Wahyu Sapta
Wahyu Sapta karyawan swasta

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Aku, Pemilik Hati yang Beku #4

11 September 2017   13:08 Diperbarui: 11 September 2017   13:13 706 16 8
Aku, Pemilik Hati yang Beku #4
Ilustrasi: pixabay.com

Sebelumnya:

Aku menyeka sudut mataku yang berair. Aku menangis! Sesuatu yang sudah lamatak pernah aku lakukan. Aku menangis karena bu Een. Air mataku menderas! Nafasku tersengal karena capek, berlari menjauh dari tempat penyekapan. Aku lolos dan bisa melarikan diri. Aku terus berlari. Hingga aku sudah tak kuat lagi. Aku terjatuh, tepat di depan sebuah rumah.

***

Hari ini berbeda dari hari-hari biasa. Aku bisa merasakannya. Aku dan teman-teman harus fokus pada pekerjaan. Kursi-kursi telah tertata rapi. Balon warna-warni sudah terpasang. Segala asesoris dekorasi pesta sudah siap. Katering juga siap. Hari ini, pesta ulang tahun kedua Delon, klien pertamaku. Segala kemampuan kreasiku telah tercurah seluruhnya. Aku tak mau, ada rasa kecewa dari klien pertama. Akhirnya, selesai. Rasanya puas bisa tuntas semua. 

"Seruni, terimakasih. Bagus sekali dekornya. Saya suka." kata bu Mieke orang tua Delon. 

"Sama-sama, bu. Rasanya lega jika ibu bisa puas atas hasil karya saya dan teman-teman. Saya permisi dulu."

Aku berlalu dari rumah bu Mieke. Hem, seandainya dulu aku tak diselamatkan oleh keluarga om Tommy, aku tak akan seperti ini. Setelah kejadian tiga tahun lalu, aku ditemukan om Tommy dan tante Hanny istrinya di depan rumah mereka. Akhirnya, aku diadopsi. Saat ditemukan, aku memang tak mau menyebutkan dari mana asalku dan siapa ayahku. Aku tak mau kembali pada ayah. Aku hanya menceritakan bahwa aku adalah korban penculikan, dan tak memiliki keluarga. Mereka iba dan mau merawatku.

Ketika keesokan harinya saat polisi menggeledah rumah sekapan si Bos, ternyata telah kosong. Mereka telah meninggalkan tempat itu. Aku kehilangan jejak bu Een. Hatiku sedih. Hanya kalung ini yang bisa menjadi obat rindu pada bu Een. 

Tetapi aku harus move on. Kehidupan akan terus berjalan. Om Tommy dan tante Hanny baik hati. Sehingga aku berangsur-angsur membaik dan bisa seperti sekarang ini. Hatiku mulai lembut dan bisa beradaptasi. Mereka menasehati, agar aku berteman dengan banyak orang. Tetapi harus tetap hati-hati dalam memilih teman. Aku sangat bersyukur.

Aku kembali sekolah dan bahkan sudah kuliah. Mengambil jurusan Ekonomi. Tetapi bakat seniku mengantar aku dan teman-temanku mencoba bisnis dekorasi untuk pesta. Meskipun kecil-kecilan. Untuk belajar mandiri. Apalagi biaya kuliah mahal. Tak enak hati jika harus terus menerima uang saku dari om Tommy. Meskipun orangnya baik hati dan tak berat hati memberi sesuatu padaku. 

***

Sedangkan ayah, aku memang tak sepenuhnya melepas jejak ayah. Aku tetap mengikuti jejak ayah, meski dari kejauhan. Diam-diam aku sering melewati rumah ayah, yang lumayan jauh dari tempat tinggalku sekarang. Ayah baik-baik saja. Meski wajahnya selalu murung. Aku tahu, ayah pasti merasa kehilangan aku. Apalagi tante Devi yang selalu menekan ayah dengan bicaranya yang ketus. Ayah pasti merasa tertekan.

Aku belum sepenuhnya bisa memaafkan mereka atas perilakunya yang buruk padaku. Aku butuh waktu. Mungkin suatu saat, aku akan mengunjungi mereka. Bagaimanapun, ayah tetap ayah kandungku. Aku menyayanginya.

***

Ada kuliah hari ini yang tak bisa aku tinggalkan. Padahal, ada pekerjaan yang lumayan menggiurkan untuk ditangani. Sedikit bingung, tetapi aku menyerahkan kepada Ami untuk menanganinya. Nanti setelah selesai kuliah, aku segera menyusul. Yang penting tertangani dulu, baru nanti finishing dekor aku yang menyentuhnya. Akan tampak berbeda, jika aku yang menangani. Itu kata pelangganku. Katanya sentuhan tanganku berbeda. Ah, itu kata mereka. Aku sih biasa saja. Mungkin ada kepuasan tersendiri, jika aku yang menangani. Padahal, Ami pun bisa. Hem, entahlah.  

Tergesa aku menuju ruang kuliah. Agak berlari, hingga tak mengetahui jika di depanku ada seseorang yang juga tergesa. 

Gubraaak....!

Aduh, beberapa bukuku terjatuh. Demikian juga bukunya. 

"Maaf,"

"Iya, tak papa, aku juga minta maaf,"

"Ini bukumu," katanya sambil memberikan buku kepadaku.

"Terimakasih," jawabku pendek.

"Maaf, aku tergesa, sampai jumpa," katanya sambil berlalu dariku. Aduh, bukuku jadi berantakan. Loh, tapi, yang ini sepertinya bukan bukuku. Berarti buku orang tadi yang menabrakku. Tapi aku sedang tergesa. Lagian dia sudah tak ada. Sudah berbelok entah ke fakultas apa. Biar saja. Nanti aku kembalikan saat ada waktu. Mudah-mudahan ia tak begitu membutuhkan. 

Aku buka sedikit lembaran depan. Tertulis nama: Sakti. Fakultas Teknik. Baiklah, nanti aku akan ke sana.

***

"Kamu Sakti? Ini bukumu. Tadi terbawa waktu kita tak sengaja tabrakan."

"O, iya. Pantesan aku cari nggak ada. Makasih, ya.... ee...." katanya sambil menunjuk ke arahku, seperti menanyakan sesuatu. Aku tahu, ia menanyakan namaku.

"Aku Seruni. Sudah, ya. Aku buru-buru. Aku harus menemui teman." 

"Baiklah, bisa minta nomor telepon?" tanyanya. Aku segera menulis nomor telepon di lembaran bukunya yang tadi terbawa olehku.

"Makasih, ya,"

"Okey, sampai jumpa," akupun berlalu dari hadapannya. Pekerjaan memburuku. Aku sudah berjanji pada Ami untuk segera ke sana.

Benar saja, Ami mulai tampak kebingungan untuk menata dekorasi. 

"Untung saja kamu cepat datang, Runi," Lalu dengan bantuan tenaga pak Giyo dan pak Yan, aku bersama Ami menata dekorasi untuk pesta pernikahan. 

***

Bling....! Ring toneWA ku berkedip. 

Halo, Seruni, terimakasih untuk tadi. Ini aku, Sakti. Kalau boleh, besok kita ketemu yuk, di kantinnya bu Beno. Aku yang traktir deh. Kamu ada kuliahkah? Jam berapa?

Duh, Sakti. berterimakasih terus. Tadi kan sudah, kataku dalam hati.

Hai, Sakti. Boleh, aku besok kuliah jam sepuluh. Kita ketemu jam dua belas, ya. Aku tunggu.

Terkirim.

Tak lama kemudian, ring tone WA ku berkedip kembali. 

Bling....!

Okey, sampai jumpa besok ya Seruni.

Aku tersenyum.

Baiklah.

Terkirim.

Emoction senyum.

***

"Maaf, aku terlambat. Tadi itu aku mencatat dulu ketinggalan catatan dari teman," kataku merasa bersalah.

"Tak apa, Runi. Kamu mau pesan apa?"

"Kamu? Sama deh,"

"Gado-gado, mau?"

"Boleh,"

"Minumnya? Es teler, mau?"

"Boleh,"

"Kamu gadis penurut, ya. Apa aja mau," godanya. Lalu kami berdua tertawa. Sakti orangnya lucu, meskipun agak garing. Dan pilihan makanan yang dipilihnya, tak berasa kekinian. Pasti Sakti anak mama.


Semarang, 11 September 2017.