Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Susah Move On karena "Premature Exit"?

22 Februari 2021   07:00 Diperbarui: 22 Februari 2021   17:23 675 24 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Susah Move On karena "Premature Exit"?
Susah Move On/ sumber: www.rochester.edu

"Di balik 'move on' yang lambat terdapat mantan yang hebat." 

Ungkapan di atas mungkin terkesan agak "lebay" (berlebihan), tetapi kenyataannya memang selalu demikian. Orang-orang yang punya banyak mantan kekasih pasti memahami maksud saya. Sebab, di antara sederet mantan yang pernah singgah di hati, pasti ada satu atau dua orang yang cukup berkesan, sehingga kita begitu sulit melupakannya, biarpun sudah lama berpisah. 

Kesan tadi bisa muncul karena berbagai sebab, seperti kenyamanan, kecocokan, dan kesamaan yang dimilikinya, yang mungkin belum tentu kita peroleh sewaktu berhubungan dengan orang lain. 

Alhasil, setelah kata "putus" disampaikan, kita masih susah berpaling darinya. Kita terus saja "dibayangi" rasa kangen terhadapnya, sehingga tanpa sadar, kita lumayan sering mengecek histori chat dengannya, atau memantau akun media sosialnya, atau menyelipkan obrolan tentangnya. 

Hubungan asmara/ sumber: embracewichita.org
Hubungan asmara/ sumber: embracewichita.org
Itulah tanda-tanda susah "move on" yang umumnya dialami oleh banyak orang, termasuk investor sekalipun. Walau memiliki kesamaan, namun tentu saja kasus susah "move on" yang dirasakan oleh investor mempunyai konteks yang berbeda. 

Jika sebelumnya, konteks "move on" yang dibahas menyangkut hubungan "asmara", maka sekarang konteksnya lebih menyoal tentang "ikatan batin" antara investor dan saham tertentu.

Seperti halnya ikatan cinta, berinvestasi di sebuah saham memang bisa menimbulkan kesan tertentu, apalagi kalau saham tersebut sudah memberikan "cuan" yang besar kepada investor. Semakin besar keuntungan yang diberikan, maka semakin kuat pula keterikatan yang tercipta. 

Ikatan inilah yang begitu sulit lepas, sehingga investor tadi menjadi susah "move on" biarpun sudah menjual saham kesayangannya dan merealisasikan keuntungannya.

Saya sempat mengalami perasaan tersebut sewaktu berinvestasi pada saham INKP beberapa waktu yang lalu. INKP adalah saham produsen kertas terbesar, yang sebagian kepemilikannya dikuasai oleh Grup Sinarmas. 

Pabrik INKP/ sumber: m.bisnis.com
Pabrik INKP/ sumber: m.bisnis.com
Saya ingat mulai membeli saham ini pada harga 7000-an. Alasannya sederhana. Pada kuartal 1 tahun 2020, INKP membukukan penjualan dan laba yang cukup besar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tentu saja ini merupakan saham yang menarik dibeli, mengingat kondisi neracanya juga cukup baik dan valuasinya sangat murah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN