Adelia TriEka
Adelia TriEka Freelance

Amuk itu adalah Angkara dungu yang gemar memangsa hati

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bapak Itu adalah Ayah Tersembunyiku

12 Januari 2019   11:40 Diperbarui: 12 Januari 2019   11:50 174 19 5
Bapak Itu adalah Ayah Tersembunyiku
Dokpri


Karya Delia Adel (Succubus)

Jalan di desa sudah semakin ramai dengan banyaknya kendaraan hilir mudik ke sana ke mari. Semakin bising saja hingga malam menjelang. Padahal mata sudah mengantuk. Tetapi bunda tak membiarkan aku terpejam. Bahkan memberikan cangkir kopi sekali lagi.

Belum habis cangkir kopi kusruput, datang tamu tak diundang. Dia bicara begitu mesra kepada bunda membuat wajah ini sedikit penuh amarah. Kemudian mendatanginya dan berkata, "sudah malam, Bunda. Ayah tak di rumah dan sangat tak elok bicara dengan pria tanpa kehadiran ayah."

"Ini Re kita, May?"

"Ya, Mas."

Tamu bunda menatap wajahku kemudian berkata, "mirip ibu ya May?"

Aku hanya memberikan isyarat jam kepada mereka. Tetapi bunda menyuruhku duduk dan tamu bunda bicara tentang sebuah hal di luar logikaku.

"Jadi kau adalah anakku." Tamu itu bicara begitu lancarnya.

"Zegerrrr." Petir datang menyambar tubuhku.

"Maafkanlah ayah yang dulu menelantarkanmu hingga tak berani mengambil resiko lebih jauh. Saat itu ayah masih muda."

"Jadi aku adalah anak haram dari perselingkuhanmu, Bunda?"

Bunda hanya terdiam hening. Hanya tamu itu saja yang bicara, semakin membuat kepala ini hendah memuntahkan lahar terpanas. Selang sejam Bunda berkata, "orang yang kau panggil ayah sudah tau mengenai kami. Waktu kau ada di dalam perut, bunda minta cerai. Tetapi dia tak menceraikan bunda hingga akhirnya lahir kedua adikmu. Sedangkan ayah kandungmu hilang entah kemana."

"Jadi ...."

Paman yang mendengar percakapan dari balik pintu kemudian menghampiri dan berkata, "itu benar, Re. Paman saksinya."

Aku berteriak sekencang mungkin. Tamu bunda memeluk tubuhku. Anehnya, emosi dalam tubuhku yang bergejolak perlahan menjadi reda. Apa benar dia adalah ayahku? Kenapa hawa murni dari tubuhnya membuat jiwa menjadi tenang? Serupa mendapatkan transfer kasih sayang ayah, masuk ke dalam rongga tubuh. Kemudian berkolaborasi menghasilkan ketenangan hingga menjaga emosi untuk memerah.

Sedangkan bunda hanya terdiam hening sambil meminta maaf berkali kali. Dari balik kamar, Za mendengar semuanya. Dia menangis dari balik pintu kamar. Sedangkan Zaki menghampiri kami dan mengolok-olok kisahku.

"Hai anak haram! Pergilah dari sini. Karena kau, ayah tak menyayangi diriku dengan utuh dan selalu membela kau yang ternyata si haram zadah."

Ibu hanya diam saja mendengarkan adik bicara kasar. Tetapi telinga za dan tamu itu tidak bisa diam. Zaki di tampar tamu ibu dan di pukul Za dari belakang.

"Hai! Apa salahku? Telpon ayah suruh datang. Agar dia tahu kebenaran ini dan mengusirnya." Menunjuk ke arah wajahku dan tamu bunda.

"Kau yang akan kuusir. Ini rumahku, beserta ladang dan sawahnya." Tamu bunda bicara seolah-olah Zaki adalah musuhnya.

"Hentikan ini! Bunda, kau jangan diam serupa orang bodoh. Katakan sesuatu." Aku mulai naik pitam.

"Mas, rumah ini adalah milik ayah Zaki. Sudah lunas terbeli dari orang tuamu. Jadi kalian yang pergi dari sini." Bunda menunjuk kepadaku dan tamunya. Za memelukku dan berkata, "bunda, aku akan ikut dengan kakak."

"Pergilah kau ke neraka. Aku tidak perduli."

Tamu itu membawaku dan Za ke hotel. Esoknya dia berkata kepadaku untuk tinggal di ladang dan mengelolah sawah. Dia memberikan sejumlah uang, katanya dalam jangka empat bulan lagi, dia datang dan akan membawa kami pergi dari pulau ini.

Siang yang terik, aku dan Za pergi ke ladang. Di sana sudah ada sebuah rumah sederhana untuk kami tinggal. Za menatapku dengan pandangan sayu. Sedangkan aku memeluknya dengan erat sambil berkata, "kita akan baik-baik saja. Bukankah masih ada Allah yang menjaga kita? Jadi tak usah cemas tentang esok. Serahkan saja hidup kepada Yang Esa."

Za diam sambil menggandeng tanganku. Entahlah mengapa dia ingin ikut denganku. Padahal jika hidup dengan bunda, dia pasti akan lebih bahagia. 

Saat kami sedang sibuk membereskan rumah, paman datang dan mengatakan kalau ibu, adik dan ayah telah pergi dari kampung ini. Mereka sudah menjual rumah itu, dengan kepala desa tadi pagi, saat ayah baru pulang dari kota.

Air mata jatuh di antara hamparan ladang yang hampir panen. Za memelukku dan berkata, "kasih sayang yang kau miliki jauh lebih kubutuhkan dari mereka. Maka dari itulah aku ingin selalu menjadi adikmu walau ayah kita berbeda." Za memelukku dengan begitu eratnya.

"Baiklah, Za. Waktunya panen hasil ladang. Bantu kakak!"

"Paman masih boleh membantu tidak?"

"Silahkan, Paman. Walau kita bukanlah keluarga. Tetapi kau sudah kuanggap pamanku sendiri. Bantu kami mengolah sawah dan ladang."

Hasil panen kemudian di jual ke pasar. Uang keuntungan kami bagi tiga. Paman begitu haru dengan kekuatan hidup yang kami punya. Kemudian menawarkan jasa untuk tinggal di rumahnya. Kami menolak. Sebab tidak ingin merepotkan. Berdua sudah cukup dan kami berkeyakinan bahwa akan ada cahaya terang setelah cahaya gelap itu diterbangkan angin.

Esoknya Za sudah mulai masuk sekolah. Aku dan paman mengolah sawah serupa hari-hari kemarin sewaktu kita masih hidup bersama-sama. Paman sedikit kasihan melihat wajahku yang tersengat matahari. Dia menyuruh aku istirahat. Tetapi bagaimana bisa istirahat dan membiarkan paman bekerja sendirian.

"Kak Re, Paman! Ayo makan. Hari sudah siang." Za datang dengan sepeda ontel yang ada di ladang dan membawakan banyak makanan.

Kami makan sama-sama.

"Za, kau sudah pulang atau izin dengan guru?"

"Aku buat perjanjian dengan kepala sekolah untuk membiarkan pulang sebelum Zuhur. Dan berjanji untuk memenuhi permintaan sekolah. Kuceritakan semua kisah kita kepadanya, akhirnya dia memberikan aku izin dengan linangan air mata."

"Za, tak baik serupa itu! Sekolah saja dengan baik. Ini tinggal beberapa bulan lagi kau lulus dari SMA setelah itu hidup kupasrahkan Kepadamu. Hendak menjadi apa."

"Kak. Sudahlah! Sudah terlanjur. Yang terpenting adalah nilai sekolah tak turun. Dan aku janji untuk lebih giat belajar."

"Biarkan saja, Re. Dia sudah besar." Paman bicara sambil mengelus kepala Za dengan penuh kasih.

Hidup tak akan lebih sulit jika kebersamaan tidak pecah, menurut pemikiran sederhana yang ada di otak ini. Biarkan lah semuanya berjalan. Langkah ini hanya mengikuti arus yang akan membawa perjalanan, entah akan berhenti serupa apa. Yang terpenting, saat ini hanya bahagia yang harus kita jaga agar tidak rusak bahkan tak bernyawa.

Seminggu kemudian sawah kami panen. Hasilnya lumayan baik. Paman senang sekali. Karena dia bisa menjadi bagian dari kebahagiaan kami.

Hari Minggu aku dan Za berliburan ke pantai. Keluarga paman ikut serta. Hubungan kami semakin akrab saja walau tidak ada garis kekeluargaan. Bagi kami cucu nabi Adam semuanya adalah saudara, bukan? Jadi masih ada darah persaudaraan walau jauh, jauh sekali.

Saat di pantai kami melihat ayah, bunda dan Zaki sedang berlibur pula. Mereka tampak bahagia sekali. Dan saat bertemu pandang, mereka serupa tak mengenali lagi kami. Za menangis. Aku memeluknya dan berkata, "bahuku ini memang tak senyaman mereka. Tetapi akan kupastikan air matamu tak akan selalu datang menghampiri wajah manismu."

Za kembali tersenyum dan balik menjawab, "itulah yang membuat perbedaan antara keluargaku dengan hati yang kau miliki kak. Sehingga aku lebih nyaman berada di bahu kecilmu."

Kami kembali tersenyum tanpa ada beban yang mengikuti perjalanan. Sampai empat bulan berlalu dan Za lulus dengan nilai terbaik. Akulah yang paling bangga dengan hasil yang Za berikan. Bahkan dia mendapatkan beasiswa kuliah di universitas negeri. Tadinya Za ingin menolak. Tetapi kubuat dia menerimanya.

"Za, capailah cita-cita setinggi langit selama masih ada bahu kecilku. Yakinlah Allah selalu ada untuk membantu kita melalui segala macam resiko kehidupan. Sekali lagi kukatakan bahwa berserah diri adalah kekuatan yang tak bisa di kalahkan oleh waktu."

Za kembali mengumbar senyum termanis kembali.

Jakarta, 12 Januari 2019.