Mohon tunggu...
Agil S Habib
Agil S Habib Mohon Tunggu... Founder Sang Penggagas; Penulis Buku Powerful Life; Seorang Pecinta Literasi; Bisa dihubungi di agilseptiyanhabib@gmail.com

Berkarya dan hidup bersamanya

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Mekanisme "Carry Over" RUU Mangkrak, Sebuah Upaya Memberantas Kemubaziran Anggaran

14 Juni 2019   14:47 Diperbarui: 15 Juni 2019   15:32 0 3 1 Mohon Tunggu...
Mekanisme "Carry Over" RUU Mangkrak, Sebuah Upaya Memberantas Kemubaziran Anggaran
Sumber Ilustrasi (KOMPAS/PRIYOMBODO)

Undang-Undang (UU) merupakan produk utama yang dihasilkan oleh lembaga legislatif kita atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang bekerjasama dengan lembaga eksekutif atau pemerintah. UU menjadi landasan atas banyak hal yang menyangkut situasi dan kondisi dalam berbangsa.

Pemberian layanan publik, penyediaan fasilitas umum, perlindungan masyarakat, atau pembangunan nasional hampir semuanya didasarkan pada UU yang dibuat oleh mereka yang menerima mandat rakyat. Sehingga salah satu parameter produktivitas pejabat publik negeri ini adalah berapa banyak UU yang berhasil ditelurkan guna menunjang kemaslahatan hidup masyarakat.

Sayangnya, setelah sekian lama bangsa kita mengadopsi konsep demokrasi masih ada begitu banyak Rancangan Undang-Undang (RUU) yang menggantung penyelesaiannya di tengah jalan. Seperti diberitakan oleh harian Kompas (15/6), saat ini masih ada 32 RUU yang belum selesai dibahas oleh pemerintah dan DPR periode 2014 – 2019.

Jumlah ini terbilang cukup banyak. Padahal dari sekian RUU yang belum selesai ini diantaranya ada RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang selama beberapa tahun terakhir ini sudah menjadi sesuatu yang kritis dalam kehidupan sosial masyarakat kita.

Hal ini tentunya harus disikapi secara tepat oleh pihak-pihak terkait sehingga tata kelola kehidupan masyarakat kita bisa menjadi lebih baik pada masa-masa mendatang.

Ada begitu banyak anggota masyarakat kita yang menunggu dirampungkannya beberapa RUU karena besar kemungkinan RUU itu apabila nanti sudah berlaku menjadi UU akan menjadi pengayom ataupun pelindung bagi mereka.

Ada berapa banyak orang yang menerima manfaat dari diberlakukannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual? Ada berapa banyak orang yang menerima manfaat dari berlakunya RUU Ekonomi Kreatif? Setiap RUU pasti memiliki dasar yang kuat untuk dirumuskan dan diupayakan menjadi UU.

Mungkin banyak dari kita yang beranggapan bahwa pemerintah atau anggota dewan yang bertugas saat ini telah banyak menghambur-hamburkan waktu sehingga ada begitu banyak RUU yang terbengkalai.

Sering absen, mementingkan urusan pribadi dibandingkan kebutuhan rakyat banyak, dan lain sebagainya. Namun ada satu hal besar yang bisa jadi luput dari perhatian kita sebagai masyarakat umum. Sistem pembahasan RUU yang saat ini terjadi masih belum mengusung sistem luncuran atau "carry over".

Dengan kata lain, RUU yang belum selesai pada periode sebelumnya tidak dilanjutkan pembahasannya pada periode berikutnya, melainkan harus mengulang lagi dari awal.

Draft RUU harus dibuat lagi dari nol pada periode baru apabila masih berkenan untuk merampungkan RUU tertentu. Hal ini sudah barang tentu merupakan langkah yang tidak efisien karena pekerjaan yang beberapa lama dilakukan bisa hilang begitu saja tanpa bekas apabila prosesnya tidak dirampungkan sampai tuntas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2