Mohon tunggu...
Alin You
Alin You Mohon Tunggu... Insinyur - Penyuka fiksi, khususnya cerpen dan novel.

PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) • Penulis Amatir • Penyuka Fiksi • Penikmat Kuliner • Red Lover Forever • Pecinta Kucing

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Serial Noval] Pesona Mang Madun

17 November 2019   11:50 Diperbarui: 17 November 2019   14:34 95
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dan ketika Bi Isah keluar dari rumah, Mang Madun pun segera menyapa. "Pagi, Bi Isah. Tos aya rencana naon buat masak ayeuna? Mangga atuh, Bi, banyak sayuran seger di dieu."

Dalam sekejap, gerobak sayur Mang Madun pun telah dikerumuni oleh ibu-ibu yang tinggal tak jauh dari rumah Aki Dahlan. Dan aku pun iseng memperhatikan tingkah ibu-ibu saat berbelanja sayuran. Ada yang malah asyik ngerumpi sesamanya. Ada yang buru-buru mengambil apa yang dibutuhkannya dan segera membayarnya. Dan ada pula yang malah terlibat tawar-menawar dulu dengan Mang Madun. Di tengah keisenganku memperhatikan tingkah ibu-ibu itu, sesosok bidadari cantik pun melintas dengan sepedanya. Dia itu... Violet. Bidadari cantik yang sejak kemarin berhasil mencuri hati dan pikiranku.

"Neng Vio, kunaon cape-cape ka dieu atuh, Neng? Tunggu weh atuh di rumah, ntar juga Mang Madun lewat situ," sapa Mang Madun kepada sang bidadari yang rupanya hendak ikut serta berbelanja sayuran juga.

"Kelamaan atuh, Mang. Ntar sampe rumah yang ada cuma tinggal daun bawang dan ikan peda doang," Sang bidadari menjawab sambil tersenyum. Membuat perhatianku jadi terfokus padanya.

Dengan sigap, perempuan yang kutaksir berusia pertengahan tiga puluhan itu mencari, memilih dan memilah sayuran dan lauk yang akan diolahnya hari ini. Dan setelah semua belanjaannya rampung, sang bidadari alias Neng Vio itupun menyerahkan selembar uang biru kepada Mang Madun dan mendapatkan kembalikan.

"Hei, gak mo mampir dulu neh?" Aku pun berseru saat kulihat sang bidadari telah menaiki sepedanya lagi.

"Sori, A, gak sempat. Aku kudu masak dulu, trus berangkat ke kantor. Atau kalo A Noval gak sibuk, bisa datang nanti ke rumah Pak Idrus ba'da dzuhur. Kami akan mengadakan pertemuan pertanian di sana."

Dan tanpa ba-bi-bu lagi, dilajunya sepeda mininya itu kembali menuju ke rumahnya. Tinggallah aku yang melongo menatap kepergian gadis yang sudah sejak kemarin menarik perhatianku itu.

***

Setelah kepergian Mang Madun beserta gerobak sayurnya...

"Berarti setiap hari itu Mang Madun akan berkeliling ke tiap-tiap dusun seperti tadi itu ya, Bi?" tanyaku ikut mengekor Bi Isah ke dapur yang akan segera menyiangi ikan mas yang baru saja dibelinya dari Mang Madun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun