Mohon tunggu...
Abdul Azis
Abdul Azis Mohon Tunggu... Seniman - Belajar menulis

Mencoba belajar dengan hati-hati, seorang yang berkecimpung di beberapa seni, Tari (kuda lumping), tetaer, sastra.

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

Berdoalah Bersamaku, Sayang

10 Januari 2021   00:02 Diperbarui: 10 Januari 2021   00:20 641
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Menuliskan pada dinding hati yang gersang akan diskusi cinta. Mengalirkan pada kesiapan integrasi yang kemudian bergelayut pada dahan-dahan kerinduan. Menari-lah sayang. Sungguh engkau begitu indah saat menari. Tetaplah tersenyum. Jika bukan menjadi kita. Maka biarkan tetap bahagia. Yang kemudian begitu ingin sekali aku temukan pada kisah ini adalah kebahagiaan. Dan juga sebuah kemenarikan yang tidak membosankan. 

Tapi apa dayaku cinta. Kita hanya dua insan yang kemudian hanya bisa berusaha. Dan apakah kemudian kita menjadi bunga-bunga yang di ceritakan begitu apik pada puisi dan syair para pecinta. Semoga mereka kekal dengan cinta dan kekasihnya. Berdoalah bersamaku sayang. 

Ia yang selalu kita idam-idamkan. Ia yang selalu kita harapakan. Dan hanya kepadanya kita gantungkan harapan. Jangan sampai salah dan jangan tertipu keindahan. Tetaplah tabah dan berhati-hati. Bisa saja ia yang sedang bersembunyi pada penyamarannya dan membuatmu lupa padaku. Ia yang merasa dirinya melebihi siapapun dan selalu ingin seperti apapun. 

Jangan sampai sayang, tetaplah engkau mengingat bahwa semuanya akan berakhir. Dan kita hanya kesementaraan yang di beri peluang mengecap lamanya pergulatan percintaan. Namun jangan hilang rindu dan kasih sayang itu. 

Tetaplah rindu padanya. Dan tebarlah kasih sayang. Untukku sendiri, tetaplah disisiku dengan keindahan setia. Serta cinta yang tak sempat terucapkan. Jika tidak ada halangan, maka temuilah aku pada kesunyian yang melambungkan harap pada doa-doa dan sejuta kerinduan pada sang maha kasih dan sayang. Semoga rahmatnya selalu menyinari kehidupan kita. Amin ya rabb.

Berdamailah pada kupu-kupu yang berhasil membungkus diri menjadi kepompong. Itu sebuah keberhasilan tersendiri. Itu merupakan sebuah usaha tak henti hingga ia mencapainya. Bukankah itu indah juga. Meski ia kemudian membekap diri menjadi kepompong, keindahannya ada pada ulat-ulat yang siap untuk itu dan proses panjang yang terjadi. Sebuah proses, itulah pada klimaksnya. 

Jangan menyerah dan tetaplah tabah serta sabar untuk menjalaninya. Sesungguhnya menanti adalah pekerjaan yang tidak mudah. Kadang membosankan, maka tetaplah berhati-hati dan tabahlah. Kemudian yakinlah, bahwa sabar akan terbayar, lelah akan terpenuhi dan mungkin saja sejuta rindu akan tertunaikan. 

Tetaplah belajar dan belajar. Temuilah kebenaran, nikmatilah keindahan dan tetaplah baik-baik saja. Semoga kembali pada yang yang tetap di impikan serta di cita-citakan. Semoga saja.

Hayati dan Zainuddin adalah pasangan serasi dan mereka harus terpisah oleh adat. Zainuddin begitu sakit ketika hayati harus menikah dengan pria lainnya. Sedang hayati begitu tersiksa pada perjodohan itu. Hingga mereka di pertemukan lagi, keduanya seperti menyimpan berjuta rahasianya sendiri. 

Mereka seperti ingin bersama kembali, namun ego begitu kuat menghalang. Sakit di waktu yang dulu begitu membekas. Hingga tiada ruang bagi rindu itu kemudian bertemu dan cinta bermekaran seperti bunga-bunga. Mereka memilih menjauh, hingga tahu akan isi hati masing-masing. Maut telah memisahkan keduanya. 

Apakah kemudian akan berakhir demikian sayang? Aku harap kita menjadi insan manusia yang meyadari bahwa pada waktunya tiba. Maka kita harus lebih tabah. Meski kutahu akan tidak mudah dan mesti menguras bengitu banyak  kesedihan. Tetaplah ikhlas dan sabar, semoga ia yang menitipkan cintanya akan kekal pada kekasihnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Love Selengkapnya
Lihat Love Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun