Mohon tunggu...
NIA
NIA Mohon Tunggu... Penulis - Finding place for ...

- Painting by the words

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Move On

1 Desember 2021   07:11 Diperbarui: 12 Juni 2022   23:31 130
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Source : Libertad Leal /flickr/https://id.pinterest.com/pin/1196337391672749/

"Ini bukan hukuman, tapi ujian untukmu agar bisa naik level. Jika mampu melaluinya, Tuhan pasti akan semakin sayang padamu." Balasan Nefa membuat Andika terkekeh lemah. Tapi Nefa mengatakannya dengan serius.

"Manusia memang memiliki keterbatasan untuk tahu hal di luar kemampuannya. Bukan salahmu jika terlambat mengetahuinya, terlebih karena Dare sengaja merahasiakan ini. Sejak awal dia tidak pernah mau berbagi cerita tentang mantan kekasihnya padamu, juga kepadaku," ucap Nefa tersenyum getir. Ia memerhatikan sejenak Andika yang mulai menyesap kopi, lalu meneguk minumannya sembari merenungi takdir yang saat ini dihadapi.

Bukan salah Nefa jika tidak mampu mengisi hati Dare dengan cinta yang baru. Pria itu punya kehendak sendiri. Sejak awal Nefa hanya tahu Dare menutup diri dari wanita, dia pun tidak ingin melampaui batasan sebagai teman untuk memaksa Dare berbagi cerita, sebagai bentuk sopan santun. Nefa mengakui kesalahannya yang mengulur-ulur waktu untuk menyatakan perasaan. Penyesalan memang selalu datang di akhir, di saat tenggat waktu kesempatan yang dimiliki telah habis. Tetapi sesuatu yang juga penting selain penyesalan adalah berusaha untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.

Lalu, apa kesalahan yang telah diperbuat Andika? Laki-laki di hadapannya ini tidak keliru apapun. Tidak tahu atau terlambat tahu jelas berbeda dengan sengaja tidak mau tahu. Dia murni sebagai korban dari tindakan Dare, ikut terseret dalam kesalahan yang dilakukan istrinya di masa lalu.

"Berbahagialah." Nefa meletakkan cangkir minumannya di atas cawan porselen. Andika memandangnya tidak mengerti.

"Berbahagialah," jelas Nefa lagi.

"Rawat dan jaga istrimu, perhatikan juga kesehatanmu. Bahkan jika kamu merasa sedang dihukum untuk menebus kesalahan atas kepergian Dare, masih ada kehidupan yang perlu dijalani. Jangan menyia-siakan waktu dengan menyesali sesuatu terlalu lama, apalagi dengan menyalahkan diri sendiri."

"Lalu, kamu?"

Nefa mengepalkan kedua tangan yang tersembunyi di bawah meja. Perlahan kepalanya mengangguk lemah diiringi simpul tipis di bibir.

"Saya juga akan berhenti. Tidak lagi menyesalkan keputusan Dare yang memilih cara itu. Berhenti berandai jika saya begini atau begitu mungkin dia masih bisa bertahan. Berhenti berduka tanpa melakukan apapun. Sebagai gantinya, saya akan fokus memperbaiki hidup, belajar dari kejadian ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik. " Nefa tersenyum lebih lebar dan memandang Andika.

"Mari kita cukupkan kesedihan ini dan berjuang untuk hidup kita!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun