Mohon tunggu...
Akmal Husaini
Akmal Husaini Mohon Tunggu... suka menjaga kebersihan

kebersihan sebagian dari iman. Karena itulah jadilah pribadi yang bersih

Selanjutnya

Tutup

Media

Empat Sifat yang Bisa Menangkal Radikalisme

30 Januari 2016   15:11 Diperbarui: 30 Januari 2016   15:52 0 0 0 Mohon Tunggu...

[caption caption="damailahindonesiaku.com"][/caption]Fathali Moghaddam, seorang professor asal Iran pernah menggambarkan, bagaimana transformasi seseorang dari radikal menjadi teroris. Ada tahapan dengan berbagai dinamika yang harus dilalui. Pertama, individu mencari solusi tentang apa yang dirasakan sebagai perlakuan yang tidak adil. Kedua, individu membangun kesiapan fisik untuk memindahkan solusi atas persolan tersebut, dengan penyerangan yang dianggap musuh. Ketiga, individu mengidentifikasi diri dengan mengadopsi nilai moral dan kelompoknya. Keempat, setelah memasuki organisasi teroris, tidak ada kesempatan untuk keluar dalam keadaan hidup. Pada tahap inilah, secara psikologis mereka siap dan termotivasi untuk melakukan kegiatan terorisme.

Lalu, adakah cara untuk menangkal radikalisme yang bisa mengarah pada tindak terorisme? Ingat, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Islam, sebagai agama dama dan cinta kasih, telah memberikan bimbingan agar terhindar dari pengaruh negatif. Sifat yang melekat pada Rusullah SAW adalah, Al Amin (dipercaya), Assiddiq (jujur), Alfatonah (cerdas) dan Attabligh (menyampaikan). Sifat-sifat inilah, yang bisa menjadi acuan, untuk mengajarkan konsep pendidikan kepada anak-anak kita.

Mari kita ulas satu per satu. Al Amin atau dipercaya. Membangun sebuah kepercayaan, tidah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses yang tidak singkat. Kepercayaan seringkali dijadikan sebuah ukuran, dalam menjalani sebuah proses kehidupan. Misalnya, jika Anda bekerja dengan sungguh-sunggu, Anda bisa dipercaya oleh pimpinan untuk jadi manajer, karena dipercaya bisa menggerakkan roda perusahaan.

Kejujuran. Jika kejujuran sudah tidak lagi dianggap sebagai barang berharga, kehidupan ini tidak akan ada artinya. Yang ada adalah kebohongan. Segala sesuatunya dicapai dengan cara kebohongan. Banyak fakta yang mengajarkan kepada kita, segala sesuatu yang dibangun berdasarkan kebohongan, pasti akan hancur. Untuk itu, ajarkanlah anak-anak kita kejujuran sejak dini.

Alfathonah atau cerdas. Ajarilah anak-anak kita dengan hal-hal yang kreatif dan positif. Mencerdaskan kehidupan anak tak kalah pentingnya mengajarkan kepada anak-anak sifat kejujuran dan kepercayaan. Dengan mencerdaskan anak, kita secara tidak langsung mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab. Bahkan, akan membentuk pribadi anak yang mampu menyikapi perkembangan yang terjadi di sekitarnya.

Attabligh, atau menyampaikan. Seseorang harus mampu menyampaikan kebaikan, kepada setiap orang. Pada titik ini, semua makhluk di bumi ini diharapkan bisa berbuat baik kepada siapa saja. Saling berbuat baik, dan menyampaikan kebaikan kepada sesama, akan menciptakan kondisi yang damai dan tenteram.

Keempat sifat inilah, seharusnya bisa kita tanamkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar kita. Dengan sifat dipercaya, kita tidak akan menyelewengkan amanah yang telah diberikan. Dengan kejujuran, kita tidak akan menyebarkan kebohongan, yang bisa membawa kondisi makin semrawut. Dengan kecerdasan, kita bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Bukan menciptakan sesuatu yang justru merugikan. Dan dengan tabligh, kita selalu menyebarkan paham yang benar. bukan paham yang berseberangan dengan ajaran agama.

Dengan mengajarkan keempat sifat ini, generasi muda yang masih suka akan kekerasan, diharapkan bisa kembali menjadi negeri yang suka pada kebaikan. Tidak ada lagi kekerasan atas nama agama. Tidak ada lagi teror. Dan tidak ada lagi kebencian antar sesama. Yang ada adalah, generasi yang cinta damai, bukan generasi yang suka terhadap paham radikal.

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x