Mohon tunggu...
Esdi A
Esdi A Mohon Tunggu... write like nobody will rate you

Robbi auzi'nii an asykuro ni'matakallatii an'amta alayya, wa alaa waalidayya; ... ya Allah, betapa banyak nikmat karunia-Mu dan betapa sedikit hamba mensyukurinya. | esdia81@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Hari Pertama Kuliah

16 Juni 2021   17:30 Diperbarui: 16 Juni 2021   20:33 65 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hari Pertama Kuliah
Kuliah tatap muka di kelas (huffpost.com).

Dosen Sudrajat mengingatkan saya pada guru Soedradjat. Warna suaranya mirip, intonasinya persis. Kemeja dan arlojinya juga hampir. Akan tetapi dari  semua perbandingan di antara keduanya,  yang paling mendekati plek adalah cara membuat sudut pandang.

Sudrajat  adalah guru besar teknik alumni kampus. Seangkatan dengan Yusril dan pernah bareng satu kos katanya. Doktor diselesaikan di Munich sehingga kerap pergi ke sana.

Perawakan Sudrajat sedang-sedang saja  tetapi terlihat cukup tangguh untuk laki-laki seusianya. Gemar  berkuda dan kadang main futsal dengan mahasiswa. Meskipun bola ditendang sekenanya tetapi semua senang. Sehabis bertanding semua pemain ditraktir makan bubur kacang.

Soedradjat mengajar fisika. IPA fisika di sekolah menengah pertama kelas VII. Bukan profesor pastinya. Namun apa yang nampak pada guru Soedradjat entah mengapa mengingatkan saya pada sosok tersebut.

Mungkin akibat kacamata tebal, sedikit gondrong,  dan gaya bicara yang kelak saya temui lagi pada kembarannya di kemudian hari, yaitu hari-hari ini. Dosen Sudrajat itu. Imajinasi saya tentang  profil seorang guru besar lalu seolah ditegaskan berkat gelar profesor yang disandang Sudrajat. Jika beliau cuma master  mungkin saya akan kecewa.

Gaya bicaranya itu mengawang-awang dahulu. Berputar-putar di angkasa seperti elang yang sedang memanggil hujan. Lalu secara tiba-tiba menukik tajam hingga  kadang seperti  memaksa hadirin untuk  memeriksa denyut nadi sendiri-sendiri.

Misalnya tentang sejarah katastropik  umat manusia yang datang secara berkala.

Menurut Prof. Sudrajat sebenarnya itu bukanlah fenomena luar biasa secara saintifik. Perang dunia, sampar, tsunami. Itu biasa sebagai kontrol populasi dan belum cukup dekat sampai kiamat memusnahkan manusia . Cuma soal skala yang lebih besar dari insiden harian, dan toh  intervalnya juga cukup jauh.

"Dalam skala mikro tiap individu menjadi unsur-unsur terkecil yang mengalami. Katastropik ibarat sakit yang bisa pulih. Kiamat ya kiamat. End," ujarnya.

Seperti  halnya bumi dan dunia yang mencicil masalah, tubuh kita juga begitu.

Lempeng bumi bergerak, gunung berderak-derak, distribusi kekayaan berpindah-pindah.  Pada tubuh manusia, dalam setiap tarikan napas sesungguhnya kita juga menumpuk residu. Pula setiap kunyahan dan cernaan. Saripati yang diserap beriringan dengan limbah yang diproduksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x