HEADLINE

Dampak Negatif Internet dalam Keseharian Siswa SD

02 Desember 2013 04:42:48 Diperbarui: 07 Desember 2015 02:50:24 Dibaca : 1276 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
Dampak Negatif Internet dalam Keseharian Siswa SD
1385923905593061296

Suasana diskusi IDKita Kompasiana di SD Ar-Rahman, Senin (25/11).

 

"Kak, saya baru sekali ketemuan langsung sama kenalan di Facebook. Entar ditulisnya cukup satu aja kan?" "Kak, akun Fb saya di-hack teman gara-gara ga mau kasih chips poker. Terus gimana." "Kak, saya di rumah cuma main game smack down. Jawabannya satu aja ga apa-apa kan?"

Itu tiga dari beberapa pertanyaan yang sering saya dengar dari sebagian pelajar yang mengisi angket saat mengikuti acara IDKita Kompasiana bekerja sama dengan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di SD Ar-Rahman Motik, Jakarta, Senin (25/11) lalu bersama dua Kompasianer, Tovano Valentino dan Chia Varisha yang didukung salah satu provider ternama di Indonesia, Indosat.

Sebenarnya, pertanyaan itu sepele, karena terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, menjadi tidak sepele jika mengingat yang menanyakan adalah anak-anak yang masih berusia 9-11 tahun. Ya, sisi lain dari teknologi yang negatif telah merambah kepada mereka yang saat ini masih sekolah dasar kelas 5 dan 6 tersebut. Khususnya mengenai game online dan jejaring sosial yang seharusnya belum layak dilakukan.

Sebelumnya, Kompasianer Deasy Maria sempat menyinggung tentang sebagian besar siswa yang terbiasa melihat konten porno di internet. Tidak dapat dimungkiri, bahwa konten porno, game yang mengandung kekerasan, atau jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter bisa berdampak negatif bagi pelajar yang masih belia. Itu diungkapkan Kepala Sekolah SD Ar-Rahman Motik, Yuma Yahya, yang mengakui beberapa sisi negatif penggunaan internet juga merambah pada sebagian besar siswanya.

"Kami di sini berusaha untuk membentengi mereka dengan melakukan edukasi mengenai dampak negatif dari jejaring sosial, game online, dan sebagainya. Tapi, kemampuan tenaga pendidik di sini terbatas, mengingat waktu anak di sekolah paling lama enam jam. Sementara, sisanya lagi mereka di rumah yang tentunya menjadi peran dari Orangtua masing-masing. Untuk itu, kami sangat senang, jika ada program IDKita-Kompasiana seperti ini," ujar Yahya, pekan lalu.

*      *      *

Apa yang diungkapkannya itu beralasan. Sebab, di sekolah memang, anak-anak menjadi tanggungan para guru. Namun, jika di rumah, itu sudah menjadi tanggungan dari Orangtua atau keluarga masing-masing. Meski, pihak sekolah tentu tidak menutup mata terhadap perkembangan internet yang memengaruhi anak-anak tersebut.

Saya sendiri awalnya heran dengan penuturan beberapa siswa-siswi tersebut yang ternyata sudah akrab dengan perilaku negatif di internet. Beruntung, dalam diskusi  pekan lalu itu, Valentino yang sehari-harinya dosen sekaligus bergelut di bidang teknologi dan Chia sebagai pegiat media, dengan lancar menerangkan dampak positif dan negatif dari internet serta memberi solusinya kepada puluhan siswa SD Ar-Rahman. Termasuk mengenai cyberbullying atau kekerasan di dunia maya terhadap mereka.

Meski dalam diskusi tersebut, Valentino dan Chia sempat kaget dengan tingkah-laku anak yang bertindak semau-gue. Pasalnya, ketika kedua penggawa yang aktif di IDKita-Kompasiana itu sedang memberikan penjelasan. Eh, beberapa siswa malah ada yang mengobrol, tiduran, bernyanyi, sampai main kapal-kapalan terbang dari kertas.

Meski begitu, beberapa di antara siswa dan siswi itu mengakui pernah mengalami cyberbullying, baik melalui jaring sosial di Facebook atau aplikasi chat seperti Yahoo Messenger (YM). "Begitulah cara menghadapi anak-anak. Kita harus sabar agar mereka memahami apa yang kita sampaikan itu bermanfaat.

Intinya, dalam diskusi dengan mereka, kita harus menyampaikan sesuatu dengan pendekatan berbeda. Termasuk memutar cuplikan video anak-anak yang bertema edukatif. Itu sangat ampuh untuk membuat mereka antusias dan menangkap penjelasan yang kita sampaikan," kata Valentino.

"Ada beberapa dari mereka yang terlihat nakal, tapi sebenarnya cerdas. Apalagi, siswa-siswi ini memang yang masih polos. Jadi, tergantung bagaimana kita menghadapinya," Chia menambahkan, sambil memperlihatkan lembaran angket siswa yang menuliskan kalimat menggelitik mengenai, jenis kelamin: Menurut lo.

*      *      *

 

13859239531434887588
13859239531434887588
Valentino mengajukan pertanyaan game apa yang sehari-harinya dimainkan bagi siswa-siswi tersebut.

*      *      *

 

1385923987891395094
1385923987891395094
Pemaparan kebiasaan anak saat menggunakan gadget yang membuat siswa-siswi kaget karena merasa ketahuan.

*      *      *

 

1385924025980391366
1385924025980391366
Chia saat menjelaskan tentang dampak negatif internet.

*      *      *

 

1385924057240461484
1385924057240461484
Yang menulis jawaban jenis kelamin di angket ini padahal termasuk siswi yang pendiam dan cerdas.

*      *      *

 

13859240911113247591
13859240911113247591
Diskusi lanjutan bersama Orangtua siswa dan siswi kelas 5 dan 6

*      *      *

*      *      *

Sebelumnya

- Sebagian Besar Siswa SD Sudah "Biasa" Melihat Konten Porno di Internet

- Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online

- Rekam Jejak Satu Tahun IDKita Kompasiana

*      *      *

Foto-foto koleksi pribadi (www.kompasiana.com/roelly87)

- Jakarta, 2 Desember 2013

Choirul Huda

/roelly87

TERVERIFIKASI

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana