Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of "gerairasa.com" Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Balada Slamet, Seorang Lelaki yang Membelah Bukit

17 April 2018   09:10 Diperbarui: 17 April 2018   09:10 323 4 3
Balada Slamet, Seorang Lelaki yang Membelah Bukit
pemandangan sebuah bukit di Malang (sumber: dokpri)

Demi mengalirkan "cinta",

aku pergi membawa linggis

dan mencoba membelah bukit

agar terlepas dahaga para lembu

dan terbasahi akar-akar padi.

Sebab, kampungku hanyalah "ladang tandus".

Sudah bertahun-tahun ia "dianaktirikan" musim.

Hujan seolah enggan datang berkunjung.

Sepanjang siang hanya butiran debu

beterbangan layaknya berita hoax di jagat maya.


Demi mengalirkan "cinta",

aku pergi membawa linggis

dan mencoba membelah bukit.

Sebab, di belakang bukit kapur itu

terdapat sungai yang mengalirkan "cinta"

yang mampu mengakhiri sengsara warga desa

Dengan tangan kukeruk sedikit demi sedikit

batu bukit yang keras, terjal dan tajam

Biarlah tanganku terbakar matahari hingga legam

Asalkan semua upayaku membawa berkah nantinya


Demi mengalirkan "cinta",

aku pergi membawa linggis

dan mencoba membelah bukit.

Namun, hanya sedikit yang mendukungku

Bahkan, sebagian mencemooh upayaku

dan bilang kalau aku sudah gila!

Padahal, aku bekerja demi kebaikan bersama

tanpa mengharapkan pamrih apa-apa.

Selama setahun bekerja, aku "menebalkan" muka

mengabaikan suara sindiran dari para tetangga


Demi mengalirkan "cinta",

aku pergi membawa linggis

dan mencoba membelah bukit

Setelah aku bersusah-payah,

bukit itu akhirnya terbelah

Sungai pun mengalirkan "cinta" yang berlimpah ruah

Berakhirlah paceklik yang merundung desa

Warga yang dulu mencibir usahaku berbalik memujiku

Sejarah memang selalu menjadi milik orang-orang

yang berani mengambil keputusan


 *Puisi ini diinspirasi dari kisah Slamet Suriawan Sahak, seorang lelaki asal Nusa Tenggara Barat, yang membelah bukit dengan tangannya sendiri. Upaya itu dilakukan supaya ia bisa membikin sodetan di Sungai Sordan untuk mengaliri kampungnya yang tandus. Setelah berusaha sekitar setahun lebih, ia sukses membelah bukit tersebut dan mengalirkan sungai ke desanya hingga warga kampung tersebut terbebas dari bencana kekeringan.