Mohon tunggu...
Loganue Saputra Jr
Loganue Saputra Jr Mohon Tunggu...

"Seri Langit Terbelah Dua merupakan efik cerita awal kehidupan manusia di dunia, berawal dari pengusiran dari Surga hingga kepada perang besar yang membawa dunia menuju kiamat"

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kereta Cinta Terakhir

10 September 2012   13:54 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:40 234 4 2 Mohon Tunggu...

Jendela kamar membuka di antara Mauda dan Irwadi, di depan mereka dua gelas teh menjadi dingin, di depan mereka pot bunga tembikar bercorak pelangi menampung mawar melayu. Jari telunjuk mereka berdua saling sentuh dengan canggung akan tetapi tak rela waktu membuat itu menjauh.

“Bisakah kau tidak pergi?,” tanya Mauda, meski pun dia tahu hal itu tidak mungkin terjadi.

“Aku akan kembali.” Akhirnya Irwadi memberanikan diri untuk memegang telapak tangan Mauda seutuhnya.

Mauda mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. “Aku ingin kau menyimpan ini.” Benda itu adalah sebuah kartu post yang bergambarkan pemandangan pantai, di samping kirinya terdapat pondok indah dengan ilalang tumbuh di sekitarnya.

“Indah sekali.” Irwadi berkomentar.

“Ketika kau jauh cobalah untuk melihat ini dan mengingatku, bayangkan kita akan berada di sana hidup selamanya hingga maut memisahkan kita.” Air mata Mauda mengalir dengan perlahan.

Irwadi menyimpan kartu post tadi di sakunya kemudian menyapu air mata Mauda yang tidak lagi bisa berhenti. “Aku pasti akan kembali dan bila waktu itu tiba kita akan kesana hidup seperti yang tadi kau katakan.”

“Bisakah kau tinggal lebih lama lagi?.”

“Maafkan aku,” ucap Irwadi seakan perpisahan itu adalah kesalahan yang telah dilakukannya.

~

Di halaman belakang rumahmu, aku tak akan mau melupakannya. Aku berharap setelah hari itu kita akan selalu bersama selamnya. Namun harapan dan impian itu tidak akan terasa indah jika tidak ada cobaan.

Di halaman belakang rumahmu, aku tak akan mau melupakannya. Kurasa cinta kita tidak akan hanya sekilas itu, karena aku tahu ; apa yang aku rasakan sama dengan apa yang juga kau rasakan dan kita punya banyak harapan atas itu.

Namun waktu menyeret kita dalam ruang yang berbeda. Setiap kali kuterima surat yang kau kirimkan, aku tak pernah bisa menahan rinduku, jadi surat-surat itu aku simpan menjadi satu disuatu tempat yang tidak akan pernah hilang.

Tentang pantai dan rumah indah di sana, kubangun sebuah dermaga indah dengan lentera tergantung di tiang jembatannya. Kita berdua mengawasi fajar, merasakan udara dingin berlalu di antara kita. Dan saat gelombang menggulung kecil, kupeluk kau agar kita menjadi hangat.

Kupeluk dan tak akan pernah kulepaskan.

~

Kereta mulai berteriak, pertanda akan segera berangkat, Mauda dan Irwadi berdiri di depan salah satu pintu kereta, saat Irwadi memasuki kereta, Mauda hanya mampu memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku akan kembali.” Irwadi meyakinkan lagi.

Namun Mauda tak mampu berkata apa-apa, dan saat kereta mulai bergerak, Irwadi masih menatap Mauda dari jendela. Mauda berlari mengejar kereta, sekuat apa yang bisa dilakukannya. Kereta semakin menjauh, hingga akhirnya Irwadi tak terlihat lagi.

Mauda terhenti di ujung jalan, dia menatapi gerbong terakhir yang akhirnya berlalu. Ketika kereta sudah cukup jauh namun masih bisa terlihat jelas, Irwadi keluar dari pintu gerbong belakang, dia berdiri di sana menatap kearah Mauda yang tajam menatap kearahnya.

“Aku mencintaimu,” teriak Irwadi, walau suara kereta jauh lebih lantang dari suaranya.

Mauda membiarkan airmatanya menetes di setasiun itu. Aku tahu kau pasti akan kembali untuk menepati janjimu dan perang tidak akan mampu bertahan memisahkan kita untuk selamanya

“Aku mencintaimu,” bisikan pelan itu adalah bisikan cinta terakhir yang diucapkan oleh Mauda untuk Irwadi.[]

~

NB : untuk yang pergi dan ditinggalkan

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x