Mohon tunggu...
Alex Purnadi Chandra
Alex Purnadi Chandra Mohon Tunggu... Bankir -

Pendiri BPR Lestari. Sekarang BPR #3 se-Indonesia dr sisi asset. Membangun bisnis dari nol sejak 15 thn yg lalu. Sekarang chairman grup bisnis Lestari. www.alexpchandra.com

Selanjutnya

Tutup

Money

2015: Year of Living Dangerously

4 September 2015   09:34 Diperbarui: 4 September 2015   09:45 235
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Jadi ketika kini rupiah menyentuh 14,000,- bayangan ‘krismon’ yang menjungkirkan langit teringat kembali.

Sebenarnya kalau diikuti logic-nya, Cina mendevaluasi yuannya, karena ekonominya melambat terus. Setelah sekian tahun tumbuh terus diatas 10%-an, 3 tahun belakangan Cina melambat terus. Tahun depan diprediksikan melambat lagi. Cina ‘kepanasan’.

Karena Cina itu enggak karu-karuan besarnya, melambatnya Cina ikut mengakibatkan menurunnya permintaan energi. Menurunnya permintaan dan juga karena anjloknya harga minyak,  makanya harga komoditi juga jatuh. 

Nah Cina mendevaluasi Yuan-nya, tujuannya agar ekspornya naik lagi. Bahkan ada kabar bunga akan diturunkan. Tujuannya supaya ekonominya pulih lagi.  Nah kalau Cina bisa revocery cepat, permintaan komoditi akan naik lagi, membantu Indonesia. Ingat enggak jaman jaya-jayanya batubara? Itu karena permintaan dari Cina lagi tinggi-tingginya, sampai-sampai kalau tidak salah Jupe-pun berbisnis batubara.

Mengenai impor yang jadi mahal, ya, kita jangan beli barang impor. Kurangi sedikit addiction to import-nya. Yang jadi masalah memang bahan baku dan beberapa bahan makanan (kedele) masih dimpor. Ya sementara jangan makan tempe. Kita punya beras, jagung, ketela, sayur-sayuran. Sapi ada, ayam ada.

Pengusaha elektronik, industri yang bahan bakunya impor memang akan terpukul.

Saya pikir, untuk masalah ‘rupiah’ ini kita tidak bisa berbuat banyak. Ini permainan global. Fokus saja bagaimana menggerakkan kembali perekenomian. Kalau pendapatan masyarakat naik, barang mahal pun kebeli.

Ayah saya selalu berkata, kita tidak perlu takut harga naik, yang kita takutkan adalah kita tidak punya pendapatan.

OKE, SEKARANG HARUS BAGAIMANA?

Sebagai pebisnis, kita tidak bisa mengubah kondisi makro. Tugas kita adalah menavigasi bisnis dan perusahaan kita mengarungi ‘topan badai’.

BPR Lestari mudah-mudahan bisa melewati ‘topan-badai’ ini dengan baik. Kita sudah bersiap-siap dari tahun kemarin. Wisdom-nya adalah ketika krisis “Cash is King”.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun