Mohon tunggu...
Achdiar Redy Setiawan
Achdiar Redy Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Pembelajar pada Jurusan Akuntansi, FEB Universitas Trunojoyo Madura

Long-life learner. Interested in cultural studies, art, pyschology and spirituality-religiosity. Book, music and basketball lover

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Mencari Tuhan dalam Akuntansi

23 Agustus 2021   14:48 Diperbarui: 23 Agustus 2021   15:01 80 3 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Mencari Tuhan dalam Akuntansi
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Mencerna dan mengendapkan kembali definisi dan bentuk akuntansi yang selama ini dikenal dan menjadi “kebenaran” yang disepakati bersama, melahirkan pertanyaan fundamental, adakah Tuhan dan nilai-nilai spiritualitas disana?

Dan kini, saat saya mencerna ulang, timbul kesadaran bahwa sebenarnya apa yang kita dapatkan tentang “akuntansi” itu adalah konstruk universal berdasarkan kesepakatan bersama (akuntan seluruh dunia). 

Berhubung akuntansi Indonesia merupakan full adoption dari akuntansi yang berlaku di Amerika sana, tentu saja filosofi dasarnya juga berasal dari pandangan orang-orang Amerika sana. 

Kapitalisme adalah watak dasar perekonomian yang diakui dan disepakati “kebenarannya” di Amerika. Tentu saja, alat akuntabilitas perekonomiannnya yang bernama :akuntansi” pastilah juga mengikuti watak dasarnya yang kapitalistik tersebut.

Paham kapitalisme menunjukkan watak yang sangat sekuler. Tuhan tidak mendapat tempat dalam diskursus perilaku ekonomi politik disini. Nilai-nilai spiritualitas dinegasikan, ia adalah domain individu yang cukup berada di ruang-ruang pribadi atau tempat ibadah. 

Tak pelak, akuntansi sebagai derivasi keilmuan di bawah payung paham seperti ini tidak akan pula mengikutsertakan Tuhan dan nilai-nilai spiritualitas dalam setiap konstruksi pemahaman dan penerapan keilmuannya. Tidak mengherankan, misalnya, konsep Laba menempati strata utama ukuran kesuksesan manajemen organisasi, karena kapitalisme menghendaki penumpukan kekayaan (baca: kapital) sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan seminimal mungkin. 

Kita tidak akan menjumpai unsur-unsur gotong-royong, pembagian kesejahteraan yang berkeadilan bagi semua (dalam bentuk zakat, misalnya), pemahaman humanitas yang tinggi akan kemanusiaan para buruh/karyawan dan seterusnya. Contoh praktisnya adalah apa yang akan berlaku di Laporan Laba-Rugi. 

Prinsip yang akan dipegang adalah bagaimana Pendapatan (Revenue) digaet setinggi-tingginya, sedangkan Beban (Expense) akan ditekan serendah-rendahnya. Pola pikir semacam ini akan sangat predatoristik, karena dalam unsur ‘Beban’ itu ada yang berkaitan dengan manusia (beban gaji), negara (pajak). Jika beberapa unsur tersebut dianggap “membebani”, tentu saja itu akan ditekan secara terus-menerus.

Dimulai dari kesadaran realitas Akuntansi yang bercirikan dehumanisasi dan desakralisasi Tuhan dan alam (meminjam istilah Nasr), kita perlu mencerna dan menakar kembali proses pemahaman dan penggalian ilmu akuntansi yang lebih sesuai dengan fitrah kemanusiaan, khususnya sebagai orang Indonesia yang penuh dengan kebajikan dan kebijakan Timur. 

Termasuk pula di dalamnya, perlu adanya internalisasi keTuhanan dan nilai-nilai spritualitas ke dalam Ilmu Akuntansi, baik dalam tataran konsep maupun bentuk dan teknologi penerapannya. Unsur-unsur kebajikan dan kearifan lokal dapat masuk ke dalam Akuntansi. 

Tidak perlu memaksakan satu kebenaran tunggal, apalagi jika kebenaran tunggal itu secara mendasar sangat bertentangan dengan nilai-nilai spiritualitas yang secara fitrawi telah bersemayam di hati manusia sebagai makhluk Tuhan sejak awalnya… 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...
Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan