Mohon tunggu...
A. Rakhmadini
A. Rakhmadini Mohon Tunggu... Mungkin Mahasiswa

Belum tahu mau menulis apa.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Tionghoa-Surabaya: Merusak Bahasa?

31 Oktober 2020   15:30 Diperbarui: 31 Oktober 2020   17:17 164 13 0 Mohon Tunggu...

Belakangan, warganet, utamanya yang bermukim di kompleks Twitter, sedang riuh mengenai tema perusakan bahasa yang dipicu oleh cuitan dari pemilik akun @tucarino_. Entah sengaja atau tidak, pengguna yang juga dikenal dengan nama Revina VT itu mengunggah opininya mengenai betapa kelompok Tionghoa yang bertempat tinggal di Surabaya merusak bahasa, di bulan bahasa. Tepatnya, tiga hari sebelum peringatan Sumpah Pemuda.

Meskipun apabila dibaca secara keseluruhan, isi dari utas tersebut juga membahas mengenai pendapat pribadi sang empunya akun terhadap kebiasaan-kebiasaan lain kelompok Tionghoa-Surabaya -- tidak terbatas pada penggunaan bahasanya -- tetapi yang tampaknya paling sukses menimbulkan pro-kontra warganet adalah bagaimana kelompok Tionghoa-Surabaya dalam komunikasi sehari-hari sering membaurkan kata-kata dari bahasa Indonesia, Jawa, dan bahasa Tionghoa dalam satu kalimat.

Lalu, apakah yang demikian disebut merusak bahasa?

Etnis Tionghoa telah menempati Surabaya cukup lama, bahkan ketika Surabaya masih bagian dari kerajaan berabad-abad yang lalu[1]. Masyarakat Tionghoa yang menempati Surabaya sendiri terdiri atas berbagai suku, empat di antaranya adalah Hokkian, Hakka, Teo-Chiu, dan Kwang Fu[1]. Tiap-tiap suku tersebut memiliki bahasa pergaulan masing-masing.

Surabaya sendiri selain ditempati oleh etnis Tionghoa juga dihuni oleh masyarakat berbahasa Jawa dialek Surabaya, Madura, Indonesia, dan lainnya. Multilingualisme serta interaksi antaretnik yang terjadi pada ruang Surabaya selama kurun waktu yang lama, tidak elak menghasilkan bentuk bauran pada bahasa ucap yang digunakan oleh keturunan etnis Tionghoa. Varian bahasa yang disebut bahasa Tionghoa Surabaya ini juga dikenal dengan bahasa Pasar Atom karena Pasar Atom dipercaya sebagai episentrum dari varian bahasa ini [2]. Hal ini tidak lepas dari sejarah masuknya etnis Tionghoa ke Surabaya yang kemudian terlibat dalam aktivitas perdagangan.

Bahasa Indonesia memiliki pengaruh paling dominan dalam variasi bahasa ini, kemudian disusul bahasa Mandarin dan dialek Hokkian[3]. Bentuk pengaruh paling umum adalah peminjaman leksikon, seperti bentuk sapaan, nominal, kata sifat, dan sebagainya. Selebihnya, juga terjadi gejala fonologi pada varian bahasa ini, di antaranya perubahan fonem, pelesapan fonem, serta penambahan fonem baik pada kata yang berasal dari bahasa-bahasa Tionghoa, bahasa Jawa maupun Indonesia.

Perubahan fonem misalnya pada leksikon bentuk sapaan "gēgē" yang bermakna kakak laki-laki menjadi "koko". Sementara pola pada pelesapan fonem pada dua vokal yang bertemu kerap ditemukan pada pinjaman leksikon bahasa Mandarin, misalnya pada kata "jiejie" dan "meimei", pengucapan vokal [i] tidak dilakukan sehingga menjadi "cece" dan "meme". Sedangkan pada kata asal bahasa Indonesia, selain kehilangan huruf, beberapa kasus juga terjadi perubahan bunyi, atau malah hilang. Misalnya kata "pergi" yang dilafalkan menjadi "pigi" dan "lihat" menjadi "liak". Begitu pula pada kata yang berasal dari bahasa Jawa, misalnya "dhéwè" yang berarti sendiri, dilafalkan menjadi "dhèwèk". Kata ini mengalami penambahan bunyi k serta perubahan bunyi é menjadi è.

Apa yang terjadi pada variasi bahasa ini bukan sekadar alih kode maupun campur kode biasa[4]. Melainkan, merupakan bagian dari identitas kelompok Tionghoa yang tinggal di Surabaya, identitas yang lahir dari adanya percampuran budaya[5]. Sehingga, dapatkah penggunaan variasi bahasa ini disebut sebagai tindakan yang merusak bahasa?

Editor: Aisyah Hidayatullah

____________________

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN