Mohon tunggu...
Elizza Yuliantari
Elizza Yuliantari Mohon Tunggu... Lainnya - Perempuan

Merajut benang juga merajut asa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Omong Kosong

30 November 2022   08:40 Diperbarui: 30 November 2022   08:42 72
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

mendoakan kebaikan untuk orang lain saat suasana terdzalimi rupanya tidak mudah, menahan diri dari mengumpat mencela saat marah juga tidak mudah. 

Hari ini hujan turun di area Banguntapan Bantul. Hujannya cukup awet. dimulai selepas subuh hingga jam 7 pagi saat anak-anak usia dini masuk sekolah. Bagi keluarga yang tidak memiliki kendaraan roda empat mengunakan layanan taksi online merupakan pilihan yang cukup menguntungkan.

sebagai seorang ibu tentu menyiapkan anak sekolah penuh dinamika. dimana anak masih mengantuk kurang enak badan efek musim yang naik turun dan juga lelah perasaan menghadapi masa masa ujian sekolah sudah menjadi keadaan yang menjadi sahabat karib meski bukan itu yang senangi kebanyakan manusia. karena pada dasarnya manusia menghindari kesulitan dan kesengsaraan.

pagi ini di tengah rinai hujan yang berderai seorang ibu berlari menuju mobil di depan rumahnya ia masuk mobil dan sang driver bertanya. Mata ibu terbelalak karena kondisi mobil masih kosong. padahal suami dan anaknya sudah keluar rumah duluan.disebutkanlah nama suami sang ibu. sang driver bilang bukan.

di tengah kekesalan itu sang ibu keluar dan mendapati anak dan suaminya berada di teras rumah sepupu mereka. sungguh pagi yang menyebalkan. "Ga usah pakai pakai baju muslimah gitu, pakai kaos celana panjang saja sudah cukup kok" ungkap sang suami. sang istri naik pitam lalu berujar" betul, ini emang baju sialan". sang ibu tidak mampu menahan diri dari mengumpat. Ia menarik niqob dan sang anak berujar "jangan, no" dengan ekspresi tidak setuju. sang anak mengira si ibu akan melepasniqob beserta kerudung lebarnya di luar rumah. si ibu keluar dari teras rumah sepupu mereka lalu kembali membuka gerbang rumah mereka dan mengambil motor.

"semoga celaka driver itu sudah mengcancel pesanan tanpa pemberitahuan tanpa alasan" ujar si ibu penuh kesal. ada mobil parkir depan gerbang tidak tahu diri, sang ibu yakin bahwa ia adalah driver taksi online yang membatalkan pesanannya padahal sudah di depan gerbang rumahnya dan parkir di sana sambil menyebutkan pelanggan yang memesannya adalah seorang rohaniawan Islam tetangga si ibu.

 banyak memang driver taksi online hari itu. lantas jika sang rohaniawan yang memesan mengapa ada mobil parkir di depan halaman rumah si ibu. dengan lantang sang ibu membawa motor melewati jalanan yang terhalangi oleh mobil yang berhenti di depan rumah sang ibu. memarkir mobil di halaman rumah si ibu tanpa permisi membuat si ibu ingin membanting pintu gerbang keras keras.

namun si ibu lebih memilih mengeraskan doa buruknya. "semoga celaka kamu driver pengancel pesanan". Rasa hati puas sang ibu tidak bisa dinafikan. meski demikian si ibu menyesal telah berkata seburuk demikian. meski dia merasa terdzalimi dia juga takut perkataan buruk itu akan kembali kepadanya. Hari ini masih hujan lantas ia adalah seorang ibu dan juga sedang merasa tidak Ridha terhadap perlakuan beberapa orang di lingkaran paginya. bukankah keadaan itu membuat sebuah doa melesat cepat sekilat petir.

Si Ibu menghela napas panjang. Tetangga yang baik adalah rezeki. Kemudahan dalam menjali hari-hari adalah Rezki dan hati yang lapang menerima segala kondisi juga rezeki. Meski pagi ini si Ibu melewatinya dengan amarah, umpatan dan doa keburukan bagi sesama manusia di lingkaran hidupnya. bukankah ia tetap manusia juga.

si ibu terduduk menghela napas panjang. merilis perasaan buruknya berkali-kali. perasaan juga sebuah radar. pemandu kemana langkah kaki dan keputusan hendak berlabuh.

si ibu frustrasi membanting gagang pintu lantas menghela nafas kembali berusaha menenangkan diri. ia tahu ia terluka. busana sebagai identitas dirinya telah dicibir oleh suami si ibu. ia marah ia hanya tidak terima pakaian muslimah sebagai identitas dirinya dipersalahkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun