Mohon tunggu...
Danasmara
Danasmara Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Seorang pembelajar yang mengagumi keindahan. Karena hidup itu indah, dan semua yang indah tak diraih dengan mudah. Seorang rakyat jelata yang bangga akan bangsanya, Sepenuhnya Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Menipu Rindu

27 Januari 2017   16:23 Diperbarui: 27 Januari 2017   21:55 260
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dana merenung, tiba-tiba ada hasrat sekadar menipu rindu dengan melihat sosok yang seringkali mengusik waktu sibuknya. Dan sayangnya, ada begitu banyak pintu yang sudah ditutup oleh lawan rindu itu. Di tiap sosial media, Dana sudah tidak lagi terhubung. Semua akses diblokir. Memang ada beberapa foto yang masih tersimpan rapi di folder yang sama sekali tidak Dana hidden. Tapi itu adalah foto lama, kenangan yang sudah dua tahun lebih menggenang, dan setiap rindu menginginkan kabar terbaru.

Kemarin, lebih dari tiga hari lalu. Dana coba mengintai lewat applikasi instagram. Ada satu tanda gembok yang membatasi. Lebih dari sekadar gembok biasa. Kemudian ia buka Whatsapp, sekali lagi nihil. Karena tak ada gambar yang tertera di sana. Bahkan juga nomor yang dulu pertama kali menghubungkan Dana dengan Tiara juga sudah diblokir. Alhasil, di mata Dana, kontak Whatsapp itu hanya terdapat gambar tanpa rupa.

Dana membuka whatsapp, kali ini dengan handphone yang lain, dengan nomor barunya. Ia ketik nama yang amat ia kenal, tak berubah semenjak pertama kali ia simpan. Tertulis singkat dan amat multitafsir, "IL". Dan hasilnya, seperti yang beberapa menit lalu ia harapkan. Sesosok gadis manis berambut pirang sebahu, nampak rada tembem dibanding terakhir kali mereka bertemu. Tepat dua tahun lalu.

Dana sedang beruntung, karena hari ini ia mendapati kontak itu disertai foto Tiara. Dulu, ketika hubungan mereka belum sedingin ini, seringkali foto yang terpampang adalah gambar boyband Korea, Drama Korea ataupun meme yang menggambarkan perasaan Tiara. Tapi kali ini beda, membuat sebagian kerinduan Dana sembuh, kemudian di waktu yang sama menambah kadar rindu itu.

Dana menyadari sepenuhnya, bahwa hidup perihal menginjak gas atau menginjak rem. Seberapa keraspun ia ingin meninggalkan kenangan, momen kerinduan seperti ini selalu bisa mendahuluinya. Dan kini, setiap momen itu menggoda untuk dilalui sekali lagi.

Tatkala memandang foto itu. Dana menyaksikan, ada rona bahagia yang nampak dipaksakan, atau bisa disebut ada sesuattu yang kurang. Senyum itu berbeda dari apa yang dulu terjalin. Cantik memang, Tiara masih nampak cantik, kalau boleh jujur lebih cantik dari dua tahun lalu. Wanita selalu pintar menumbuhkan kecantikannya.

Tapi, sepertinya Dana juga melihat sesuatu. Sesuatu yang tersembunyi di balik permukaan. Senyumnya, senyum Tiara, rasanya tidak selepas saat bersama Dana dahulu. Ada sedikit yang membanggakan Dana bahwa rupanya ketidak hadirannya dalam hidup Tiara berdampak, tapi juga di waktu yang sama Dana tidak tega melihat kekasihnya bersedih, maksudku mantan kekasihnya.

Dana selalu cerdas bila menyoal Tiara. Ia terkadang tahu apa yang belum diungkap. Tebakan Dana seringkali tepat jika tentang kedalaman hati Tiara. Menegaskan satu hal menjadi sebuah fakta. Fakta yang tidak akan pernah disanggah alam, bahwa Dana selalu berhasil membuat kesedihan Tiara mengambang lalu berganti dengan senyum ringan yang terus berkembang. Kekuatan yang sulit ditemukan pada semua lelaki yang mendaftarkan diri mencuri hati Tiara.

Aku dapat melihat. Mereka masih sama-sama membutuhkan, sama-sama tahu bahwa membuat jarak tak menjadikan mereka melupakan satu sama lain. Ada banyak adegan yang terlalu sulit diperankan oleh orang lain, dan sebagai pemeran utama dalam cerita kehidupannya, Dana memilih menyendiri dan tak berniat mencari pemeran utama wanita yang lebih baik.

***

Jika kalian belum pernah mengenal Tiara. Ada baiknya di bagian ini aku perkenalkan lebih dahulu. Tiara, ia memiliki mata biasa sebagaimana mata lentik lain. Alisnya tak begitu tebal tapi berhasil menghias mata bening itu. Lensanya hitam, lebih hitam dibanding lensa mata Dana yang agak kecoklatan. Lensa itu, lensa mata milik Tiara, masihlah lensa alami, tak seperti kebanyakan wanita lain yang mempercantik matanya dengan barang buatan. Dan mata natural itu, juga amat disukai Dana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun