Mohon tunggu...
Adri Wahyono
Adri Wahyono Mohon Tunggu... Penulis - Freelancer

Pemimpi yang mimpinya terlalu tinggi, lalu sadar dan bertobat, tapi kumat lagi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Sebotol Racun Suram

25 Desember 2022   18:49 Diperbarui: 25 Desember 2022   19:06 262
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kalaupun ia menemukan toko yang akan memberikannya sianida, berapa harganya? Bagaimana kalau ternyata mahal dan uangnya tak cukup? Ia bisa berkarat di kota sana.

Suram mendesah. Pilihan untuk mengakhiri hidup ternyata sama sulit dengan pilihan untuk tetap hidup dengan banyak masalah yang harus dihadapinya.

'Kalau saja aku kaya, tentu mudah saja kudapatkan sianida dan urusanku selesai,' pikirnya lagi. Hati kecilnya membenarkan apa yang baru saja dipikirkan, tapi sesaat kemudian sisi hati yang lain mengatakan, 'Kalau kau kaya dan kau beli sianida untuk mengakhiri hidup, maka itu adalah kebodohan terhebat yang pernah ada. Bukannya kau bisa membayar hutang-hutangmu dan hidupmu tenang?'

Suram tergelak tiba-tiba demi menyadari hal itu. Tergelak karena perang batinnya menyisakan kelucuan akan dirinya dan ia terdorong untuk mentertawakannya.

Lalu tiba-tiba ia diam. Suram memandangi botol hijau itu kembali. Membuka penutupnya yang masih tersegel, dengan sekuat tenaga. Bau sengak menyengat hidung ketika penutup botol itu berhasil terbuka dan Suram mencoba menghirupnya. 

'Tidak,' pikirnya. Meski menyengat, aroma cairan di dalam botol itu tak cukup meyakinkan Suram. Ia tak yakin akan langsung mati. Pasti ia akan sekarat begitu lama dan itu menyakitkan. 

Belum lagi jika nanti orang-orang berdatangan, melakukan apa pun untuk menolongnya semata-mata demi keselamatan uang mereka, bukan karena kepedulian mereka pada keselamatannya.

'Tidak,' pikirnya lagi, 'aku harus mendapatkan sianida. Lagipula aku bukan orang kaya. Membeli sianida untuk mengakhiri hidup bukan kebodohan.'

Ia tergelak lagi karena ia merasa memenangkan perang batinnya.

'Tapi, tak ada salahnya kucoba,' pikirnya, 'kalau kuminum semuanya, pasti langsung mati.'

Suram merasa jantungnya memacu ketika mulut botol itu ada di depan mulutnya. Bau sengak seketika menggoyahkan keyakinannya. Ia tak takut jika harus mati, tapi ia takut sekarat dan tersiksa. Ia takut racun dalam botol itu terlalu lama bekerja sehingga orang-orang terburu menolongnya demi uang mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun