Mohon tunggu...
Ronny Rachman Noor
Ronny Rachman Noor Mohon Tunggu... Lainnya - Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Ketika Bumi Semakin Panas

7 Februari 2019   09:23 Diperbarui: 7 Februari 2019   14:40 1509
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tiga bencana alam yang mencatat rekor kerugian terbesar adalah Hurricanes Michael (US $25 milyar), Hurricane Florence (US $24 milyar) dan kebakaran hutan di wilayah Eropa  (US$24 milyar).

Bagaimana menahan laju peningkatan suhu?

Para pakar dunia berpendapat bahwa kecenderungan peningkatan suhu ini dapat diperlambat dengan cara mengurangi  emisi gas rumah kaca seperti CO2  dan adaptasi iklim.

Peran CO 2 dalam peningkatan suhu ini tidak dapat dibantah karena di tahun 2018 lalu dicatat merupakan tahun akumulasi gas CO2 tertinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebagai akibat pembakaran bahan bakar berbasis fosil dan juga kebakaran hulan.

Di level pengambil kebijakan langkah konkrit yang harus diambil oleh pemerintah adalah perubahan kebijakan penggunaan  energi, penggunaan lahan, penataan kota serta industri yang lebih ramah lingkungan.

Dalam melakukan hal ini tentunya diperlukan  persetujuan dan partisipasi negara di dunia terutama negara penghasil gas rumah kaca papan atas. 

Pertemuan yang diprakarsasi oleh the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di Korea Selatan  yang dihadiri para peneliti, wakil pemerintah  berbagai negara akhir tahun lalu yang mengangkat fenomena pemanasan bumi ini dapat dianggap sebagai pemicu langkah nyata negara di dunia untuk bekerja sama mengurangi laju pemanasan bumi.

Tantangan

Dalam menahan laju pemanasan bumi ini, di level negara situasinya menjadi semakin rumit ketika Amerika di bawah pemerintahan Donald  Trump menarik dari dari Paris Agreement.  Penarikan diri Amerika sebagai salah satu negara penghasil gas emisi rumah kaca terbesar memang menjadi ganjalan dalam upaya dunia  melakukan upaya bersama menahan laju peningkatan suhu.

Bahkan ketika Amerika dilanda suhu ekstrim akibat polar vortex yang mengakibatkan suhu di sebagian wilayah Amerika mencapai -60 oC, Trump masih bertahan pada argumentasinya.

Ketidak percayaan Trump terhadap cuaca ekstrim akhir  akhir ini tercermin dari tweet Trump berikut:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun