yang sangat dibutuhkan untuk peradaban kita, Indonesia.

Terimakasih, selamat membaca.

Referensi:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun