Mohon tunggu...
AGUS WAHYUDI
AGUS WAHYUDI Mohon Tunggu... setiap orang pasti punya kisah mengagumkan

Jurnalis, pecinta traveling dan buku. Bekerja di Enciety Business Consult.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Gunting Dukun Bayi

12 Desember 2019   12:14 Diperbarui: 12 Desember 2019   18:15 177 12 4 Mohon Tunggu...
Cerpen | Gunting Dukun Bayi
Ilustrasi Jenazah (iStockphoto)

Saya mau dibawa ke mana, Pak?"

"Mbok, harus ikut ke kantor polisi!"

"Lha, saya salah apa, Pak?"

"Pokoknya Mbok ikut saja! Urusannya nanti di kantor polisi, ya!

Mbok Parli kalut. Belum sempat bibirnya menganga, polisi itu menyela, "Sudah Mbok, sudah. Sampeyan ikut saja!"

Dua polisi itu lalu bergegas memborgol tangan Mbok Parli. Tanpa daya, tanpa perlawanan. Mbok Parli hanya terbengong. Kedua tangannya berasa mengawang. Dingin sekali. Janda beranak dua itu, tanpa perlawanan, digelandang polisi. Naik mobil patroli. Polisi juga mengusung sebuah kotak yang dibungkus kain batik cokelat tua. Bungkusan itu diambil dari kamar Mbok Parli, di lemari pakaiannya.

Malam itu, ba'da Isya, benar-benar jadi malam nahas bagi Mbok Parli. Malam paling buram selama hidupnya. Hatinya benar-benar berbuncah. Dengan tangan disatukan borgol, Mbok Parli amat gugup. Bingung.

Di depan rumah sudah menanti para tetangga Mbok Parli. Cukup sesak. Sebagian tetangga tak percaya dengan sosok perempuan yang dilihatnya.

"Mbok Parli ditangkap polisi..!" seru mereka.

Wanita berambut panjang dan terlihat memutih itu, kini menghadapi perkara besar. Beragam ocehan keluar tanpa kendali dari orang-orang yang bergerombol di situ.

"Mbok Parli mau dipenjara. Dia katanya membunuh," Lukman, tetangga Mbok Parli, nyeletuk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x