Mohon tunggu...
Alfi Pangest
Alfi Pangest Mohon Tunggu...

Pembelajar, pekerja sosial, penikmat buku, penggiat pendidikan, pecinta seni dan budaya, desain, serta sepakbola.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Mengeja Angin

25 Desember 2014   17:38 Diperbarui: 17 Juni 2015   14:28 102 0 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengeja Angin
14194780302085907413

Dingin, tenang, memberi kekuatan, orang menggambarkanku demikian. Ada kalanya aku menyejukbijakkan, pelan menenangkan, sesekali melenakan. Ada saatnya aku menjadi dahsyat, membawa pesan tertentu lalu lenyap dengan cepat. Begitulah mereka mengenalku dalam beragam peristiwa, meski mereka tak pernah benar-benar menyaksikan rupa. Seperti sifat yang Sang Pencipta berikan buatku, tak kasat mata tetapi hadirnya senantiasa bisa dirasa. Dan kali ini, akan aku ajak engkau lebih mengenalku.


[caption id="attachment_343282" align="alignnone" width="564" caption="Sumber Inspirasi Gambar : https://mandhut.files.wordpress.com/2014/12/pendekar_tongkat_emas-20140429-002-rita.jpg"][/caption]

Aku dilahirkan di tempat nun jauh, dengan padang rumput sekelilingnya, sungai bersih nan jernih sepanjangnya, beserta rimba yang asri luar biasa. Tempat terbaik bagi seorang penyendiri untuk hidup tenang tanpa hingar bingar keriuhan. Aku hidup bersama pertempuran, sembuh bersama luka-luka, dan tumbuh bersama suka-duka. Aku besar di tempat kecil yang orang sebut Perguruan Tongkat Emas, menimba ilmu dengan mahaguru Cempaka. Selainku, ada dua kakak seperguruan yang bergabung di tempat ini sedari dulu. Seorang penuh semangat dan berilmu bernama Biru dan perempuan misterius lagi jelita bernama Gerhana, aku sangat mengagumi mereka. Bersama, kami tinggal dan berlatih untuk menjadi pendekar terbaik di dataran ini. Namaku Angin Lembah, dan berikut adalah kisahku.

Ohya, aku juga akan mengenalkanmu dengan perempuan paling mengagumkan yang pernah aku temui, kakakku. Tentu saja sebab aku tak lagi mampu mengingat rupa dan masa-masa bersama ibuku di saat lalu. Kekaguman itu kuterjemahkan dengan keinginanku untuk selalu membersamai dan melindunginya. Aku memang lebih kecil dan lebih muda, tetapi aku t’lah berjanji untuk menjaga Dara semampu yang aku bisa. Ya, Dara namanya. Kami selalu bersama dan tidak akan pernah terpisahkan.

Malam itu nampak tiada beda dengan malam-malam lainnya, kecuali ketika mahaguru Cempaka mengumpulkan kami berempat untuk sebuah perihal. Tongkat Emas sebagai simbol perguruan sekaligus identitas pendekar terpilih, akan diwariskan kepada salah satu dari kami. Ini sekedar upacara pentahbisan bagi Biru, murid mahaguru Cempaka yang paling siap dan paling kuat. Tentu saja aku sadar diri, musykil bagiku – atau bahkan Dara untuk mewarisi tongkat sakti berikut jurus saktinya. Punya kesempatan berlatih dan menempa diri di tempat ini, sudah menjadi keberuntungan tersendiri. Sampai kabar mengejutkan itu diucapkan sendiri oleh sang mahaguru.

“Tongkat ini aku berikan kepada Dara.”


Entah bagaimana kalimat pastinya, yang pasti itulah kalimat yang sanggup aku cerna. Harus aku jelaskan lebih dulu, Sang Pencipta memberiku kecerdasan dan kelincahan tubuh. Namun, aku tak begitu pandai dalam berkata-kata atau menyimak manusia lain berbicara. Tulisan ialah satu-satunya jalan mengungkapkan apa isi hati dan kepalaku, agar orang mengerti. Dan malam itu, jujur aku tak mampu menjelaskan ketidakkeruan perasaanku. Yang jelas pertemuan malam itu ditutup dengan kabar bahwa esok mahaguru Cempaka akan pergi bersama Dara dalam beberapa masa. Dan aku, diminta turut serta merawat kondisi mahaguru Cempaka yang semakin tidak sehat dari sebelumnya. Entahlah, angin malam ini terasa lebih dingin dan menusuk dibandingkan malam-malam lainnya.

Bersama dingin, aku ingin, berkelana laiknya sebenar-benarnya angin ...


***

[caption id="attachment_343315" align="alignnone" width="640" caption="Angin Lembah"]

1419483357863356078
1419483357863356078
[/caption]

Esok harinya kami bertiga berangkat, aku harusnya bersemangat sebab akan melihat secara langsung mahaguru Cempaka menurunkan jurus Melingkar Bumi kepada Dara. Namun, keadaan beliau lebih buruk dari semalam. Dan yang paling buruk ialah, ketika kami diiringi pelepasan khusus dari Biru dan Gerhana. Mereka rupanya belum rela bila kami meninggalkan perguruan tanpa adanya upacara perpisahan, awalnya aku berpikir demikian. Aku menyadari kepolosanku manakala keduanya tega melukai mahaguru Cempaka.

Ini merupakan bagian tersulit ‘tuk dikisahkan. Aku masih ingat pertarungan Biru dan Gerhana melawan kami bertiga, sama sekali tidak seimbang. Apabila laga diteruskan, hasilnya bisa dipastikan bahwa kami bertiga akan menemui kekalahan. Sampai ketika mahaguru Cempaka memutuskan mengorbankan dirinya, demi menyelamatkan aku dan Dara. Tapi ini memang pilihan sulit, ketika pilihan-pilihan yang tersedia tak satupun seperti yang ku minta. Dara sebetulnya bersikeras ingin ambil bagian di pertarungan dan menyelamatkan mahaguru Cempaka, tetapi aku memaksanya agar mematuhi perintah sang guru. Aku bersyukur tidak melihat akhir pertarungan tadi, pedih rasanya melihat mahaguru tewas di tangan kakak seperguruan yang aku kagumi. Kali ini aku harus kuat, atau setidaknya harus terlihat kuat, demi Dara.

Nyaris saja Tongkat Emas berhasil mereka rebut, kami terjatuh dan selanjutnya entah bagaimana yang aku ingat kami sudah terbangun dalam sebuah gubuk. Aku mendapati seseorang menolong kami, sosok penuh misteri dengan tatapan tajam bagai elang. Entah bagaimana, instingku berkata orang ini baik dan aku percaya dengannya. Dara siuman, dan kami memutuskan tinggal di perkampungan ini beberapa waktu sembari memulihkan diri sebelum melanjutkan pencarian kami akan Pendekar Naga Putih.

Dara bukan pribadi yang mudah percaya dengan orang lain, pun kali ini. Sulit baginya yakin dengan kebaikan hati orang lain, tapi itu hanya masalah waktu sampai ia sepenuhnya percaya. Entah peristiwa apa yang menjadikannya yakin dengan Elang, nama pria rupawan yang dingin ini. Kami pun bertahan di kampung ini lebih lama, dibersamai kebajikan manusia-manusianya, sebab Elang berjanji mengantar kami pada Pendekar Naga Putih lusa. Namun, Dara mengubah pendiriannya tetiba pasca melihat potret wajah kami disebar di kampung sebelah. Dugaanku, ini disebar oleh mereka yang menginginkan Tongkat Emas milik Dara. Aku begitu ingin bertahan di sini lebih lama, tetapi malam itu juga kami terpaksa pergi tanpa sempat berpamit diri.

Perasaanku berkata, akan ada bahaya mendatangi kampung yang kami singgahi tadi. Benar adanya, penduduk diancam oleh sekelompok orang yang mencurigai keberadaan kami, aku sendiri tidak mau tinggal diam menyaksikannya. Akalku berpikir cepat, mereka bisa ditahan sementara apabila aku melawan sembari berharap Dara bisa kabur sejauh mungkin sambil menemukan Pendekar Naga Putih. Namun, pertimbangan terbesarku tentu saja untuk menghindarkan Dara dari marabahaya, berikut Tongkat Emas yang dimilikinya. Maaf, Dara, ini adalah demi kebaikanmu. Tidak mengapa bila sampai aku tertangkap, asalkan Dara terbebas untuk sementara.

Bertahun-tahun aku dan Dara bersama, tidak pernah terbayang kami akan berpisah dengan cara seperti ini. Ancaman sekelompok orang ini untuk menyakiti penduduk desa harus ditebus dengan penyerahan diriku. Akhirnya aku merelakan diriku sebagai tebusan untuk diserahkan kepada empunya sayembara. Kala terbangun suasana seperti tidak asing bagiku, aku mengenal sekali tempat ini. Ya, aku disekap di gubuk yang sudah aku anggap seperti rumah bagi kami. Sesuai prakiraan, Biru-lah dalang penangkapan ini. Tidak hanya menyekap, dia juga mengancam dan menyiksaku. Tujuan Biru menangkapku tentulah, agar Dara mau menukar Tongkat Emasnya dengan aku. Astaga, ini tidak seperti yang aku kira! Aku tentu berharap Dara lebih dulu menemukan Pendekar Naga Putih, berlatih jurus Melingkar Bumi, kemudian datang menyelamatkanku. Tetapi bisa saja ia memilih menukarku dengan warisan mahaguru Cempaka saat itu juga. Sejujurnya, saat itu aku tidak ingin Dara menyelamatkanku.

Tidak, aku tidak menginginkan ini terjadi! Dara betul-betul datang untuk menyelamatkanku. Kalau hanya untuk menyerahkan Tongkat Emas kepada orang yang tidak seharusnya, mengapa tidak sedari awal saja, mengapa justru ketika pencarian Pendekar Naga Putih sudah menemui titik terang, mengapa saat Elang sebetulnya tinggal sedekat ini mengantarkan kami, mengapa? Toh aku sadar, Biru tidak hanya menginginkan senjata ini tetapi juga ajal kami berdua. Aku tidak paham cara berpikir Dara kali ini, tapi sudahlah. Angin mesti tetap berhembus, biarkan hawa membius.

Pertukaran berlangsung dan seperti perkiraan, Biru seketika mengejar aku dan Dara. Pelarian kali ini mungkin yang paling melelahkan, kami menyusuri bukit, melewati padang rumput, lalu menyingkap rimba. Cepat atau lambat, kuda yang kami tunggangi akan tersusul. Dara dan aku harus bergegas mengalihkan perhatian Biru, atau kami berdua bakal tewas pada akhirnya. Lagi-lagi aku dihadapkan pada pilihan yang semuanya tidak aku inginkan. Tapi sekali lagi, aku harus setia pada janjiku melindungi Dara. Pertemuan kami selepas sempat berpisah, sepertinya tertakdir sebagai salam perpisahan kami. Maaf kakak, aku terpaksa meninggalkanmu kali ini. Mungkin untuk selama-lamanya.

***

[caption id="attachment_343283" align="alignnone" width="642" caption="Sumber Inspirasi Gambar : http://harnas.co/2014/12/12/sosok-anak-kecil-di-pendekar-tongkat-emas"]
1419478340996936598
1419478340996936598
[/caption]

Mungkin, engkau akan mengenangku sebagai seorang adik yang merelakan jiwa raganya untuk melindungimu. Tapi, aku akan mengenangmu sebagai pribadi mulia yang pantas untuk dilindungi, karena keteduhan hatimulah yang membuatku melakukan apapun asalkan engkau bertahan hidup dan mampu berbuat kebajikan pada sebanyak-banyaknya manusia di luar sana. Terima kasih atas kasih sayangmu selama ini, Dara.

Aku mungkin menjadi dosa terbesarmu, yang menyimpan sejuta misteri dari masa lalumu. Tapi engkaulah mengajari kami yang polos dan tidak menahu apapun menjadi pendekar dengan beribu kemampuan. Yang lebih penting dari itu, engkau mengajari kami menjadi manusia seutuhnya, yang membela yang baik dan benar, serta melawan yang buruk lagi salah. Terima kasih menjadikan masa hidupku yang singkat ini lebih bermakna dan berguna. Engkau sosok pendidik luar biasa, mahaguru Cempaka.

Kita memang saling mengenal kurang dari satu purnama, tapi aku serasa mengenalmu dua belas tahun lamanya. Aku hanya berharap engkau mampu menggantikanku dalam menjaga dan membahagiakan Dara. Tatapan tajam itu, caramu bertutur pada Dara jua padaku, sikap bajikmu, dan bagaimana Dara menanggapimu. Aku rasa aku tahu apa artinya meski aku tidak tahu ungkapan yang tepat untuk menyebutnya. Jadilah lelaki yang memegang teguh janji-janji, karena pendekar sejati takkan pernah mengkhianati kata-katanya sendiri. Terima kasih telah hadir dan menyelamatkan kami, Elang.

Aku banyak berguru dari kalian berdua, tidak hanya tentang ilmu dan jurus-jurus, tetapi belajar menjadi pendekar yang seharusnya. Aku belajar untuk menepikan egoku, menyingkirkan nafsu menjadi yang terkuat, tidak menghalalkan segala cara demi tujuan pribadi. Terima kasih untuk mengajariku, bahwa keterampilan bertarung yang hebat, ternyata harus diimbangi dengan niat yang tulus nan kuat. Dan dari kalian aku belajar, untuk tidak menjadi seperti kalian. Terima kasih banyak, Biru dan Gerhana.

***

Kehadirannya menyejukkan, memberi kehidupan, memberi faedah bagi semesta. Siapapun, di manapun, kapanpun engkau membaca ini, semoga surat ini mampu mengobati kerinduan, rasa penasaran, dan keingintahuanmu akan Angin. Karena yang terlupakan, tidak masyhur, memilih kesendirian sebagai tempat terbaiknya, bisa jadi memiliki kemampuan memaknai lebih dalam dibandingkan yang lebih banyak tersorot kilau cahaya. Ia yang memendam dalam diam, bisa jadi tahu lebih banyak tetapi menjaga diri untuk tidak tinggi hati. Terima kasih telah membiarkan kami mengenalmu, Angin.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x