Mohon tunggu...
Meirri Alfianto
Meirri Alfianto Mohon Tunggu... Insinyur - Seorang Ayah yang memaknai hidup adalah kesempatan untuk berbagi

Ajining diri dumunung aneng lathi (kualitas diri seseorang tercermin melalui ucapannya). Saya orang teknik yang cinta dengan dunia literasi

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Puluhan Ide Berkecamuk di Kepala, Bagaimana Cara Menuangkannya?

10 Juli 2021   08:00 Diperbarui: 10 Juli 2021   08:03 606
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pesona Arya Saloka yang kata mama-mama muda melebihi Song Joong Ki. Gambar: tribunnews.com

Salah satu cara untuk mengatasi kecemasan adalah dengan tetap memelihara hobi. Menulis itu adalah hobi.  Hobi menulis menghasilkan sebuah karya literasi. Dengan demikian, menulis juga suatu seni. Bermain dalam taman seni dibutuhkan imajinasi yang kaya. Imajinasi itu kemudian lahir menjadi sebuah ide.

Nah, adakalanya ide itu sulit didapat. Ini yang sering terjadi. Untuk kasus seperti ini, saya pernah menulis sebuah artikel tentang cara simpel mendapatkan ide menulis di Kompasiana. Bagi yang ingin membacanya sila kunjungi tautan berikut.

Namun tak serta-merta ide di kepala itu habis. Malahan ide terkadang datang beramai-ramai hingga bergelayut di kepala laksana kelapa muda hijau yang ranum. Belum terlalu matang, tetapi sudah siap untuk dipanen menjadi segelas minuman yang berkhasiat. Bagaimana cara memanennya?

Kamu mungkin memiliki sejuta ide. Namun bila kamu tidak lihai mengeksekusi maka ide hanya akan terus menjadi ide to? Ia tak akan pernah bisa menjadi suatu hal yang nampak serta dapat dinikmati. Ide itu bukan layaknya mumi yang diawetkan. Kamu harus membuatnya kasat mata. Bagaimana mengeksekusi sebuah ide? Coba kita ulas. Tentu ini adalah versi saya. Versi kamu mungkin lain. Dalam tulisan ini tentu saja bagaimana mengeksekusi ide menjadi sebuah tulisan ya.

1. Minimum tuliskan ide menjadi sebuah judul tulisan

Menulis judul tulisan itu gratis bukan? Apalagi menulisnya di media sekaliber Kompasiana. Ntar juga masih bisa diedit lagi kok. Terkadang memang ide itu datang begitu saja. Lagi asyik meeting, ide datang. Lagi di jalan ngeliat orang jualan eh timbul ide. Lagi main kerumah calon gebetan, lha kok tiba-tiba nongol ide. Intinya, sering ide itu muncul di waktu yang kurang tepat. Maka supaya tidak lupa, minimal tulislah kedalam bentuk judul.

Mari ambil contoh. Kamu lagi main kerumah tetangga yang lagi nonton Sinetron Ikatan Cinta. Tiba-tiba muncul ide. Tulis saja judulnya dulu bila belum sempat nulis. Misalnya: Ikatan Cinta, Sinetron yang Digandrungi Mama Muda.

2. Tulis pokok-pokok pikirannya

Bila sudah ada waktu, teruskan judul tersebut. Tuliskan pokok-pokok pemikiran yang hendak disampaikan. Pokok-pokok pikiran merupakan garis besar dari tulisanmu. Ia seperti alinea-alinea yang akan menyusun artikelmu nanti.

Saya ingin ambil contoh meneruskan dari judul diatas. Pokok pemikirannya kira-kira begini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun