Mohon tunggu...
Mr. Constantino
Mr. Constantino Mohon Tunggu... Penulis lepas

Seorang Pencari yang tak kunjung usai. Menertawakan diri sendiri adalah senjata idealisme sejati. Sangat Mencintai kebudayaan dan menyukai kerupuk.

Selanjutnya

Tutup

Digital

Menangkal Hoaks dengan Literasi Digital

9 Maret 2021   18:41 Diperbarui: 9 Maret 2021   19:05 259 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menangkal Hoaks dengan Literasi Digital
Ilustrasi (geotimes.co.id)

Ramalan kecanggihan teknologi sejalan dengan naluri hasrat manusia untuk berinteraksi agar kehidupan di bumi lebih harmonis dihuni karena orang bebas bicara dan bertukar pikiran dan gagasan ternyata hanya ilusi. Sejarah membuktikan sebaliknya. Sejak ditemukan mesin cetak yang mempermudah penyebaran informasi, bukan hanya gagasan sehat yang diperdebatkan, melainkan pidato dan berita beracun bernuansa dan terang-terangan menebarkan kebencian karena alasan perbedaan suku, ras, agama, dan keyakianan membahana pula.

Ujaran kebencian dan provokasi yang sekarang disebut hoaks merupakan musuh yang tengah mengguncang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia saat ini.

Kominfo mencatat hingga Januari 2021 sebanyak 1.387 isu hoaks tersebar di berbagai platform media sosial terkait disinformasi tentang virus Corona (COVID-19). Sumber).

Faktor penyebab yang paling pertama adalah kehadiran media internet yang semakin masif kepada publik.

Internet sejatinya telah menciptakan masyarakat baru yang disebut dengan masyarakat jejaring. Masyarakat jejaring adalah masyarakat dalam abad informasi di mana fungsi dan peranan semakin banyak ditata dan dikelola di sekitar jejaringan digital berbasis internet. (bdk. Castells, 2000:500; Tumenggung 2005: 24).

Masyarakat ini memiliki gaya hidup yang virtual yang terbentuk dari efek fisik media serta sistem kerja saraf selalu mengikuti alur media. Hal ini membenarkan apa yang telah ditandaskan oleh Marshall McLuhan dalam Understanding Media sebagaimana yang dikutip oleh P. Agus Alfons Duka SVD dalam buku Komunikasi Pastoral Era Digital; bahwa dalam sebuah komunikasi dan interaksi bukannya pesan yang mempengaruhi pembentukan makna (meaning) dan persepsi manusia melainkan media.

Media menurutnya dapat mempengaruhi keadaan bawah sadar manusia, sebab ada unsur-unsur tertentu dalam media yang menggiring manusia untuk segera mengambil sikap tertentu sebelum memahami sepenuhnya konten atau muatan yang ditransfer melaluinya.

Oleh karena itu media menjadi domaian berkecimpungnya individu dalam berbagai kegiatan dan aktivitas virtual melalui identitas siber atau diri virtual. Identitas demikian dapat dikenal antara lain melalui tulisan pada dinding (wall) Facebook, status di BBM, Twitter, aplikasi WhatsApp, lewat kalimat, gambar, simbol, foto, karakter dan sebagainya.

Acapakali tampilan virtual itu nampak dalam curahan hati dan syering diri kepada publik maya. Aplikasi-aplikasi yang muncul dapat menjadi sarana penampilan diri yang bersifat hic et nunc. Pengungkapan diri yang virtual tersebut lambat laun bermetamorfosis menjadi sumber ujaran kebencian, fitnah, hasutan dan pencitaraan yang berujung pada xenofobia. Nilai kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur bagi laku dan berterimanya sebuah pesan atau informasi. Melainkan direkayasa yang berujung pada kejahatan siber serta kejahatan-kejahatan bermotif radikal seperti terorisme dan lain sebagainya yang tersebar melalui media sosial.

Selain faktor teknologi, alasan lain yang lebih fundamental yakni naluri manusia yang bersifat "homofili". Fenomena homofilis adalah gejala kecendrungan naluri manusia menacari teman yang mempunyai kepentingan, ide, dan karakter yang sama. Relasi yang homofilis semakin mudah kalau didasarkan atas sentimen primordial dan karakter yang sama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN