Mohon tunggu...
Farida Chandra
Farida Chandra Mohon Tunggu... -

praktisi, pemerhati hukum ketenagakerjaan budidaya ikan lele dan pisang kepok pelestari dan usaha batik tulis madura

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Belajar Hidup Susah

13 Juni 2015   22:59 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:04 257
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kadangkala saya ingin kembali ke masa lalu. Duapuluh tahun lalu. Saat ke mana pun saya harus, tidak ada pilihan lain selain jalan kaki atau naik angkutan umum seperti waktu merantau di Jakarta. Setiap kali melihat tivi dengan padatnya bus kota atau KRL, aduh! Dulu saya koq bisa tahan ya? Tahan dengan bau keringat orang lain (atau orang lain yang harus tahan dengan bau ketek saya haha…). Atau berdiri hampir dua jam dari Menteng Raya ke Cilandak KKO by Kopaja P20. Ya…masih muda!

Sekarang saya coba jadi ‘backpacker’ dari Malang ke Surabaya. Dari rumah, saya jalan kaki 2 kilo untuk sampai ke jalan raya. Kalau mau bisa naik ojek dari rumah saya ke jalan raya, tarif 6 ribu. Naik angkot jurusan TA (Tumpang – Terminal Arjosari), dari Jalan Raya Bugis (dekat bandara Abd Saleh) dan turun pas di depan stasiun Blimbing. Bayar 4 ribu.

Sampai di Stasiun Blimbing, saya naik kereta Penataran turun di Stasiun Gubeng. Wee…keretanya bersih, dingin AC, tepat waktu pula. Tidak ada pedagang asongan naik ke kereta. Dan, cuma bayar 12 ribu. Top markotop Pak Jonan iki rek!

Dari situ lanjut ke rumah saya di daerah ITS Keputih, jalan kaki lagi menuju halte Unair Kampus Kedokteran sekitar 300 meter lalu naik angkot (lyn) WK jurusan JMP (Jembatan Merah Plaza – Keputih). Bayar 5ribu. Turun kira2 50 meter dari depan rumah.

Total Malang – Surabaya cuma 21 ribu. Murah, kan? Bandingkan dengan travel yang sekitar 75ribu. Atau bus patas yang sekitar 25ribu, belum termasuk angkot dari terminal ke terminal.

Kalau dibilang hidup susah, eh apa iya ya? Kecuali kalau angkotnya nge-tem atau sopir/penumpang merokok ‘kali ya? Rasanya aman dan nyaman2 aja sih. Ya susahnya sih kalau bawa banyak barang atau kaki lagi sakit. Kebetulan saya bawa tas laptop saja.

Lanjut besoknya saya coba kembali dengan rute yang sama. Tetap naik angkot (lyn) WK turun di Depot Slamet yang murmer dengan porsi jumbo, pas pojok seberang RS Husada Utama. Jalan kaki menyusuri Kantor PDAM yang sejuk, wah ga kerasa pegel. Deket lagi. Jalan santai. Jam berangkat kereta masih keburu-lah.

Lalu saya ke loket tiket kereta di Stasiun Gubeng, eh katanya tiket kereta Penataran bukan di situ. Ada namanya Stasiun Gubeng Lama. Nah ini Stasiun Gubeng Baru. Ya…baru tahu saiyaa…

Saya tanya si mbak, lewat mana? Katanya jalan muter ya…keluar dari stasiun ini…kalau ga punya tiket ga boleh masuk melintas Stasiun Gubeng Baru ke yang Lama buuu…weleh, jalan kaki lagiii…??

Hmm…langsung gobyos dah! Mendadak pegel nih kaki. Ga praktis banget sih! Di internet ga dibilang Stasiun Gubeng itu ada Baru dan Lama kayaknya sih…ngomel-ngomel, eh si mbak malah senyum-senyum saja. Saya ‘kan mau ngejar kereta jam 07.40, ini sudah 07.20, mbak! Akhirnya jalan kaki deh buru-buru, 10 menit.

Ajegile! Pemandangan ga seperti Stasiun Gubeng Baru. Ya inilah rakyat Indonesia yang sesungguhnya. Stasiunnya sih bersih. Mbak-mas penjaga loket juga cantik-ganteng-ramah. Tapi percaya deh penduduk Indonesia itu ada 250jutaan. Di Stasiun Gubengnya sendiri ada ‘kali 200an orang duduk-duduk di lantai plus penuuhh barang bawaan… sampe saya mau antri beli tiket aja syusyah jalannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun