Mohon tunggu...
Vika Kurniawati
Vika Kurniawati Mohon Tunggu... Wiraswasta - Freelancer

| Content Writer

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Menemukan Benang Merah Budaya Jawa-Italia di Jogja Selatan

5 September 2017   08:51 Diperbarui: 12 September 2017   09:14 1346
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kemeja biru dongker harus saya tangkupkan saat wanita berseragam hitam melabuhkan botol Oregano, Chilli Crushed, Salt, dan Pepper mungil ke meja. Senja memang belum datang namun semilir udara yang bergerak sudah menyapa kami. Iya, saya dan bayangan bersama datang 15 menit setelah pukul tiga. Kami ada di Nanamia Pizzeria Tirtodipuran yang sebenarnya sudah buka saat sebelas kali jam berdentang.

Empat botol yang selalu ada di setiap meja. Doc:Pribadi
Empat botol yang selalu ada di setiap meja. Doc:Pribadi
Sebenarnya menit pertama, saya ingin mendaratkan lelah ke salah satu dari sepuluh sofa yang berjajar manja di beranda bangunan utama. Terburu dijajah oleh para anak kekinian dengan masing-masing pasangan, saya lalu memutuskan pindah duduk  bangku tengah. Tak berapa lama saya memutuskan berpindah ke bangku paling selatan, tak jauh dari deretan rindang tanaman eksotik yang mengelilingi kebun. Bayangan mulai menyatu dengan diri saya.

Sofa kekinian. Doc Pribadi
Sofa kekinian. Doc Pribadi
Salah satu hal yang berkesan adalah saat daun telinga saya bergerak pelan. Lambat tapi pasti menangkap suara derik jangkrik bersahutan namun jauh dari bangku saya.  Saya serasa berada di rumah nenek di pedesaan di mana dengan mudah bertemu dan ditemukan satwa eksotik namun tidak berbahaya. Pohon dengan rapi memang menaungi dari beberapa sudut kebun. Adem kalau orang jawa bilang.

Deretan tanaman eksotik. Doc:Pribadi
Deretan tanaman eksotik. Doc:Pribadi
Sudah terhitung enam pasang kaki mungil yang saya perhatikan berlalu-lalang melewati setiap meja. Wajah terulas senyum bahkan gigi yang baru berjumlah dua juga terlihat. Yang paling menyenangkan adalah saat angin yang menguar bersama mereka, lalu menghadirkan  aroma minyak telon. Saya teringat keponakan yang masih beraroma serupa setelah mandi. Saya kemudian sibuk membolak-balik daftar menu tanpa kuliner fusion, dan tampaklah pengenalan bahasa internasional juga diterapkan. Beberapa sahabat belum juga menyambangi meja.

Daftar menu. Doc:Pribadi
Daftar menu. Doc:Pribadi
Di salah satu sudut kebun beratap langit serta dinaungi kerlip bintang (saya menjumpainya saat senja sudah larut),  dengan jenakanya balita berbincang dengan wanita yang memeluknya. Sekali-kali saya melihat ujung hijabnya ditarik untuk menarik perhatian. Dalam hitungan menit selanjutnya, 20 dari 150 bangku kayu dilapisi cat putih yang tersedia, sudah dihuni beberapa balita yang lain, tentu beserta orangtua masing-masing. Saya kemudian berpindah di meja di mana para sahabat melambaikan tangan tanda kedatangan.

Sabtu sore, 2 September 2017 memang cabang kedua dari Nanamia Mozes Gatotkaca sedikit berbeda menurut mas Tomi yang menjadi marketing.  Saya yang memang baru pertama kali menapakan jejak di areal kebun beraroma buah tersebut, namun memang mendapati perbedaan dengan foto di dunia maya. Saya mendengar kalau suami dari pemilik restouran bintang tiga ini berasal dari Jerman, dan sudah mendarah daging menjadi koki. Wahidnya aktor gaek tapi tetap seksi yaitu George Clooney sudah pernah menikmati masakannya. Mantap

Suasana saat senja. Doc:Pribadi
Suasana saat senja. Doc:Pribadi
Balon serupa pelangi, pita senada,  kertas tertera huruf membentuk kalimat, "Happy Birthday," dengan brosur bertuliskan angka 10 menghiasi langit-langit bangunan utama. Guratan pastel tebal dengan berbagai gradasi warna juga terbingkai rapi. Rupanya mereka adalah hasil coretan indah dari siswa SD Internasional yang memang beraktifitas di Nanamia. Saya sempat mengajak para sahabat bermain tebak letak Negara Italia di peta yang menyatu dengan dinding di samping panggung kayu. Mungkin permainan tersebut dengan mudah oleh anak-anak SD, sayangnya saya harus membuka gawai terlebih dahulu. Ha ha.

Lukisan siswa SD. Doc:Pribadi
Lukisan siswa SD. Doc:Pribadi
Saat beberapa pelita kecil dalam gelas mungil sudah menerangi barisan meja, saya melihat para balita sudah digendong pulas. Anehnya tak ada tangisan yang biasanya kerap terdengar bila keluarga besar mengadakan jamuan makan di restoran yang ramai. Saya melihat ada tujuh kursi khusus balita yang tersedia. Fokus dengan kebutuhan pelanggan dengan usia dini ternyata.

Kurssi balita. Doc:Pribadi
Kurssi balita. Doc:Pribadi
 Sayang gawai urung mengabadikan kepulasaan mereka. Sepiring Canneloni ai Spinaci menjadi alasan utama, entah kenapa saya gampang tergoda dengan menu masakan italia dengan bahan utama bayam. Apalagi mas Tomi dengan semangatnya menjelaskan semua sajian menu dijamin kesegaran dan kualitasnya. Ibu juga sering mengolah bayam dalam bentuk masakan lain, jauh sebelum kembali ke rumah pencipta.

Canneloni ai Spinaci . Doc: Ang Tek Khun
Canneloni ai Spinaci . Doc: Ang Tek Khun
Sebelum adegan menikmati sepuluh menu dari 100 menu yang terdapat di daftar hidangan, saya, dan para sahabat berkesempatan diskusi dengan sepasang pemilik restoran bintang tiga tersebut. Saya agak ragu bisa disebut berdiskusi, karena dua jam terlewati lebih banyak ditemani oleh canda, tawa dari wanita Jogja lulusan arsitektur UGM yang sudah melalang buana 20 tahun di Eropa tersebut. Berbicara santai ditemani suami di depan 10 penulis bukanlah hal yang mudah bagi pribadi yang mengklaim dirinya pemalu. Selamat dan terima kasih atas kesediaannya.

Kedua pemilik restorant. Doc:Pribadi
Kedua pemilik restorant. Doc:Pribadi
Syukurlah, banyak ilmu tentang bisnis plus dari Bu Nana, dan Pak Mattias yang sudah terekam di ingatan maupun di catatan gawai. Termasuk cerita kasih pertemuan merekadi kampus biru di mana pak Mattias juga tercatat sebagai mahasiswa, yang mengawali suksesnya perjalanan Nanamia Pizzeria. Mereka memakai seragam yang sama dengan 85 karyawan (dibagi antara Nanamia Mozes dan Tirtodipuran) kecuali tanpa celemek dan Walkie Talkie. Sentuhan tehnologi yang memang memudahkan komunikasi untuk kepuasan pelanggan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun