Amel Widya
Amel Widya Karyawan

Perempuan Berdarah Sunda Bermata Sendu. IG: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Dulu Aku Menyusu di Payudara Ibumu

11 Agustus 2018   00:55 Diperbarui: 11 Agustus 2018   17:47 3036 24 12
Cerpen | Dulu Aku Menyusu di Payudara Ibumu
Sumber Ilustrasi: manishshidu.wordpress.com

Dulu aku menyusu di payudara ibumu. Begitu kehendak takdir. Kita tumbuh dari air susu yang sama. Padahal, aku tidak pernah memohon kepada Tuhan agar ibumu menjadi ibu susuku. Aku juga tidak pernah berdoa agar kita menjadi saudara sesusuan. Kita menangis dan tertawa bersama. Kita bahagia dan terluka bersama.

Entah bagaimana mulanya, diam-diam cinta menyusup ke dalam dada kita. Kala itu, usia kita menjelang remaja. Tiga belas tahun. Lehermu sudah berjakun, dadaku mulai tumbuh susu. 

Tiap berjauhan denganmu, serasa ada yang kurang dalam diriku. Tiap kauabaikan pesan pendekku, dadaku serasa dihantam palu. Tiap kuprotes kepadamu, kamu malah mencebik. Meledek. Seakan-akan perasaanku bukan sesuatu yang penting bagimu.

Aku masih ingat hari ketika pertama kali kutegur kamu karena seharian aku tidak menemukanmu.

"Kenapa kaumatikan ponselmu?"

Kamu cengengesan. "Lagi ujian!"

"Bisa kaubalas saat istirahat, kan?"

"Takut konsentrasiku buyar."

"Jadi selama ini aku hanya mengganggumu?"

Kamu menggeleng. "Aku suka bibirmu kalau sedang merengut."

"Jangan mengalihkan pembicaraan!"

"Aku suka suaramu kalau sedang merajuk."

"Kampret!" Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya. "Kamu tidak kangen?"

"Kangen, kok."

"Kamu tidak sayang kepadaku?"

Beberapa jenak kamu habiskan untuk menatap mataku. Tidak menjawab pertanyaanku, tetapi terus menatapku. Aku ingin mendesakmu dengan sebuah pertanyaan lagi, namun aku tahu kamu paling tidak suka didesak-desak. Maka kubiarkan hatiku didesak-desak oleh rasa kesal. Sungguh-sungguh kesal karena tidak mendengar pernyataan sayang darimu.

Dulu aku menyusu di payudara ibumu. Begitu kuasa takdir. Takdir pula yang sekarang menyeret kita ke dalam satu bilik cinta. Menyekap kita dalam bilik itu sehingga kita tidak melihat ada cinta selain di pelukan kita. Lalu sepat masa depan memukul-mukul jantung kita.  

Menjelang usia lima belas tahun, kamu belum mengatakan apa pun tentang perasaanmu kepadaku. Aku juga tidak ingin menyatakan perasaanku kepadamu. Kamu mulai berani mengecup keningku setiap aku pamit untuk pulang ke rumahku, aku mulai berani menumbuhkan harapan di dadaku bahwa kamu juga menyukaiku. 

Bukan suka, melainkan cinta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5