Reza Nurrohman
Reza Nurrohman

manusia yang terus bertumbuh. tidur dan makan adalah hal yang lebih menyenangkan sebenarnya namun berkerja merupakan kewajiban saya

Selanjutnya

Tutup

Curhatan Mbah Putri Pagi Tadi

19 Juni 2017   16:50 Diperbarui: 19 Juni 2017   17:17 184 0 0
Curhatan Mbah Putri Pagi Tadi
2787332-640px-59479e42719773d067ae147e.jpg

 

Selepas sahur dan sholat subuh pukul 5 pagi tadi, saya berkesempatan berbincang dengan adik dari nenek saya, mbah Putri saya yang kebetulan namanya juga putri mungkin karena ia anak terakhir dari sisa generasi tertua di keluarga besar saya. Percakapan ini begitu personal, semacam pertukaran kata dan makna antar generasi berbeda di pagi hari, ketika waktu rehat sedang begitu serius menggoda berkali-kali. mbah Putri saya ini, adalah sejenis wanita yang tak mengenal curhat karena kesibukanya sebagai pedagang pasar, tentu saja ketika ia bercerita tentang kegelisahannya, adalah suatu kedurhakaan jika tidak diberi atensi seratus persen. Kesempatan mbah Putri bisa bercerita hanya menjelang lebaran dimana karena umurnya yang semakin tua ia lebih memilih tinggal beristirahat di rumah keluarga besar.


Wanita ini, mbah Putri saya, baru saja kehilangan suaminya beberapa bulan yang lalu. Suaminya meninggal dunia karena penyakit stroke. Walaupun semua bisa menduga penyakit ini tak akan pernah berakhir manis, tetapi kepergiannya tetap saja diringi tangis yang ritmis. Tak terkecuali pada mbah Putri saya itu. Bahkan, hingga beberapa bulan, sedihnya tampaknya belum berjeda. Masih terasa pada malam itu, malam perbincangan di antara dua orang itu antara nenek dan cucu.


Ia membukanya dengan perasaan heran. Mengapa rasanya begini dan begitu. Ia merasa kosong yang tak tertolong. Ia, wanita itu, sudah melewati usia pernikahan perak sebagai  suami istri lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu dan ia pikir di usia setua itu, peristiwa bernama “ditinggal mati suami” tidak akan menyisakan melankoli bernama sepi. Lalu pada titik ini ia kecewa, ia salah.


Asumsi ini tentu saja bermula dari fakta yang tak terelakkan bernama pisah ranjang yang telah terjadi bertahun-tahun. Hal ini tentu saja bukan karena ada cekcok di antara mereka. Ini hanya masalah “ikhtiar” terkait penyakit stroke yang diderita, lain tidak. Ia, wanita itu, berpikir durasi tidur di kamar yang berbeda akan membuat rasa itu tak lagi terlampau kuat sehingga jika satu di antara dua pergi terlebih dahulu, sedih tak perlu terlampau sangat. Dan sekali lagi, pada sudut pikiran seperti ini, ia tak bisa menyangkal, ia terjegal.


Pada dua orang yang hidup bersama, ada semacam pembagian yang tak disadari. Mulai habitus seperti: ada yang menimba air di sumur dan ada yang membilas cucian harian selepas salat Subuh ditegakkan, ada yang menutup jendela dan ada yang membakar obat nyamut ketika senja mulai mengendap, ada yang memasang kelambu dan ada yang mematikan lampu ketika mata ingin menyatu. Atau hal-hal yang lebih halus, bantahan yang sudah terterka, pilihan warna baju ketika pergi ke undangan pernikahan, atau perihal langkah kaki yang harus diatur kecepatannya agar bisa berjalan dalam nada yang sama.


Dan pada pembiasaan seperti ini dunia dihadapi bersama, detik dijalani bersama, beban diangkat bersama. Lalu jika salah satu telah berlalu, dunia serasa dua kali lebih kejam, detik serasa dua kali lebih tajam, beban serasa dua kali lebih lembam. Dan sejatinya dunia, detik, dan beban tak pernah benar-benar berubah. Yang berubah adalah tiada lagi kata “bersama”. Dan pada momen ini, frase “kehilangan separuh jiwa” menemukan maknanya, tidak dalam arti konotatif, ia berdiri dengan jumawa pada spektrum denotatif.


Lalu aku membayangkan Aisyah binti Abu Bakar yang kehilangan seorang pria bernama Muhammad. Pria yang pada beberapa titik krusial hidupnya lebih menyerupai kakak laki-laki, alih-alih suami. Kehadiran kakak laki-laki yang tak pernah benar-benar genap dalam catatan hidupnya dilengkapi dengan gilang-gemilang oleh pria ini. Menemaninya bermain dalam usianya yang masih remaja hingga menjelang dewasa. Hingga menyerahkan semua informasi yang ia miliki untuk wanita ini sehingga ia kemudian dikenal luas sebagai intelektual wanita muslim pertama sekaligus kenaikan status sosial sebagai istri nabi dan ibu kaum muslimin. Lalu pria ini pergi begitu saja, tanpa memberi kesempatan kepada Aisyah membuktikan bahwa janji memberikan keturunan adalah nyata.


Dalam bayangan saya, Aisyah adalah perempuan yang cukup dengan sebuah janji ia akan berikan apapun yang ia miliki. Perihal apakah nanti suatu ketika janji ini akan sampai pada realita, ia tak terlampau berhasrat ikut menikmati. Pada perempuan jenis ini adakah perasaan lain yang lebih pantas ketika ia pergi selain terhempas. Saya kira tidak.


Lalu Ia, yang kita kenal dengan Allah, yang kita kenal dengan yang mahapengasih, yang mahapenyayang, tak pernah membuat sebuah takdir layaknya di dongeng-dongeng masa kecil kita untuk perempuan bernama Aisyah. Singkatnya Aisyah tidak menemui episode happily ever after bersama Muhammad di dunia sebagaimana yang diimpikan wanita pada umumnya seperti menikah lalu mempunyai keturunan serta membesarkan anak bersama. 


Ia, yang kita kenal dengan Allah, yang kita kenal dengan mahaperkasa, yang mahamengetahui, tak tiba-tiba membolak-balik hati Aisyah sehingga tak perlu merasa dunia sedemikian pelik. Ia juga tak pernah menciptakan hati manusia bernama Aisyah tahan dari kesedihan model ini.  Mungkin ia selalu menjadi ikhtiar yang terus-menerus, selalu berpendar berganti-ganti antara menangkap-melepas harap-cemas.




Nasib Mbah Putri saya mungkin mirip Aisyah yang ditinggal suami tanpa sempat memiliki keturunan sehingga dia menganggap kami anak dan cucu dari keponakan dan kakak-kakanya sebagai kandung sendiri.