Mohon tunggu...
Agung MSG
Agung MSG Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis - Trainer - Coach

Hidup untuk berbagi dan berkarya mulia @agungmsg #haiedumain

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Karakter Sebelum Pintar, Adab Dulu Sebelum Ilmu

17 November 2022   06:26 Diperbarui: 17 November 2022   06:42 287
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sahabat sejati, teman setia, mitra terpercaya, profesional yang rendah hati, orang yang hangat dan lekat di hati, adalah sosok yang senantiasa dibutuhkan dan dirindukan. Hebatnya, ini berlaku sepanjang jaman. Sosok ini pun tak jarang kita temukan pada nenek atau kakek kita, atau keduanya. Bisa juga kita temukan pada sahabat-sahabat kita terdahulu saat kita temui mereka sekarang sebagai seorang alumni di sekolah atau program pendidikan tertentu. Baik itu kita temukan di majelis ilmu, kursus, lokakarya, seminar, training, hingga di sebuah komunitas yang sama.

Mereka bisa terlahir bukan dari orang kaya, atau dari kaum berada. Juga bukan karena ganteng atau cantik parasnya. Atau karena ia punya jabatan, kedudukan, atau terkenal karenanya. Namun semata, karena kita benar-benar membutuhkan dan merindukannya. Saat dekat dengan sosok ini, kita merasa aman, nyaman, dan hangat di hati. Begitu pula saat kita berungkap kata, rasanya kata-kata dan ekspresi kita bisa lepas dan akrab seketika. Itulah sosok yang penuh adab dan mudah menerima dan mamahami kita dengan segala kekurangan dan kelemahan kita.   

Kuncinya, saat akhlak mulia berupaya kita terapkan dalam perilaku keseharian, maka adab akan didapatkan. Saat sikap, perkataan atau perbuatan ditinggikan, maka ia akan dimuliakan. tulah adab. Segala sesuatu yang baik, luhur, etik, sopan, santun, dan mengesankan di hati yang suci dan bersih, yaitu qolbun salim. Hati yang telah bebas dari keadaan selain Allah SWT di dalamnya.

 

Menyempurnakan akhlak mulia pada diri kita, pada keluarga kita dan pada orang-orang yang kita cintai atau pada orang yang menjadi tanggungjawab kita, adalah misi terpenting hidup ini. Karena Nabi Muhammad pun diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak. Karena adab dan akhlak mulia sesungguhnya akan menjadi timbangan amal yang lebih berat bagi seorang yang memiliki akhlak yang baik, yang tidak menyukai berbicara nyinyir, keji dan kotor.

 

Orang yang beradab, akan senantiasa ia terobsesi untuk memiliki ketakwaan hati, mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah dan syiar-syiar Allah. Ia pun sangat yakin bahwa semua itu akan menjadi sesuatu yang bernilai, bermakna dan menjadi lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Disisi lain, ia pun akan senantiasa sangat hati-hati dan khawatir, niat baik serta sikap dan perilakunya tanpa ia sadari akan menyakiti orang lain, karena kelak ia tak akan sanggup memikul kebohongan dan dosa yang nyata di depan Tuhannya.

 

Karena semua alasan itu, ia senantiasa respek, hormat dan santun kepada semua guru-gurunya. Ia tak berani beradu argumentasi dengan sengit, memenangkan perdebatan, atau menentang gurunya. Baginya, menentang guru yang beradab dan berakhlak mulia adalah sama saja dengan mengajak perang dan menentang Tuhannya.

Adab Dulu, Baru Ilmu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun